Berita

Cover buku “Ketahanan Pangan Dari Laut: Sea Power Perspektif. MY FISH MY LIFE/RMOL

Resensi

Menjawab Ketahanan Pangan dari Laut

SELASA, 28 JANUARI 2025 | 22:48 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

PROGRAM makan bergizi gratis (MBG) yang digalakkan pemerintah sebagai upaya perbaikan gizi anak bangsa menjadi pijakan dalam mencapai Indonesia Emas 2045. Guna menunjang ini menu bergizi berupa empat sehat lima sempurna menjadi kewajiban yang harus dipenuhi.

Terkait itu, ketahanan pangan dari laut menjadi salah satu opsi yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan protein bangsa. Terlebih, dua pertiga wilayah Indonesia merupakan laut dengan sumber daya perikanan yang melimpah.

Belum lagi ditopang dengan perikanan budidaya air tawar yang kini juga makin menggeliat. Sudah seharusnya, Indonesia tidak perlu khawatir dalam pemenuhan gizi dan proteinnya, terutama dalam menyongsong kesuksesan program MBG.


Ternyata masalah ini sudah menjadi ulasan seorang perwira TNI AL sejak 2016. Saat itu Letkol Laut (P) Salim mengeluarkan uneg-uneg-nya soal kondisi pangan di laut dalam sebuah buku berjudul “Ketahanan Pangan Dari Laut: Sea Power Perspektif. MY FISH MY LIFE". Buku setebal 267 halaman yang diterbitkan Diandra Pustaka Indonesia ini seakan menjadi jawaban soal daya dukung protein dari laut untuk program MBG.

Penulis yang kini sudah berpangkat Laksamana Pertama (Laksma) berdinas di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) saat itu dalam rangka menyongsong visi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Poros Maritim Dunia. Penulis berpikir tolok ukur keberhasilan visi tersebut adalah Indonesia mampu menjadi swasembada pangan protein di laut. 

Penulis juga menyampaikan dalam buku tersebut, Indonesia tidak hanya mampu mensejahterakan rakyatnya dari laut, tapi juga mampu menghasilkan 7 kali lipat Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) apabila dikelola dengan benar dan pemimpinnya amanah.

Sehingga laut benar-benar menjadi sumber kesejahteraan bangsa. Hal tersebut juga didengungkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kala itu. Sudah sepatutnya ekonomi kelautan menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, nelayan sebagai garda terdepan ketahanan pangan di laut juga hidup sejahtera.

Penulis juga mengelaborasikan konsep ketahanan pangan di laut dengan perspektif keamanan, terutama pemberantasan illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing. Pasalnya, hingga tahun 2015, perairan Indonesia masih menjadi surga bagi para pelaku IUU fishing dari negara lain.

Berbagai kendala diurai penulis dalam buku ini dengan renyah dan juga pendekatan holistic seperti rasa bersyukur kita pada Rahmat Allah serta pendekatan adat budaya luhur bangsa. Tidak lupa kejayaan sejarah maritim bangsa juga turut diulas yang berujung pada terwujudnya Maritime Domain Awareness (MDA).

Hal itu yang seharusnya tercapai di era pemerintahan Jokowi, namun hingga kini pencapaian visi tersebut masih jauh panggang daripada api. Kehidupan nelayan Indonesia, khususnya nelayan kecil/tradisional sangat memprihatinkan di tengah melimpahnya SDA perikanan.

Buku ini pun mengurai solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah itu, mulai dari political will pemerintah, action plan hingga budget policy. Seluruhnya harus berpihak pada pemanfaatan laut yang berkeadilan dan mensejahterakan masyarakat pesisir.

Seluruh isi buku masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran. Tentunya, ulasan di buku sangat cocok sebagai referensi bagi yang berkecimpung di dunia kelautan seperti mahasiswa, nelayan, hingga pemangku kebijakan.

Cita-cita My FISH MY LIFE yakni terwujudnya ketahanan pangan dari laut harus bisa menjawab persoalan MBG hingga menyongsong Indonesia Emas sekaligus menjadi pusat peradaban maritim yang digdaya pada 2045. Semoga!! 

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya