Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Gencatan Senjata Israel-Iran Berlaku, Warga Dunia Bisa Tarik Napas Lega

KAMIS, 26 JUNI 2025 | 09:34 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Setelah 12 hari konflik yang menewaskan puluhan warga Israel dan ratusan orang di Iran, gencatan senjata antara Israel dan Iran akhirnya mulai berlaku pada Rabu, 25 Juni 2025 waktu setempat. 

Namun, di balik harapan akan meredanya ketegangan, muncul kekhawatiran baru terkait ancaman nuklir yang semakin mencuat dari pihak Iran.

Gencatan senjata ini dimediasi oleh pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, yang bahkan secara pribadi ikut campur pada hari Selasa, 24 Juni 2025 ketika kesepakatan sempat nyaris gagal sebelum diberlakukan. 


Penerapan gencatan senjata membuat Komando Front Dalam Negeri Israel mencabut seluruh pembatasan pergerakan, serta membuka kembali Bandara Internasional Ben Gurion untuk penerbangan komersial.

Kehidupan perlahan kembali normal. Toko dan restoran buka, warga Israel kembali memadati pantai-pantai Tel Aviv, yang sebelumnya kosong akibat serangan rudal Iran dan serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran.

Kedua pihak mengklaim kemenangan. Seorang juru bicara militer Israel menyatakan bahwa serangan terhadap Iran telah membuat program nuklir mereka mundur bertahun-tahun.

Sementara Presiden Trump mengatakan di sela pertemuan puncak NATO di Belanda bahwa pekerjaan pengayaan Iran ditunda pada dasarnya puluhan tahun.

Namun, pernyataan itu bertolak belakang dengan laporan intelijen militer AS yang bersifat rahasia. Menurut tiga sumber yang dikutip CBS News, kemampuan nuklir Iran hanya terhambat selama beberapa bulan dan tidak sepenuhnya dihancurkan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi militer sebagai pencapaian strategis besar.

“Kami telah menghilangkan ancaman pemusnahan oleh senjata nuklir,” ujar Netanyahu dalam pernyataan video. Meski begitu, ia tidak merinci dampak spesifik terhadap program nuklir Iran.

Presiden Trump pun menyampaikan pernyataan keras lainnya.

“Iran tidak akan memiliki bom, dan mereka tidak akan memperkaya,” tegasnya. 

Sementara itu, Iran mempromosikan serangan balasannya, termasuk terhadap Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar yang dihuni ribuan tentara AS, sebagai bentuk kemenangan meskipun seluruh rudal mereka gagal mencapai sasaran.

Lebih mengkhawatirkan lagi, parlemen Iran memutuskan untuk mempercepat pengesahan proposal yang menghentikan seluruh kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyusul kecaman badan itu terhadap kurangnya transparansi Iran dalam program nuklirnya.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengecam IAEA karena menolak untuk berpura-pura mengutuk serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.

"Badan energi atom nasional akan menangguhkan kerja sama dengan IAEA hingga keamanan fasilitas nuklir terjamin, dan program nuklir damai Iran akan bergerak maju dengan kecepatan yang lebih cepat," tegasnya. 

Namun, keputusan parlemen tersebut masih harus mendapat persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk diberlakukan secara resmi. Hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa Khamenei telah menyetujuinya.

Ketidakpastian mengenai efektivitas gencatan senjata dan status program nuklir Iran membuat sebagian warga Israel tetap waspada. Roy Meiri, seorang mahasiswa kedokteran, mengungkapkan rasa tidak pastinya.

“Saya masih tidak tahu, karena saya tidak benar-benar tahu kerusakan nyata yang kami lakukan kepada mereka di sana,” kata Meiri.

Meski begitu, suasana di Israel jauh lebih tenang dibandingkan dua minggu terakhir. Semua pembatasan masa perang telah dicabut, dan aktivitas sekolah kembali berjalan di seluruh penjuru negeri. 

Setidaknya untuk saat ini, gencatan senjata memberi ruang bernapas bagi warga yang dilanda kecemasan berkepanjangan.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya