Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Pancasila Sakti Vs Pancasila Sontoloyo

SABTU, 01 JUNI 2024 | 19:55 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

DI hari lahirnya Pancasila, versi Bung Karno, hari ini, saya, Jumhur Hidayat dan Rocky Gerung berkesempatan memberikan ceramah di Mataram, Lombok, pada Forum NGO se NTB yang diselenggarakan Ali Bin Dahlan Center dan Yayasan Swadaya Membangun.

Rocky yang datang terlambat dari Lembata, NTT, karena terjadi erupsi gunung di sana, tidak bisa menemani Saya dan Jumhur ke Mandalika, menghadiri pembentukan ranting AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria), ranting Mandalika, yang terdiri dari masyarakat korban penggusuran.

Kedua acara ini telah membuat renungan dalam bagi saya (tentu bagi Jumhur dan Rocky juga) betapa NGO (LSM) yang dulu subur berkembang di era Pak Harto, sebagai mitra maupun kritikus pembangunan, yang selama ini "hilang" harus dibangkitkan kembali. Agar negara dapat dikontrol. Negara untuk siapa?


Di era pak Harto, dengan semboyan "Politik No, Pembangunan Yes", negara dan kepala negara, serta para menteri, adalah manusia-manusia yang mempunyai dedikasi tinggi pada pembangunan, baik ideologi, orientasi dan teknokrasi.

Otoritarianisme yang menyertai dan mengawal cita-cita pembangunan kala itu berbahaya dalam implementasi, sehingga Suharto, sang presiden, dan para donor asing, mendorong munculnya NGO untuk mengontrol pembangunan tersebut.

Hubungan NGO dan tokoh-tokohnya, seperti Adi Sasono, Bambang Ismawan, Kartjono, Dawam Rahardjo, Gus Dur, Buyung Nasution, dan lain sebagainya, dibenci sekaligus dicintai pemerintah. Dibenci karena mengkritik, dicintai karena kritikannya seringkali memberi "feedback" bagi maksimasi keberhasilan pembangunan yang tepat sasaran.

Di era sekarang ini, khususnya era Jokowi, negara dan kepala negara serta menteri-menterinya hampir tidak mempunyai orientasi pembangunan untuk rakyatnya. Pembangunan pembangunan infrastruktur, misalnya, lebih ditujukan pada orientasi bisnis. Negara telah menjadi proxi kapitalis, seperti kata kaum Marxis, yang digunakan untuk memperkuat cengkeraman kaum kapitalis dalam memutar uang mereka.

Di era Suharto, pola pembangunan industri, misalnya, ditujukan untuk mendorong Indonesia dari posisi importir menjadi sebagian impor (substitusi impor) dan akhirnya ekspor, untuk produk2 yang direlokasi dari negara maju. Kemudian berkembang menjadi industri berbasis teknologi tinggi, seperti kapal laut dan pesawat terbang.

Paralel dengan itu, strategi industrialisasi pedesaan dan home industri dilakukan untuk memastikan struktur industri kita bersifat integrasi, seperti yang dilakukan RRC era tersebut.

Dilakukan juga pengembangan sumberdaya manusia dengan upaya pemerataan pendidikan dan kualitasnya di segala penjuru Indonesia. Pemerataan sektor kesehatan dilakukan dengan pembangunan puskesmas dan penyebaran dokter-dokter muda ke seluruh pelosok negeri.

Ini menunjukkan bahwa negara memang berfungsi sebagai negara, yang hadir untuk membangun bagi rakyat.

Era Jokowi saat ini utang luar negeri menjadi parah sekali jumlahnya. Mantan presiden Megawati dalam pidatonya di rakernas PDIP bingung bagaimana cara bayarnya. Bayangkan utang resmi lebih dari Rp8.000 triliun. Pemutihan uang-uang yang parkir di Singapura, hitam atau uang putih, sekitar Rp15.000 triliun, dengan alasan Tax Amnesty, terjadi tanpa menuntut uang itu kembali diparkirkan di Indonesia.

Hal berulang dengan kebijakan "sunset policy" era sebelumnya, yang kurang menguntungkan Indonesia sebagai sumber asal uang-uang itu.

