Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Tawa Agak Laen Berkelas

MINGGU, 29 DESEMBER 2024 | 12:31 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DULU, tawa cukup sederhana. Baik tawa itu sendiri maupun cara kita dibuat tertawa, lahir begitu saja. Anda menonton Warkop DKI, melihat Kasino mengejar Indro dengan gaya slapstick, dan semua terasa cukup. Humor ala Kadir-Doyok atau Basuki? Lebih santai lagi —seperti obrolan warung kopi, tidak butuh logika, hanya murni tawa lepas.

Tapi hari ini, komedi Indonesia telah berubah. Anda yang sudah menonton film Agak Laen pasti merasakan perubahan ini. Tak aneh jika film yang menggabungkan horor, drama, dan komedi, ini kemudian berhasil menarik 9,1 juta penonton, dengan pendapatan sekitar Rp455 miliar. 

Penggemar sudah menunggu Agak Laen 2, yang kabarnya mau tayang Desember ini. Rupanya mereka kena prank, terlanjur percaya dengan podcast akun Instagram @podcast.agak.laen pada 2 Desember 2024 yang menayangkan cuplikan video singkat berdurasi 30 detik tentang rencana tayangnya lanjutan film itu akhir tahun ini.


Apa yang terjadi? Apakah ini tren, atau cerminan dari penonton yang kini menginginkan lebih dari sekadar komedi "konyol"?

Mari kita lihat perjalanan ini lebih luas. Di Hollywood, komedi juga berevolusi. Jika dulu kita tertawa terpingkal-pingkal melihat Jim Carrey di Dumb and Dumber, kini kita diberi film seperti Jojo Rabbit. Humor di era modern bukan lagi hanya tentang tingkah bodoh, tetapi menjadi alat untuk menyampaikan isu serius. Siapa sangka Adolf Hitler bisa menjadi tokoh komedi (dengan twist tragis) dalam film Taika Waititi?

Hal serupa terjadi di Bollywood. Komedi klasik ala Hera Pheri yang penuh kekacauan slapstick mulai tergeser oleh film seperti 3 Idiots (2009), yang membawa pesan mendalam tentang pendidikan dan motivasi. Komedi bukan lagi hanya hiburan, tetapi medium untuk mengajukan pertanyaan kritis. Pemutarannya di pekan pertama saja menghasilkan pemasukan lebih 16 juta dolar.

Di Indonesia, komedi sedang mengalami transisi serupa. Film seperti Agak Laen merupakan bukti bagaimana formula baru diciptakan. Muhadkly Acho, sutradara film ini, tidak sekadar menyajikan lelucon. Ia menawarkan cerita: konflik rumah hantu di pasar malam yang terasa dekat dengan pengalaman masyarakat. Humor muncul dari situasi, bukan dari lawakan asal atau dialog tanpa makna.

Sebagai perbandingan, humor ini mirip dengan gaya Wes Anderson di The Grand Budapest Hotel: absurd, tetapi penuh logika internal yang mengundang tawa. Tidak seperti Warkop DKI, di mana Anda tertawa tanpa perlu berpikir, film seperti Agak Laen membuat Anda tertawa sambil merenung. Apa bisa? Jangan-jangan usai nonton, tawa kita masih terbawa di hati.

Generasi baru pelawak, yang tumbuh dari panggung Stand-Up Comedy, membawa semangat berbeda ke layar lebar. Ernest Prakasa, Bene Dion, hingga Acho tercatat sebagai contoh pelawak yang tidak hanya melucu, tetapi juga menciptakan cerita. Ini mengingatkan kita pada Jordan Peele, yang dari komedi seperti Key & Peele bertransformasi menjadi sutradara horor-komedi seperti Get Out.

Namun, pertanyaannya: apakah ini sepenuhnya baru? Tidak juga. Seperti tadi disebut ihwal 3 Idiot, humor seperti ini telah dilakukan di Thailand dengan film seperti Pee Mak. Ada siklus dalam industri film: sesuatu yang sukses akan diulang-ulang hingga mungkin kita bosan. Bukankah kita pernah melihat Warkop DKI Reborn (6,7 juta penonton) dalam berbagai versi yang tak ada habisnya?

Jika kita bandingkan, Bollywood dan Hollywood memiliki skala yang lebih besar, dalam hal tingkat konten dan pemutaran. Film-film seperti Jojo Rabbit atau 3 Idiots membawa humor ke tingkat yang lebih intelektual. Namun, meski dibuat di sini, kekuatan Agak Laen ada pada sentuhan lokal. Pasar malam, rumah hantu, dan logat khas Indonesia adalah elemen yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Bahkan dalam hal ini, Hollywood sering gagal menangkap nuansa lokal saat mencoba membuat komedi global. Anda bisa tertawa menonton Jojo Rabbit, tetapi hanya film seperti Agak Laen yang bisa menyentuh memori pasar malam kita: permen kapas, lampu berkelap-kelip, dan sedikit ketakutan masuk ke wahana rumah hantu. Gabungan antara tawa dan ketakutan.

Apa yang membuat komedi serius seperti Agak Laen menarik adalah kemampuannya menjaga keseimbangan. Penonton tidak hanya tertawa, tetapi juga merasakan keterikatan emosional. Komedi tidak lagi menjadi pelarian, tetapi refleksi realitas. Dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi berkat era digital, penonton yang memang gemar humor perlu tontonan yang lebih masuk akal.

Namun, ada tantangan: bagaimana menjaga formula yang diolah dari realitas dan intelektualitas ini tetap bisa disajikan dengan segar? Jika semua film mulai mengadopsi pola serupa, kita mungkin akan melihat kebosanan yang sama seperti era Warkop Reborn. Tantangan berikutnya bagi para sineas adalah menciptakan inovasi baru tanpa kehilangan akar lokalnya.

Pada akhirnya, apakah Anda lebih suka slapstick ayam terbang ala Warkop, atau humor cerdas Agak Laen? Mungkin jawabannya ada di tengah-tengah. Karena, seperti hidup itu sendiri, tawa terbaik sering datang dari kombinasi absurditas dan kedalaman. Dan selama dunia ini tetap absurd, kita akan selalu butuh alasan untuk tertawa —entah lewat ayam yang dikejar, atau rumah hantu di pasar malam.

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an



Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Anak SMA Peserta Cerdas Cermat MPR Ramai-ramai Dibully Juri dan MC

Senin, 11 Mei 2026 | 14:27

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Di Depan Mahasiswa, Direktur Pertamina Beberkan Strategi Jaga Ketahanan Energi Nasional

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:19

PLN Resmikan SPKLU ke-5.000 di Indonesia, Pengguna EV Kini Makin Nyaman

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:14

Polri Panen Raya Jagung di Bengkayang

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:14

Viral Sarden Disebut Bukan UPF, Ini Penjelasannya

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:11

OPM Diduga Dalang Pembunuhan Delapan Penambang Emas di Distrik Korawai

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:05

Mengenal Duck Syndrome yang Viral di Media Sosial, Ini Pengertian dan Dampaknya

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:04

MBG Tetap Prioritas meski Anggaran Dipangkas

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:46

Pidato Prabowo ke Golkar Dinilai Bukan Sekadar Candaan

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:42

Cirebon Raya Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:33

Hubungan Baik Prabowo-Megawati Perlihatkan Kepemimpinan Inklusif

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:32

Selengkapnya