Berita

Taliban/Net

Dunia

Tanpa Pilihan, Taliban Terperangkap Jebakan Utang China?

SENIN, 12 JUNI 2023 | 14:07 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Dibayangi krisis dan konflik, Afghanistan tampaknya tidak bisa lepas dari perangkap utang China. Setelah menguasai Afghanistan, Taliban tidak punya pilihan lain lantaran terisolasi komunitas internasional.

Begitu pendapat dari sejumlah pakar, seperti dikutip ANI News pada Senin (12/6).

Menurut analis, China tampaknya memanfaatkan kondisi Taliban untuk mendapat pijakan di Afghanistan. Itu dilakukan demi bisa mengekstraksi minyak dan lithium di sana yang belum dieksplorasi. Diperkirakan nilainya mencapai lebih dari 3 triliun dolar AS.


Afghanistan sendiri dikenal kaya akan sumber daya seperti tembaga, emas, minyak, gas alam, uranium, bauksit, batu bara, bijih besi, tanah jarang, litium, kromium, timah, seng, batu permata, bedak, belerang, travertine, gipsum, dan marmer.

Sementara China menegaskan minatnya di Afghanistan benar-benar altruistik, para ahli dan pengamat bersikeras ada kepentingan lain yang berperan.

Menteri luar negeri China, Afghanistan dan Pakistan baru-baru ini bertemu di Islamabad sebagai kelanjutan dari upaya Beijing yang tak henti-hentinya untuk membuka jalan investasi baru di bawah Belt and Road Initiative (BRI).

Selain membahas sejumlah masalah regional termasuk keamanan, ketiga pihak mencapai kesepakatan bulat untuk memperluas Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) ke Afghanistan.

Awal Januari tahun ini, pemerintahan yang dipimpin Taliban menandatangani kontrak dengan perusahaan milik negara China, China National Petroleum Corporation (CNPC), untuk mengekstraksi minyak dari cekungan Amu Darya dan mengembangkan cadangan minyak di Provinsi Sar-e-Pul.

Jurubicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengatakan  perusahaan China akan menginvestasikan 150 juta dolar per tahun di Afghanistan berdasarkan kontrak tersebut. Investasinya akan meningkat menjadi 540 juta dolar dalam tiga tahun untuk kontrak 25 tahun.

Saat bantuan Barat mengering di Afghanistan, ini adalah situasi yang saling menguntungkan bagi China, yang memiliki rencana besar untuk berinvestasi di berbagai sektor termasuk mengeksplorasi cadangan litium.

"China adalah ekonomi yang tumbuh yang haus akan sumber daya material dan mengincar lithium karena China ingin memangkas kendaraan listrik. Lithium adalah salah satu komponen kunci dalam pembuatan baterai Jadi China memandang Afghanistan sebagai negara tempat bahan berharga dapat diekstraksi," ujar pakar politik Asia Selatan, Profesor Dipankar Sengupta.

Meski begitu, keamanan adalah masalah paling penting yang saat ini dikhawatirkan China di Afghanistan, terutama di daerah paling terpencil. Investasi besar China telah menjadi sasaran ISIS-K dan kelompok teroris lainnya.

Kelompok jihadis Islam, terutama ISIS-K, menargetkan orang China karena menekan komunitas Muslim Uighur dan kebijakan imperialis seperti BRI.

ISIS-K juga telah menerbitkan sebuah editorial di majalah Voice of Khurasan tahun lalu, menunjukkan keprihatinan atas hubungan Taliban-Beijing. Tajuk rencana tersebut bahkan menyoroti kekhawatiran tentang agenda ekspansionisme dan kolonisasi China.

Sementara Barat terus menjauh dari Afghanistan, China tidak memiliki keraguan untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang belum dimanfaatkan senilai triliunan dolar dari negara tersebut.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Tom Holland dan Zendaya Bakal Rehat Setelah Spider-Man Brand New Day

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:52

IAW: Ada Dugaan Intervensi Kasus Dedi Congor

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:51

Sidang Perdana Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 Agustus

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:42

Prabowo Tinjau Deretan Inovasi BRIN, dari Air Minum Darurat hingga Teknologi Nuklir

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35

Komisi III DPR Minta Polisi Ungkap Pemasok Senpi di Yayasan Sekolah Jaksel

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:28

Partisipasi Bermakna di Black Box Regulasi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:15

Amplop Berisi 14 Ribu Dolar Singapura Memang Dikembalikan, tapi Isinya Berkurang

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:02

Prabowo Tekankan Pentingnya Sains dan Teknologi bagi Masa Depan Bangsa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:54

Isu Pergantian Kapolri Bisa Merugikan Presiden jika Tidak Hati-Hati

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:53

Food Station Masih Andalkan Laba Bersih dari PSO

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:30

Selengkapnya