Selain utang resmi negara, utang legal lainnya yang diperoleh via BUMN dan utang kepada institusi keuangan dalam negeri, menurut Misbakhun, DPR RI, bisa tembus Rp20.000 T. Utang-utang ini tentu akan menjadi beban generasi ke depan. Sementara alam semakin rusak.

Di era Suharto, utang menjadi sebuah alasan untuk tujuan produktif. Untuk itu Suharto membuat ukuran utang bukan dalam ratio GDP, melainkan dalam istilah "Debt Service Ratio", sebuah ratio yang dibangun secara rasional untuk negara berkembang. Yakni berhutang sesuai kemampuan mendapatkan devisa ekspor.

Ruchir Sharma, investor guru, dalam bukunya "How The Nation Fall" mengingatkan bahwa kejahatan dalam menciptakan utang suatu negara merupakan desain sistematis untuk menguntungkan kelompok interest tertentu.

Kadangkala menurutnya, desain itu melibatkan angka-angka pertumbuhan yang dirancang sesuai dengan kepentingan penciptaan utang saja.

Burhanuddin Abdullah, dalam acara yang saya, Jumhur dan Rocky selenggarakan bulan April lalu, bingung dengan klaim-klaim pemerintah bahwa kita menjadi negara 16 terbesar di G20.

Menurut dia, dengan klaim pertumbuhan rerata 5 persen pertahun selama hampir 10 tahun ini, tax ratio kita tidak tumbuh baik. Rerata tax ratio hanya di bawah 10 persen, sebaliknya negara G20 sudah 25-30 persen.
Spending Government terhadap GDP hanya 17 persen, jauh di bawah Turki 25 persen.

Bahkan Burhan kecewa ketika depresiasi rupiah terhadap Dolar AS selama 10 tahun ini sekitar 30 persen, upah riil buruh tidak naik. Kapan rakyat sejahtera? Kata Burhan, yang saat ini merupakan pemikir utama pembangunan Prabowo saat ini.

Orientasi pembangunan yang tidak dijalankan untuk kepentingan rakyat, tentu membuat pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas. Artinya per persen pertumbuhan semakin sedikit menyerap lapangan kerja. ICOR (Incremental Capital Output Ratio) semakin besar, tidak efisien.

Pengentasan kemiskinan semakin jauh dari keberhasilan. Sementara segelintir orang dengan gagahnya melakukan korupsi dalam skala ratusan triliun, seperti timah, nikel, ilegal sawit, minyak goreng, emas dan korupsi sektor infrastruktur.

Pembangunan yang dijalankan bukan untuk kepentingan rakyat tentu dikarenakan ideologi negara kita ditafsirkan secara sontoloyo oleh mereka. Koruptor-koruptor yang berkeliaran menguasai negara serta "kerja, kerja, kerja" tanpa orientasi rakyat, benar-benar tidak menjiwai Tuhan Yang Maha Esa, tidak menjiwai spirit kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak menjiwai nasionalisme kita, tidak menjiwai spirit kerakyatan dan kolektivitas serta kegotong royongan serta terakhir tidak menjiwai semangat Indonesia untuk sama rata sama rasa, semua mendapatkan manfaat.

Tanpa penjiwaan itu kesalahan rezim ini sudah dimulai sejak orientasi dan visi.

Di era Suharto, mereka mengalami kesalahan pada tataran implementasi. Namun, mereka tetap berorientasi pada kepentingan rakyat. Kenapa? Karena mereka menjiwai Pancasila secara benar.

Meskipun sebagian kita kecewa dengan era Suharto, seperti saya dan Jumhur yang di penjara di era itu, namun kita harus jujur bahwa era itu kita rindukan kembali. Kita yang di luar kekuasan bisa melakukan partisipasi sebagai pengkritik melalui pembangunan masyarakat sipil atau NGO yang kuat.

Kita berharap, di era kepemimpinan pasca Jokowi, pemerintahan ke depan, termasuk Prabowo dapat mengembalikan negara dan elit-elit nasional bekerja untuk orientasi rakyat. Membungkam mafia-mafia yang berkuasa selama ini. Ini adalah jalan Pancasila Sakti, bukan sontoloyo.

*Penulis adalah Founder Sabang Merauke Circle

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya