Berita

Pengamat politik dari Motion Cipta Matrix, Wildan Hakim/Istimewa

Politik

Ide Pemakzulan Presiden Jokowi Hanya Sebatas Wacana untuk Hangatkan Dialog Publik

SENIN, 15 JANUARI 2024 | 07:37 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Ide pemakzulan Presiden Joko Widodo diyakini hanya sebatas wacana untuk menghangatkan dialog publik. Bahkan ide ini dinilai sulit terlaksana. Mengingat, tiga partai politik (parpol) penguasa Senayan harus satu suara terkait pemakzulan.

Pengamat politik dari Motion Cipta Matrix, Wildan Hakim mengatakan, isu pemakzulan terhadap Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia membetot perhatian publik Indonesia. Data dari Google Trend selama 7 hari terakhir bisa menggambarkan hal tersebut. Ternyata, netizen Indonesia mulai mencari berita seputar pemakzulan Jokowi ini sejak 7 Januari 2024 lalu.

“Data dari Google Trend menggambarkan dengan jelas bahwa pemakzulan seorang presiden terlebih menjelang Pemilu dan Pilpres ini bisa menghangatkan sekaligus mengaduk-aduk opini publik. Sebagai sebuah topik perbincangan, pemakzulan presiden pasti mengundang atensi. Namun sepertinya, ide pemakzulan ini sebatas diskusi dan tidak akan dilanjutkan dengan aksi nyata dari politisi," kata Wildan kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (15/1).


Menurut Wildan, ide pemakzulan Presiden Jokowi akan berdampak kontraproduktif terhadap stabilitas politik Indonesia. Jika ide tersebut dilaksanakan, maka jargon pemilu damai dan aman akan menguap begitu saja.

Padahal, stabilitas politik yang ditandai dengan kepastian pemerintahan yang ada saat ini menjadi elemen sangat penting agar pemilu dan pilpres berjalan lancar sesuai agenda KPU.

"Saya kira, ide pemakzulan itu sebatas wacana untuk menghangatkan dialog publik. Memang pemakzulan itu dimungkinkan karena sistemnya membuka ruang untuk pemakzulan. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apa kesalahan besar seorang Jokowi sehingga harus dimakzulkan. Bukti kesalahannya harus konkret dan baru setelah itu didorong dengan political movement atau gerakan politik di parlemen," jelas Wildan.

Menurut dosen Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia ini, pemakzulan Jokowi selaku presiden akan berdampak negatif terhadap PDI Perjuangan. Karena Jokowi adalah salah satu kader terbaik partai banteng moncong putih itu. Oleh karena itu, Jokowi mendapatkan elektabilitas tinggi dan direstui mencalonkan diri sebagai presiden dua kali berturut-turut.

Sedangkan saat ini, tiga parpol penguasa parlemen sesuai hasil Pemilu 2019 adalah PDIP, Gerindra, dan Golkar. Kalau ada pemakzulan, maka ketiga parpol bersuara besar ini harus kompak. Sementara, saat ini PDIP berbeda kubu dengan Gerindra dan Golkar.

'Secara teknis, pemakzulan terhadap Jokowi ini akan rumit. Tiga parpol di atas, tidak akan mendapatkan political benefit yang berarti dari pemakzulan. Efek kontraproduktifnya justru yang akan dituai. Dalam konteks persaingan Pilpres 2024, mungkin yang dapat limpahan keuntungan malah pasangan nomor 1 yang selama ini mengesankan positioning-nya sebagai pihak yang berseberangan dengan Istana," pungkas Wildan.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya