Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Bela Negara dan Kesadaran Berbangsa

Oleh: Syurya M. Nur*
SENIN, 12 MEI 2025 | 13:50 WIB

DI tengah derasnya arus informasi digital yang tanpa filter, kebebasan berpendapat telah menjadi ruang ekspresi yang dimaknai secara serampangan oleh sebagian pihak. Kritik terhadap negara seringkali bergeser menjadi caci maki tanpa dasar, disertai hoax dan ujaran kebencian yang merusak sendi demokrasi. Fenomena ini mencerminkan krisis kesadaran bernegara, saat sebagian warga merasa merdeka tanpa batas namun lupa akan tanggung jawab konstitusionalnya sebagai warga negara.

Padahal, dalam konsepsi negara modern, individu bukanlah entitas bebas tanpa ikatan. Jean-Jacques Rousseau melalui karyanya The Social Contract (1762) telah menegaskan bahwa dalam tatanan masyarakat, setiap individu menyerahkan sebagian kebebasannya kepada negara demi terciptanya ketertiban bersama.

Dalam konteks Indonesia, prinsip ini tercermin jelas dalam Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara". Dengan demikian, hak dan kewajiban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.


Lebih jauh, gagasan Civic Republicanism yang dikembangkan oleh Michael Sandel (1996) menempatkan warga negara sebagai subjek aktif dalam menjaga kepentingan bersama, bukan hanya sebagai penikmat hak-hak individu.

Partisipasi publik dalam kehidupan bernegara haruslah disertai tanggung jawab moral dan etika, termasuk dalam menyampaikan kritik. Demokrasi bukan berarti bebas menghina negara atau simbol-simbolnya, melainkan memberi ruang bagi dialog yang konstruktif dan berbasis data. Di sinilah nilai bela negara perlu ditanamkan sebagai kesadaran kolektif, bukan semata sebagai instruksi dari negara kepada rakyatnya.

Sementara itu, Anthony D. Smith dalam National Identity (1991) menggarisbawahi bahwa kesadaran kebangsaan terbentuk dari sejarah kolektif, simbol nasional, dan pengalaman bersama sebagai sebuah bangsa. Sayangnya, realitas hari ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat, terutama generasi muda kian jauh dari narasi kebangsaan tersebut. Akibatnya, identitas nasional yang semestinya menjadi kekuatan pemersatu berubah menjadi sesuatu yang rapuh dan mudah terfragmentasi oleh isu-isu sektarian.

Pada kerangka hukum nasional, komitmen terhadap bela negara diatur secara tegas dalam berbagai regulasi. Berdasarkan UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menegaskan bahwa bela negara adalah hak sekaligus kewajiban setiap warga negara. Hal ini dipertegas dalam Pasal 9 ayat (1) yang menyatakan bahwa upaya bela negara diselenggarakan melalui pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran, pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau wajib, serta pengabdian sesuai dengan profesi.

Lebih rinci lagi, Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Kesadaran Bela Negara memberikan pedoman teknis bagi seluruh instansi pemerintah dan masyarakat sipil dalam memperkuat kesadaran tersebut di berbagai sektor kehidupan.

Tak hanya itu, Tap MPR RI Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa turut menekankan pentingnya etika dalam bermedia, berpendapat, dan berperilaku sebagai warga negara. Kebebasan berekspresi memang dijamin, tetapi tidak boleh menabrak nilai-nilai kebangsaan, hukum, dan keutuhan sosial.

Sebabnya, dalam situasi di mana kebebasan kadang melampaui batas, penting bagi kita semua untuk menghidupkan kembali semangat bela negara dan kesadaran bernegara. Pendidikan kewarganegaraan dan karakter berbangsa di sekolah, literasi digital berbasis nilai Pancasila, serta narasi publik yang positif terhadap peran negara harus diperkuat secara sistemik. Membangun Indonesia bukan semata tugas pemerintah, tetapi panggilan tanggung jawab setiap anak bangsa.

Menjadi warga negara bukan hanya soal menikmati hak, tetapi juga menjalankan kewajiban. Dan membela negara bukan hanya tentang mengangkat senjata, tetapi tentang menjaga integritas, menyebar informasi yang benar, menghargai perbedaan, dan setia pada nilai-nilai kebangsaan.

*Penulis adalah Anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Provinsi DKJ dan Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta.

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

Pujian Anies ke JK Benamkan Ade Armando Cs

Senin, 18 Mei 2026 | 04:20

UPDATE

Perkuat Inovasi, Anak Usaha Pertamina Sabet Penghargaan CCSEA Enam Kali

Sabtu, 23 Mei 2026 | 00:19

Tio Aliansyah Diadukan ke DKPP Gegara Ikut Helikopter Bareng Anggota KPU

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:55

Legislator Kebon Sirih Ingin jadi Batman Benahi Gotham City

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:35

173 Bandit Jalanan di Jadetabek Sukses Diringkus Polisi

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:15

Kejagung Didesak Bongkar Pihak Terkait Bos Tambang di Kalbar Tersangka Korupsi

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:53

Tata Kelola RSUD dr Soedarso Disorot, Utang Pengadaan Obat Tembus Rp29 Miliar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:49

Energy AdSport Challenge Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:47

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Komisioner Pertamina: Perempuan Jangan Takut Masuk Dunia STEM

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:15

Fraksi PKB Bakal Panggil Kapolda dan Kajati Kalbar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:12

Selengkapnya