Berita

Kate Middleton/Net

Publika

Belajar Literasi dari Kasus Kate Middleton

OLEH: RINI SUDARMANTI*
SENIN, 25 MARET 2024 | 13:49 WIB

 SABTU lalu (23/3/2024), dunia dikejutkan dengan gema pengumuman Kate Middleton yang menyatakan ketidakhadirannya di tengah masyarakat karena mengidap kanker.  

Ia menjelaskan sambil duduk berlatar belakang taman. Langkah ini menjawab banyaknya spekulasi yang muncul di berbagai sosial media mengenai ketidakmunculannya, yang seringkali dikaitkan dengan pemberitaan kurang sedap terkait dirinya maupun keluarga.

Pernyataannya yang lugas. Tidak hanya membantah rumor yang beredar, tetapi juga menekankan kebutuhan untuk menjaga martabat privasi pribadinya melawan pengawasan publik yang kadang dituangkan dalam komentar negatif, dan yang lebih terasa kejam serta mengabaikan perasaan.


Contohnya foto keluarga Kate Middleton yang kedapatan direkayasa membuat spekulasi negatif bermunculan. Satu netizen berkomentar negatif, menghasilkan komentar-komentar negatif lainnya yang dari hari ke hari seperti bola liar dan menggelinding semakin lama bertambah besar seperti bola salju.

Belum lagi berita perselingkuhan suaminya, calon Raja Inggris William, putra mendiang Putri Diana, yang bermunculan dengan berbagai cerita.

Keberanian langkah transparansi informasi yang disampaikan sosok sentral keluarga Inggris ini memberikan pelajaran baik bagi kita semua.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam nada yang pribadi, reflektif, dan bahkan memicu gelombang emosi bagi siapa saja yang mendengarnya, termasuk para netizen di Indonesia.

Ini tampak dari komentar-komentar para netizen yang kemudian saling mengingatkan untuk menahan diri ketika merespon berita/informasi yang belum jelas.

Bukan hanya itu, kejadian ini juga memberikan pembuktian kembali bahwa media sosial memiliki kekuatan dalam membentuk opini publik dan memfasilitasi dialog yang lebih luas mengenai isu kesehatan, privasi, dan kehidupan selebriti.

Tentunya ini merupakan momen penting bagi diskursus publik yang memaksa kita untuk mempertimbangkan batasan antara kehidupan pribadi dan publik, serta bagaimana kita sebagai masyarakat merespons berita tentang tokoh-tokoh publik.

Episode seputar pengungkapan Kate Middleton ini memberikan sumbangsih penting bagi kita semua, para pengguna sosial media, untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarluaskannya.

Prinsip dasar literasi media bukan hanya mencakup keterampilan menggunakan perangkat media internet, tetapi juga kemampuan analitis, seperti kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai informasi, tetapi juga mengevaluasi keterandalan dan kredibilitas sumber informasi.

Hal ini juga menuntut kesadaran berinteraksi yang sehat melalui internet yang melibatkan penggunaan kata, bahasa, gambar, dan emosi untuk mempengaruhi opini publik.

Ruang sosial membutuhkan praktik komunikasi yang mempertimbangkan dan menghormati perasaan dan pengalaman yang dialami orang lain.

Penggunaan sosial media mendorong untuk memperbesar empati kritis kita menanggapi berbagai konten digital. Empati di sini bukan sekadar simpati terhadap orang lain, tetapi kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan mereka, memandang situasi dari perspektif orang lain.

Media sosial adalah wilayah berinteraksi yang sering kali terbangun dengan tanpa konteks kehadiran simbol nonverbal. Satu-satunya sumber konfirmasi adalah diri sendiri sehingga diri sendiri inilah yang menjadi ukuran dari setiap ujaran yang dihasilkan dalam lingkungan sosial media.

Bila interaksi yang dibangun lebih penuh kesadaran sadar dan empatik, maka dapat tercipta ruang digital yang lebih mendukung dan inklusif, di mana dialog dan pertukaran ide dapat terjadi dalam suasana yang sehat dan konstruktif. Ini pada gilirannya akan memperkaya kualitas diskusi publik dan memperkuat jaringan sosial kita dengan cara yang positif dan bermakna.

*Penulis adalah Kaprodi Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina dan Ketua Aspikom Korwil Jabodetabek

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya