Berita

Tim penyelamat dari Tiongkok tiba di Bandara Internasional Yangon Myanmar pada Sabtu, 29 Maret 2025/Net

Dunia

Daftar Negara yang Sigap Kirim Bantuan ke Myanmar Pasca Gempa Dahsyat

MINGGU, 30 MARET 2025 | 15:20 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo di Myanmar terus bertambah. 

Pemerintah militer Myanmar mengonfirmasi bahwa hingga Sabtu, 29 Maret 2025 jumlah korban tewas mencapai 1.644 orang, dengan ribuan lainnya terluka dan puluhan masih dinyatakan hilang.

Gempa dahsyat yang mengguncang Myanmar pada Jumat siang itu diikuti oleh 77 gempa susulan, termasuk satu gempa berkekuatan 6,4 magnitudo. Getarannya bahkan terasa hingga Bangkok, Thailand, menyebabkan 10 orang tewas.


Di tengah upaya penyelamatan yang masih berlangsung, beberapa negara telah mengirimkan bantuan dan tim penyelamat untuk membantu Myanmar dalam menghadapi dampak bencana ini.

Rusia Kirim Tim Medis dan Penyelamat

Rusia menjadi salah satu negara yang bergerak cepat dalam memberikan bantuan. Kementerian Kesehatan Rusia mengirim tim medis yang terdiri dari spesialis penyakit menular, resusitasi, dan traumatologi. 

Selain itu, dua pesawat yang membawa petugas penyelamat Rusia telah mendarat di Yangon, kota terbesar di Myanmar.

Menurut Alexey Kuznetsov, pejabat Kementerian Kesehatan Rusia, tim ini akan memberikan perawatan bagi korban gempa. 

Kementerian Darurat Rusia juga menyatakan bahwa tim penyelamat mereka dilengkapi dengan peralatan canggih seperti perangkat akustik dan endoskopi untuk mencari korban di bawah reruntuhan hingga kedalaman 4,5 meter.

Hong Kong Kirim Tim SAR dan Peralatan Canggih

Hong Kong turut mengirimkan bantuan berupa 51 personel pencarian dan penyelamatan yang terdiri dari petugas pemadam kebakaran, personel ambulans, serta dua anjing pelacak. 

Tim ini membawa sembilan ton peralatan termasuk detektor kehidupan, mesin pemotong batu, serta sistem antena pelacak satelit otomatis yang dapat menyediakan koneksi jaringan dalam kondisi darurat.

Tiongkok Janjikan Dana Bantuan Rp228 Miliar 

Seorang juru bicara Badan Kerjasama Pembangunan Internasional Tiongkok mengatakan bahwa Beijing akan memberikan Myanmar 100 juta yuan atau Rp228 miliar dalam bentuk bantuan kemanusiaan darurat untuk upaya pemulihan pascagempa.

Tim penyelamat tambahan yang terdiri dari 82 orang meninggalkan Beijing, beberapa jam setelah tim tanggap darurat lain dari provinsi Yunnan di Tiongkok, yang berbatasan dengan Myanmar, tiba di negara yang dilanda gempa.

Selain itu, 16 anggota regu bantuan sipil Tiongkok, Tim Penyelamat Langit Biru di kota Ruili, Yunnan, berangkat ke Kota Muse di Myanmar utara untuk membantu upaya pemulihan.

Pihak berwenang Tiongkok juga mengirimkan gelombang pertama yang terdiri dari 80 tenda dan 290 selimut.

Gempa bumi terasa di beberapa bagian provinsi Yunnan di Tiongkok, meskipun korban jiwa terbatas. Dua orang di Ruili menderita luka ringan dan 847 rumah rusak, menurut pihak berwenang. 

Beberapa gedung tinggi dan rumah-rumah tua di daerah perkotaan juga rusak sebagian, tetapi pasokan listrik dan air serta jalur transportasi dan komunikasi telah dipulihkan.

Selandia Baru kirim Palang Merah

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengatakan bahwa pemerintahnya akan mendukung upaya bantuan melalui Gerakan Palang Merah Internasional.

"Pikiran kami bersama semua orang yang telah kehilangan orang yang dicintai, dan kepada semua orang yang terkena dampak," tulis Peters di X.

Korea Selatan sumbang Rp33 miliar

Korea Selatan akan mengirimkan bantuan melalui organisasi internasional sebesar 2 juta dolar AS atau Rp33 miliar untuk mendukung upaya pemulihan setelah gempa bumi baru-baru ini.

Kementerian Luar Negeri menyatakan pada hari Sabtu, 29 Maret 2025 bahwa Seoul akan memantau situasi dengan saksama dan mempertimbangkan dukungan tambahan jika diperlukan.

PBB Alokasikan Dana Bantuan

Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga telah mengalokasikan dana sebesar 5 juta dolar AS dari Dana Tanggap Darurat Pusat untuk bantuan kemanusiaan di Myanmar. 

OCHA melaporkan bahwa gempa ini menyebabkan gangguan besar pada infrastruktur, termasuk jaringan komunikasi, pasokan listrik, dan air bersih di beberapa wilayah, termasuk Yangon.

Di tengah situasi darurat ini, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) Myanmar, yang merupakan oposisi terhadap junta militer, mengumumkan gencatan senjata sebagian selama dua minggu. Langkah ini bertujuan untuk memfasilitasi upaya bantuan kemanusiaan di daerah yang terdampak gempa. 

Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), sayap bersenjata NUG, akan menunda operasi militer ofensif di wilayah-wilayah terdampak dan bekerja sama dengan PBB serta organisasi non-pemerintah dalam mendistribusikan bantuan.

Dampak gempa juga menyebabkan runtuhnya menara kontrol lalu lintas udara di Bandara Internasional Naypyitaw, seperti yang terlihat dalam foto satelit dari Planet Labs PBC. 

Kerusakan ini diperkirakan akan mengganggu lalu lintas udara di Myanmar, mengingat peralatan elektronik dan radar bandara turut terdampak.

Dengan banyaknya bantuan internasional yang masuk, diharapkan proses evakuasi dan pemulihan dapat berjalan lebih cepat untuk membantu ribuan korban yang terdampak oleh bencana ini.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya