Berita

Ilustrasi Prabowo Subianto dan rakyat kecil.

Publika

Prabowo Sang Revolusioner, Habis Gelap, Terbitlah Terang

RABU, 19 FEBRUARI 2025 | 12:00 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

MEDIA Inggris BBC-Indonesia membahas soal "Prabowo sebut 'ndasmu' terhadap pengkritiknya", kemarin. Berbagai analisa pakar dimasukkan dalam tulisan tersebut, seperti Prabowo anti kritik, bicara kekanan-kanakan, ngomong "ndasmu" tidaklah lucu, dll. Tulisan ini terkait kritikan orang atas MBG (makan bergizi gratis), kabinet gemuk dan cawe-cawe Jokowi.

Pada saat bersamaan mahasiswa se-Indonesia (BEM SI) turun kejalan diberbagai kota meneriakkan yel-yel "Lawan Prabowo!". Mereka menuntut adili Jokowi, batalkan Inpres efisiensi anggaran, transparansi pembangunan dan MBG, dan tolak dwifungsi TNI.  Aksi sebesar ini memberi pertanyaan, "ada apa rezim se usia jagung sudah di demo?"

Ada 3 hal yang perlu kita dalami melalui fenomena kritik terhadap Prabowo tersebut. Kenapa terlalu cepat gerakan anti Prabowo? Pertama, basis analisis yang salah. Kedua, adanya kelompok kontra revolusioner dan ketiga, perlunya "barisan ideologis Prabowo".


Sebagian intelektual menganalisis secara salah. Basis analisis yang salah terjadi ketika Prabowo melakukan pemujian pada Jokowi (teriakan Hidup Jokowi!), ucapan "Ndasmu" dan rencana penempatan Jokowi pada Danantara (badan aset raksasa) dianggap sebagai substansi. Padahal  analisis berbasis material menunjukkan bahwa semua kebijakan Prabowo selama ini kontra 180° terhadap Jokowi.

Kaum cendikiawan strukturalis sejak lama melihat fenomena berbasis fakta material. Artinya ada fenomena ekonomi di dalamnya. Ada pilihan pemihakan. Dalam kasus Prabowo, apapun yang jadi kebijakannya selama ini jelas dan terang benderang mematahkan dominasi oligarki alias konglomerat rakus, yang selama ini berkuasa.

Pada tahun 2018, misalnya, ketika saya di minta Anies Baswedan menggalang kekuatan anti Reklamasi Pantai Utara Jakarta, gerakan ini gagal. Itu setelah saya menggalang alumni ITB, UI dan IPB mengadvokasi buruknya reklamasi Pantai Utara Jakarta itu. Karena Jokowi dan rezimnya mendukung reklamasi, kekuatan Anies tidak mampu berbuat banyak.

Di era Prabowo Subianto, belum seratus hari umur kekuasaan dia, 30 km panjang pantai Utara Tangerang yang mau dirampok oligarki hancur berantakan. Prabowo mengerahkan berbagai unsur kementeriannya mencabut izin pagar laut. Bahkan, terkahir memerintah tentara mengambil kembali pantai yang mau dirampok itu.

Kebijakan Prabowo lainnya terlalu banyak untuk disaksikan sebagai perang struktural. Baik mengalokasikan uang pada puluhan juta anak-anak miskin untuk makan gratis, pengambilalihan kebun sawit ilegal jutaan hektar, pembubaran Judi Online, memvonis berat koruptor, dll serta terkahir akan mencekik leher pengusaha jahat yang sering menipu petani.

Dalam pendekatan analisis berbasis material, kaum strukturalis mampu menjelaskan bahwa kebijakan Prabowo ini bukan saja berpihak pada rakyat miskin, tapi lebih jauh lagi menyatakan perang pada kaum oligarki. Sebaliknya kaum humanis dan cengeng, selalu berlindung pada isu-isu kebebasan yang manipulatif.

Selanjutnya, soal adanya kaum kontra revolusioner. Dalam sejarah perjuangan struktural, seperti yang dilakukan Prabowo, tentu banyak pihak yang terganggu kepentingannya. Ketika Prabowo mengkonsolidasikan aset negara republik ini, melalui Danantara, maka negara mampu menguasai dan mendominasi pasar keuangan ke depan. Dengan memutar Rp. 200-300 T uang hasil efisiensi, Prabowo dapat mengkapitalisasi Danantara sekitar Rp 1200-1500 T. Uang ini dapat digunakan membangun proyek-proyek besar tanpa tergantung pada swasta dan asing.

