Berita

Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar/RMOL

Publika

Nasdem, PKB dan PKS Berkoalisi, Kapan Golkar Gabung?

OLEH: TONY ROSYID
RABU, 13 SEPTEMBER 2023 | 14:04 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

TIDAK terlalu mengagetkan jika Nasdem, PKB dan PKS akhirnya berkoalisi. Melalui tulisan maupun wawancara, berulangkali saya ungkapkan bahwa koalisi PKB dan Gerindra akan bubar. Tidak akan ketemu kepentingannya. PKB ingin Muhaimin atau Cak Imin jadi Cawapres. Sementara Gerindra melihat Prabowo dipasangkan dengan Cak Imin tidak nambah suara. Pemilih keduanya beririsan. Maka, peluang kalahnya akan sangat besar.

Soal ada yang ikut cawe-cawe, itu faktor sekunder, bukan primer. Faktor primernya: Prabowo cari pasangan yang mampu memperbesar peluang kemenangan. Prabowo melihat, itu tidak ada di Cak Imin Karena itu, beberapa bulan lalu saat on air di salah satu radio swasta saya katakan: 1.000% pasangan Prabowo-Cak Imin tidak terwujud. Ini jika kita mengacu pada situasi normal. Sekali lagi, ini analisis ilmiah, berbasis pada variabel-variabel yang ada. Bukan ramalan dukun.

Anies dan Cak Imin bisa bertemu karena keduanya saling membutuhkan. Cak Imin butuh posisi sebagai cawapres. Pertama, menjadi cawapres itu adalah mimpi lama Cak Imin. Kedua, ini juga amanat dari para ulama yang berada di belakang PKB. Ketiga, memilih Anies Baswedan adalah paling besar peluangnya untuk menang.


Anies sendiri butuh menaikkan elektabilitas, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ini adalah dua wilayah yang suara Anies paling rendah dan terhambat untuk naik.

Dengan menggandeng Cak Imin, elektabilitas Anies di Jawa Timur naik dan saat ini posisinya paling tinggi. Ini adalah salah satu hasil survei yang tidak dipublish. Di Jateng, Jabar, Banten dan Lampung, elektabilitas Anies juga merangkak naik. Kata Surya Paloh: Anies-Cak Imin itu seperti "Botol Ketemu Tutup". Saling membutuhkan satu sama lain. Klop !

Selain PKB, PKS adalah partai yang konsisten mendukung Anies. Tanggal 7 September lalu saya menulis artikel dengan judul "100% PKS Bersama Anies". Dan selasa kemarin, tanggal 12 September, secara resmi PKS mengaminkan pasangan AMIN.

Sekali lagi, mudah membaca arah politik setiap partai kalau kita memahami secara hati-hati terhadap berbagai variabel yang tersedia. Sebab, politik itu bukan soal suka atau benci. Bukan like and dislike. Tapi, rasionalitas politik selalu bertumpu pada prinsip "bagaimana mengadaptasikan kebutuhan partai terhadap situasi politik yang sedang terjadi". Artikel saya tentang PKS bisa dibaca ulang.

Setelah Nasdem, PKB dan PKS, Golkar berpeluang untuk tergoda oleh pasangan Anies-Cak Imin. Golkar boleh jadi sedang menunggu momen untuk keluar dari koalisinya dengan Gerindra. Satu pertanyaan yang selalu ada di kubu Golkar: "Apa keuntungan Golkar bergabung dengan Gerindra? Apa keuntungan Golkar mendukung Prabowo?". Nyaris tidak ada.

Pertama, peluang Prabowo untuk menang diprediksi akan menipis sejak Anies mengambil Cak Imin sebagai pasangannya. Suara Prabowo dari warga Nahdhiyin di Jawa Timur dan Jawa Barat akan tergerus. Saat ini, suara itu berangsur diambil kembali oleh Cak Imin.

Kedua, Golkar juga tidak mendapat coattail effect dari pencalonan Prabowo. Di siai lain, justru konstituen Golkar yang mendukung Anies angkanya cukup besar. Sebagian kader Golkar di belakang layar bahkan secara aktif mengkampanyekan Anies. Elite Golkar umumnya tahu fakta ini.

Kecuali jika Airlangga Hartarto, ketua umum Golkar dipilih jadi cawapres Prabowo. Di sini akan ada coattail effect buat Golkar. Tapi, kemungkinan Airlangga dipilih jadi cawapres Prabowo juga sangat kecil. Pertimbangannya, menggandeng Airlangga tidak dapat menaikkan suara Prabowo.

Jika ada "faktor X" yang membuat Prabowo terpaksa harus ambil Airlangga sebagai cawapres, maka PAN kemungkinan akan keluar dari Koalisi. Tugas PAN untuk menegosiasikan Erick Tohir berakhir. PAN tidak ada beban lagi untuk exit dari kubu Prabowo. Kalau PAN keluar, kemana PAN akan bergabung?

Kalau bergabung ke PDIP justru bisa membuat suara PAN jeblok. Paling menguntungkan buat PAN ya bergabung ke Anies. Ini akan memberi coattail effect buat partai. Berbagai survei memberi data bahwa pendukung PAN paling banyak memilih Anies.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya