Berita

Rencana lokasi Islamic Center Muhammadiyah (ICM) di Jawa Barat/Ist

Publika

Wakaf dan Bisnis

RABU, 05 FEBRUARI 2025 | 18:23 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

MENJUAL future value dengan harga hari ini menjadi model bisnis yang memadukan antara wakaf dan pembiayaan, dengan prospek bisnis dan investasi properti. Maka, rencana Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat untuk membangun Islamic Center Muhammadiyah (ICM) di Bandung sebagai pusat dakwah Muhammadiyah terbesar di Indonesia, menarik untuk dipelajari.

Sudah lama Muhammadiyah Jawa Barat ingin memiliki gedung yang terintegrasi. Namun, keinginan itu selalu terkendala dengan banyaknya kebutuhan mendesak untuk pengembangan program pendidikan dan kesehatan.

Maka, selama berpuluh tahun, PWM Jawa Barat tetap berkantor di kolong masjid. Hal itu membuat banyak tamu bertanya-tanya: PWM Jawa Barat memiliki banyak amal usaha. Mengapa kantornya begitu sederhana?


‘’PWM Jawa Barat ingin memiliki gedung sendiri. Namun untuk membangun gedung dakwah diperlukan biaya yang sangat besar. Sementara pengurus tidak ingin membebankan utang ratusan miliar Rupiah kepada pengurus perserikatan selanjutnya,’’ kata Ketua PWM Jawa Barat, Prof Dr Ahmad Dahlan.

Berangkat dari kondisi itu, PWM Jawa Barat akhirnya bertemu dengan manajemen Agung Podomoro Land (Podomoro) dan Bahana Investment TLC Investment Management (Bahana TLC).

Podomoro adalah developer kawasan premium Podomoro Park (Popark) di Bandung. Sedangkan Bahana TLC merupakan BUMN pengelola investasi dan pembiayaan terbesar di Indonesia.

Ketiga pihak itu bertemu untuk menemukan solusi yang win-win:
1. PWM Jawa Barat bisa memiliki pusat dakwah melalui skema wakaf;
2. Dengan sustainability business model Podomoro;
3. Dan model bisnis pembiayaan serta investasi Bahana TLC.

Business Perspective

Dari perspektif bisnis, Thomas Tandi dari Agung Podomoro Land, menjelaskan bahwa ide PWM Jawa Barat untuk membangun Islamic Center Muhammadiyah (ICM) di Podomoro Land sangat tepat. Sebab, kawasan ini memiliki prospek bisnis yang sangat menjanjikan pada masa depan.

Beberapa parameter yang mendukung, lanjut Thomas, antara lain:
1. Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung 11%, Kabupaten Bandung 9%.
2. Penduduk Kota dan Kabupaten Bandung pada 10 tahun mendatang, mencapai 6,5 juta orang dan populasi penduduk di sekitar Podomoro Park berjumlah 2 juta orang.
3. Penduduk di Podomoro Park akan mencapai 48.000 orang.
4. Pengembangan infrastruktur di sekitar Podomoro Park terus dikebut, seperti flyover Bojongsoang - Baleendah, LRT Bandung Raya.
5. Podomoro Land berada di kawasan pendidikan tinggi bergengsi dengan jumlah mahasiswa mencapai 50.000 orang.
6. Di Podomoro Land sudah ada sekolah Islam Al-Azhar dengan kapasitas 1.000 siswa.
7. Podomoro Park juga memiliki potensi sebagai lokasi transit karena setiap akhir pekan, ada 65.000 wisatawan yang berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Kabupaten Bandung.
8. Sebanyak 50% penghuninya berprofesi sebagai pekerja wiraswasta dan swasta.
9. Sebanyak 85% penghuni Podomoro Park adalah muslim.

Dengan lahan yang akan dibeli PWM Jawa Barat seluas 14.000 meter persegi atau 1,4 hektare, Thomas memberi rekomendasi agar lahan tersebut digunakan untuk lima tujuan:
1. Hotel. Dalam radius 2,5 km dari Podomoro Park, ternyata belum ada hotel.
2. Convention hall kapasitas 1.000 orang. Dalam radius 2,5 km dari Podomoro Park, ternyata belum ada convention hall berkapasitas 1.000 orang.
3. Ruko untuk disewakan. Dengan adanya kompleks perkantoran, Muhammadiyah punya potensi pendapatan tinggi dari sewa kantor.
4. Perkantoran 3 lantai. Perkantoran tersebut juga akan bisa menjadi center point berbagai pihak yang memiliki kegiatan di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.
5. Masjid berkapasitas 1.000 jemaah.

Sementara itu, Direktur Bahana TCW Investment Management, Novi Imelda menjelaskan bahwa perusahaannya telah memiliki pengalaman cukup panjang dalam pembiayaan dan investasi properti seperti yang diinginkan PWM Jawa Barat.

“Prinsipnya, PWM Jawa Barat Ingin punya gedung, tetapi tidak mau punya utang. Maka, Bahana TLC akan menghitung future value proyek ini, sehingga proyek bisa membiayai dirinya sendiri,” kata Novi.

Prof Hilman Latief PhD, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, menyambut gembira diskusi yang mempertemukan Muhammadiyah, Agung Podomoro Land, dan Bahana TLC tersebut. Gagasan besar yang dibahas dalam diskusi itu menegaskan bahwa niat mengelola wakaf saja tidak cukup, tanpa dibarengi dengan peningkatan pengetahuan tentang bisnis, investasi dan mitigasi risiko.

Penulis adalah Pengurus Wakafmu PP Muhammadiyah

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Terkuak Dugaan Penggelembungan Anggaran Makan Minum di DPRD Bandar Lampung

Senin, 20 April 2026 | 02:07

Pramono Siapkan PPSU Khusus Ikan Sapu-Sapu

Senin, 20 April 2026 | 01:47

Jual Beli Rekening Bisa Dijerat Pidana!

Senin, 20 April 2026 | 01:26

HKTI: Kondisi Riil Stok Beras Melimpah

Senin, 20 April 2026 | 01:01

Pramono Tegaskan Jadi Gubernur untuk Semua Kelompok, Agama, dan Golongan

Senin, 20 April 2026 | 00:28

MUI Kawal Ketat Proyek Islamic Center

Senin, 20 April 2026 | 00:13

Projo Klaim Jokowi Menang Berkat Rekam Jejak, Bukan Jasa Jusuf Kalla

Senin, 20 April 2026 | 00:01

Wicked Problem di Balik Motor Listrik MBG

Minggu, 19 April 2026 | 23:43

JK Diduga Masih Simpan Kartu Rahasia Jokowi

Minggu, 19 April 2026 | 23:34

Nabung Jantung

Minggu, 19 April 2026 | 23:26

Selengkapnya