Makan bergizi gratis dan Danantara adalah  sebuah pelaksanaan "Ideological State Apparatuses", di mana Prabowo perlu mencengkram semua rencananya ditangan negara, setidaknya secara mayoritas. Jika ini berhasil, maka kekuatan dan kekuasaan oligarki rakus yang selama ini berkembang pesat, akan tunduk pada negara.

Oligarki rakus tentu marah pada Prabowo. Sebagimana pandangan Professor Jeffrey Winter, ekonom ahli Oligarki Amerika, oligarki mempunyai "Defence industry" untuk mempertahankan diri. Mereka mempunyai kekuatan lawyer, intelektual, jaringan massa, jaringan preman, tokoh agama, kampus, dll yang akan membela mereka. Dengan kekuatan ini mereka pasti akan perang terhadap Prabowo.

Oligarki rakus ini adalah salah satu kelompok kontra revolusioner. Mereka tidak mau berubah. Mereka terus menerus ingin mengendalikan republik. Namun, disamping kaum oligarki, banyak lagi kelompok - kelompok kepentingan yang akan membenci Prabowo Subianto. Baik dari kalangan luar rezim, maupun dari dalam. Untuk kekuatan dari dalam ini, tentu terjadi karena Prabowo ternyata tidak sesuai harapan mereka semula maupun karena mereka kehilangan zona nyaman untuk korupsi.

Hal terakhir yang jadi persoalan adalah belum adanya "barisan ideologis" Prabowo. Kebijakan Prabowo selama ini belum mampu diterjemahkan kepada masyarakat secara tepat.

Barisan ideologis diperlukan untuk memperkuat penerimaan pikiran dan mimpi Prabowo dikalangan cendikiawan, mahasiswa dan kelas menengah lainnya. Althusser misalnya membagi dua, antara Reppresive State Apparatuses dan Ideological State Apparatuses. Prabowo harus memperkuat kedua unsur state itu agar mampu menjadi barisan ideologis.

Mahasiswa misalnya, perlu diajak dialog berbasis ilmu dan fakta. Sebagaimana kata filsup Rocky Gerung ketika di daulat mahasiswa demo untuk berbicara di Samarinda dua hari lalu, Rocky mengatakan mengkritiklah mahasiswa dengan berbasis sains. Artinya, barisan ideologis Prabowo menjelaskan secara keilmuan di kampus-kampus, bagaimana revolusionernya berbagai kebijakan Prabowo dan kenapa beberapa hal soal Jokowi dapat dijelaskan.

Fenomena demonstrasi mahasiswa ini menjadi renungan bagi kita semua. Mahasiswa dalam gerakannya adalah gerakan moral. Namun, kaum kontra revolusioner bisa saja mencari peluang dari gerakan mahasiswa tersebut untuk menjatuhkan Prabowo. Untuk itu kaum revolusioner harus bersekutu dengan Prabowo Subianto dan Prabowo Subianto harus bersekutu dengan kekuatan rakyat.

Jika ini terjadi dengan baik, maka "Indonesia Gelap" akan segera bersinar kembali. Bersama Prabowo akan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Circle


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Kemenhut Sebut Kejagung Hanya Mencocokkan Data, Bukan Penggeledahan

Kamis, 08 Januari 2026 | 00:04

Strategi Maritim Mutlak Diperlukan Hadapi Ketidakpastian di 2026

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:49

Komplotan Curanmor Nekat Tembak Warga Usai Dipergoki

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:30

Pemuda Katolik Ajak Umat Bangun Kebaikan untuk Dunia dan Indonesia

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:01

PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD karena Tak Mau Tinggalkan Rakyat

Rabu, 07 Januari 2026 | 22:39

Penjelasan Wakil Ketua DPRD MQ Iswara Soal Tunda Bayar Infrastruktur Pemprov Jabar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:56

Kejagung Geledah Kantor Kemenhut terkait Kasus yang Di-SP3 KPK

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:39

84 Persen Gen Z Tolak Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:33

Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Perlu Dikaji Ulang

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:09

Harta Anggota KPU DKI Astri Megatari Tembus Rp7,9 Miliar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:07

Selengkapnya