Berita

Prof. Romli Atmasasmita

Publika

Cacat Hukum Pergantian Firli Bahuri

OLEH: ROMLI ATMASASMITA
SELASA, 28 NOVEMBER 2023 | 20:24 WIB

PERKARA dugaan tindak pidana pemerasan dan gratifikasi yang ditujukan terhadap Firli Bahuri sebagai Ketua/Anggota KPK berakhir dengan penetapan Firli Bahuri sebagai tersangka oleh Dirkrimsus Polda Metro Jaya dan konon penetapan tersangka dilakukan bersamaan (pada tanggal yang sama) yaitu tanggal 9 Oktober 2023 dengan laporan pidana dugaan pemerasan.

Sehingga menimbulkan tanda tanya dari aspek procedural sebagaimana telah ditetapkan di dalam UU 8/1981 tentang KUHAP khusus ketentuan mengenai penyelidikan dan penyidikan (Pasal 1 angka 2 dan angka 5 ) yang berbunyi: Dalam hal ini terkait jeda waktu antara proses penyelidikan dan penetapan tersangka yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam proses penyidikan.

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.


Sedangkan Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

Sejalan dengan pengertian/definisi kedua tahapan proses pemeriksaan pra-penuntutan tesebut jelas bahwa proses penyelidikan hanya menemukan ada/tidak adanya suatu peristiwa pidana sedangkan proses penyidikan mencari dan menemukan bukti untuk menetapkan siapa yang terbukti melakukan tindak pidananya atau menemukan tersangkanya; ada perbedaan jeda waktu yang cukup untuk tujuan tersebut.

Namun demikian diakui bahwa ketentuan KUHAP mengenai proses penyelidikan dan penyidikan tidak dibatasi oleh tenggat waktu tertentu sehingga hak subjektif Penyidik untuk memeriksa dan bahkan menetapkan seseorang menjadi tersangka bahkan melakukan upaya paksa rentan terhadap penyelahgunaan wewenang penyidik sehingga KUHAP belum memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi siapa saja yang dijadikan objek (bukan subjek) pemeriksaan.

Bertolak dari pemikiran tersebut pembentuk UU KUHAP telah memasukkan ketentuan mengenai praperadilan yang diatur dalam Pasal 77 s/d Pasal 83 KUHAP.

Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini tentang: a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; b. ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan (Pasal 77).

Lingkup objek praperadilan kemudian telah diperluas  dalam Putusan MKRI 21/PUU- XX/2014, meliputi juga penetapan tersangka, penggeledahan dan penyitaan; dengan pertimbangan Majelis Hakim  MKRI bahwa, keenam objek praperadilan  adalah merupakan tindakan yang rentan terhadap perlindungan hak asasi tersangka yang merupakan kewajiban Lembaga peradilan.

Perluasan objek praperadilan telah sejalan dengan ketentuan Pasal 28 D ayat (1) UUD45 Perubahan yang menyatakan bahwa, setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di muka hukum.

Norma ini harus dimaknai bahwa, pertama bangsa Indonesia memiliki peradaban maju  dan menganut sila perikemanusiaan sebagai salah satu sila filosofi bangsa dan Negara Hukum dan kedua, hak setiap orang untuk diakui dan dijamin oleh negara harus tidak bersifat diskriminatif dan ditindas dengan tindakan aparatur hukum yang eksesif sehingga mendegradasi harkat dan martabat seseorang termasuk seseorang yang ditetapk tersangka/terdakwa.

Kelemahan ketentuan penyelidikan menurut KUHAP tidak ada batas waktu kapan seharusnya proses penyelidikan berhenti. Dalam praktik lazimnya ditentukan berdasarkan dugaan semata-mata sepanjang telah terdapat dua bukti permulaan yang cukup. Terlepas dari masalah harkat dan martabat seorang tersangka/terdakwa, dan opini publik dalam masyarakat kita tidak lagi mempertimbangkan asas praduga tak bersalah, (presumption of innocence), sebaliknya asas praduga bersalah (presumption of guilt).

Syarat calon pimpinan KPK berdasarkan UU 3/2002 tentang KPK, selanjutnya di dalam UU 19/2019, telah mengatur syarat-syarat calon komisioner KPK, antara lain selain batas usia juga syarat perilaku dan integritas, profesionalisme dan akuntabilitas melalui suatu seleksi yang dilakasanakan oleh panitia seleksi.

Dan kini komisioner KPK telah berganti pimpinan sampai ke lima kali, terakhir di bawah ketua Firli Bahuri dan kawan-kawan.

Sejatinya harapan dan idealisme pembentuk UU KPK adalah, KPK dipimpin oleh komisionrer yang mampu bertahan dari segala godaan dan suap juga terbebas dari perilaku tidak terpuji seperti pemerasan dll. Akan tetapi bagaimanapun komisioner KPK adalah seorang sosok manusia yang tidak steril sama sekali dari kesalahan di samping kelebihannya sehingga dalam kurun waktu dua masa kepemimpinan KPK dan terakhir saat ini telah terjadi dua kali masalah dimana pimpinan KPK ditetapkan sebagai tersangka dan terjadi dua kali pergantian pimpinan KPK.

Dalam hal pergantian ini telah digunakan landasan UU KPK Tahun 2002 dan perubahannya pada Tahun 2019 yang menyatakan bahwa jika pimpinan KPK ditetapkan sebagai tersangka maka diberhentikan sementara dari jabatan pimpinan KPK baik sebagai ketua maupun sebagai anggota.

Konsekuensi logis dari pemberhentian sementara maka tersangka pimpinan KPK ybs tidak dapat melaksanakan tugas dan wewenang lagi selaku pimpinan maupun anggota komisioner KPK sehingga dipastikan terjaadi kekosongan pimpinan di mana pimpinan KPK tersisa hanya 4 (empat) orang dan tentunya bertentangan dengan jumlah komisioner KPK yang diwajibkan 5 (lima) orang.

Konsekuensi hukum dari kekosongan pimpinan KPK maka kewajiban Presiden untuk mengangkat dan menunjuk seseorang yang memenuhi syarat sebagai pengganti dan pengisi kekosongan pimpinan KPK tersebut.

Untuk sampai pada penunjukkan dan pengangkatan pimpinan KPK pengganti maka UU KPK Tahun 2002 mewajibkan dilaksanakan pemilihan dari calon-calon pimpinan KPK terdahulu yang gagal menjadi pimpinan KPK dan selanjutnya di usulkan ke Komisi III DPR RI untuk memperoleh persetujuan.

Ketentuan pergantian dalam UU 30/2002 telah diubah dengan UU 1/2015 yang menentukan bahwa pergantian pimpinan KPK sepenuhnya kompetensi Presiden tidak lagi melalui persetujuan Komisi III DPRI RI dan bahkan ditegaskan bahwa Presiden dapat menunjuk secara langsung calon pengganti pimpinan KPK jika pimpinan KPK tersisa paling banyak 3 (tiga) orang.

Hal ini berbeda dengan pergantian pimpinan KPK dari Firli Bahuri kepada Nawawi Pamolango yang berasal dari Komisioner KPK ybs sehingga jumlah pimpinan KPK pasca penunjukkan tersebut tetap hanya 4 (empat) orang.

Namun pada Tahun 2019, UU KPK Tahun 2002 telah diubah dengan UU 19/2019 yang mengembalikan prosedur pergantian pimpinan KPK harus melalui proses persetujuan Komisi III DPR RI sehingga ketentuan yang terdapat pada UU 1/2015 tidak berlaku lagi untuk proses pergantian Firli Bahuri saat ini.

Hal ini sesuai dengan asas lex posteriori derogate lege priori.

Bahkan di dalam Pasal 70B UU 19/2019 dinyatakan secara tegas (expressive verbis) bahwa ketentuan-ketentuan yang bertentangan dengan UU 19/2019 harus dinyatakan tidak berlaku.

Dalam UU 19/2019 ditegaskan prosedur pergantian pimpinan harus melalui persetujuan Komisi III DPR RI.

Berdasarkan uraian tersebut, dengan demikian secara serta merta dapat disimpulkan bahwa, prosedur pergantian Firli Bahuri  ke Nawawi Pamolango mutatis mutandis cacat hukum (obscuur) sehingga batal demi hukum.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Pemerintah Didesak Tetapkan Karhutla Sebagai Bencana Nasional

Rabu, 02 September 2026 | 12:22

Anggaran Kementerian LH 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp2,57 Triliun

Rabu, 02 September 2026 | 12:16

Film Animasi Terlaris China All Wishes Come True Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Rabu, 02 September 2026 | 11:56

Mahasiswa Indonesia Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Vladivostok

Rabu, 02 September 2026 | 11:53

Kapolri Minta Seluruh Kapolda Perkuat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 11:49

Siaga 98 Minta RUU Perampasan Aset Fokus pada Perampasan Tanpa Pemidanaan

Rabu, 02 September 2026 | 11:38

Prabowo Tiba di Vladivostok, Penuhi Undangan Putin Hadiri EEF ke-11

Rabu, 02 September 2026 | 11:24

Komdigi Usul Tambahan Rp3,23 Triliun, DPR Ingatkan Ini

Rabu, 02 September 2026 | 11:19

Mending Persoalkan Kasus Judol Ketimbang Ribut Pernyataan Budi Arie

Rabu, 02 September 2026 | 11:17

AHY: Posisi Boleh Berubah, Komitmen Demokrasi Harus Terjaga!

Rabu, 02 September 2026 | 10:58

Selengkapnya