Berita

Mobil listri buatan Jepang/Disway

Dahlan Iskan

Solid State

JUMAT, 07 JULI 2023 | 04:51 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

LEGA. Mantap. Toyota akhirnya mengumumkan keseriusannya memasuki mobil listrik.

Selama ini Toyota dianggap seperti ogah-ogahan terjun ke mobil listrik. Seperti tidak semangat. Terlihat ragu apakah mobil listrik punya masa depan.

Bahkan sampai ada yang berpendapat ekstrem: era mobil listrik akan gagal kalau Toyota belum ikut serta. Dominasi Toyota di pasar mobil menimbulkan tanda tanya besar: ada apa dengan Toyota.


Sewaktu berbicara di forum Dies Natalis ke-35 PENS pekan lalu saya belum tahu perkembangan baru itu. PENS singkatan dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Tapi saya sudah berani membocorkan info bahwa Toyota pada akhirnya akan masuk ke mobil listrik. Anda pun juga sudah mulai mendengar kisi-kisinya.

Hanya saja selama ini simpang siur. Apa penyebab ogah-ogahan itu. Jepang seperti masih menimbang-nimbang teknologi energi apa yang akan dipilih: baterai atau hidrogen.

Jepang seperti tidak mau salah pilih. Begitu memutuskan pilihannya Jepang harus bisa dijamin keandalannya. Juga keamanannya.

Jepang, seperti kata Ricky Elson, terkenal tidak mau grusa-grusu. Berpikirnya panjang. Tidak takut kalah cepat. Ricky 14 tahun di Jepang. Punya banyak hak paten di sana.

Amerika, Eropa, Korea, dan apalagi Tiongkok memang sudah jauh di depan. Tesla, BMW, Hyundai, BYD sudah berlomba menguasai pasar. Toyota seperti masih tenang-tenang saja. Pun Honda.

Toyota rupanya tidak mau mengorbankan nama baiknya. Demikian juga Honda. Terutama kepercayaan yang begitu tinggi dari konsumennya.

Kalau sampai ada mobil listrik Toyota mengalami kebakaran saat tabrakan, reputasi Toyota dan Honda bisa terganggu. Padahal kelemahan utama menggunakan baterai adalah di kebakaran itu.

Maka tidak salah kalau ada yang beranggapan mungkin saja Jepang tidak mau ikut menggunakan teknologi baterai. Jepang rasanya akan memilih teknologi hidrogen. Hanya saja penelitiannya belum kunjung final. Sudah terlihat unggul tapi belum berani memulainya untuk pasar komersial.

Sabar. Tenang. Itulah Jepang. Lebih baik muncul belakangan tapi lebih tepercaya. Hidrogen akan lebih unggul dari baterai. Sudah ada yang menyimpulkan begitu.

Ternyata tidak juga. Jepang akhirnya juga pilih pakai baterai. Hanya saja baterainya bukan lagi lithium. Yang punya kelemahan bisa terbakar tadi.

Di PENS yang lalu, saya juga memperkirakan Jepang masih menimbang-nimbang: kalau pun akhirnya memilih baterai, tapi baterai yang seperti apa.

Anda pun sudah tahu, para peneliti sangat gigih bersaing. Antara peneliti lithium dan solid state. Mana yang akan unggul.

Untuk sementara lithium unggul. Pemakaian lithium meluas nyaris memonopoli. Tapi para peneliti solid state tidak mau menyerah. Memang mereka kalah di start, tapi akan unggul di finis.

Dan Toyota akhirnya mengumumkan pilihannya: pakai baterai solid state. Tidak pakai bahan likuid, tidak pakai lithium dan tidak pakai nikel.

Tidak akan ada ancaman kebakaran. Secara fisik pun lebih ringan. Lebih kecil. Kapasitasnya lebih besar. Toyota akan langsung masuk pasar dengan jaminan satu kali charging bisa untuk 1000 km. Bisa untuk Jakarta-Surabaya.

Kalau pun harus charging di tengah jalan tidak merepotkan. Cukup 10 menit atau kurang.

Itulah keunggulan solid state.

Jepang, Toyota, memilihnya tidak hanya karena itu. Jepang tidak mau tergantung pada ketersediaan bahan baku. Dengan memilih solid state Jepang tidak bisa didikte Tiongkok.

Bahan baku lithium dikuasai oleh Tiongkok. Memang ada negara lain yang juga memproduksinya. Sangat besar. Yakni Kongo di Afrika. Tapi pemilik tambangnya Tiongkok juga.

Koji Sato, CEO Toyota, akhirnya membuat pernyataan ini: "Dunia berubah dengan cepat dalam hal mobil listrik. Saya pikir Toyota harus bisa menemukan solusi di bidang itu. Kita akan dorong ke masa depan dengan cepat".

Yang dimaksud cepat itu: tahun 2027. Empat tahun lagi. Tahun itu, mobil listrik Toyota dengan baterai solid state bisa Anda beli. Lebih murah. Mestinya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya