Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Jelang Pilpres 2024, GMNI Ingatkan Rakyat Hati-hati Pilih Pemimpin

SELASA, 16 MEI 2023 | 04:23 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Intoleransi masih menjadi persoalan yang krusial dalam hubungan kemasyarakatan di Indonesia. Belum lama ini, Setara Institute merilis laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2022. Hasilnya, secara rata-rata tingkat pengelolaan toleransi antarpenduduk di kota-kota di tanah air cenderung stagnan.

Tak hanya Setara Institute, sejumlah riset juga menunjukkan tingkat toleransi di Indonesia mengalami krisis. Dalam Fragile State Index 2022 yang dirilis The Fund for Peace menempatkan Indonesia di peringkat 100 dari 179 negara. Indeks ini mengukur kerentanan suatu negara terhadap potensi konflik atau perpecahan.

Terkait hal ini, Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino menyampaikan bahwa masyarakat perlu berhati-hati dalam memilih pemimpin di tahun politik 2024.


Karena Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki keberpihakan yang jelas pada prinsip kebhinekaan dan keberagaman ditengah kondisi krisisnya toleransi terhadap kebhinekaan dan keberagaman.

“Masyarakat harus hati-hati pilih pemimpin di 2024 nanti. Jangan sampai pemimpin yang terpilih akan memperparah krisisnya toleransi terhadap kebhinekaan dan keberagaman. Keutuhan bangsa jadi taruhan,” kata Arjuna dalam keterangan tertulis, Senin (15/5).

Menurut Arjuna, masyarakat perlu teliti melihat rekam jejak para calon pemimpin bangsa ke depan. Terutama harus dipastikan tidak memilih pemimpin yang punya rekam jejak pernah mengeksploitasi isu SARA dalam kampanye politik untuk meraih kursi kekuasaan. Dan mengorbankan keakraban dan harmoni sosial di masyarakat.

“Masyarakat harus teliti rekam jejaknya. Jika calon pemimpin itu punya rekam jejak melakukan kampanye SARA dalam meraih kursi kekuasaan, lebih baik tidak usah dipilih. Karena berbahaya bagi kepentingan yang lebih besar yaitu eksistensi NKRI yang Bhineka Tunggal Ika”, tambah Arjuna

Arjuna juga menyampaikan masyarakat jangan sampai terlena dengan pidato atau retorika politik yang seakan indah dan ideal. Namun kita juga harus menengok apa yang dilakukannya di masa lalu, karena rekam jejak tersebut akan mencerminkan tindakannya di masa yang akan datang. Sehingga masyarakat perlu melihat secara komprehensif rekam jejak calon pemimpin tidak hanya terjebak potongan-potongan informasi.

“Kita tidak boleh terlena oleh kemasan kata-kata yang indah seakan ideal. Namun punya rekam jejak memantik api perpecahan dengan politisasi SARA misalnya. Kita tidak boleh tertipu oleh kemasan, tapi harus menilai satunya kata dan tindakan”, ungkap Arjuna

Peran pemimpin sangat penting dalam menentukan meningkat atau menurunnya angka intoleransi. Karena faktor regulasi pemerintah dan tindakan pemerintah yang mencakup pernyataan pejabat kunci seperti Presiden sangat berpengaruh. Apabila calon pemimpin didukung oleh kelompok intoleran maka akan sulit diyakini dapat menjaga keberagaman dan toleransi karena tersandera oleh kepentingan para pendukungnya.

“Jika seorang calon pemimpin didukung oleh kelompok intoleran maka tidak bisa diharapkan mampu mengatasi masalah intoleransi yang meningkat sekarang. Indikatornya adalah nasionalisme dalam tindakan, bisa dilihat dari cara dia meraih kekuasaan hingga kebijakan yang diambil saat berkuasa. Semua ada jejak digitalnya. Jadi masyarakat perlu mawas diri”, tutup Arjuna.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

RH Singgung Perang Bubat di Balik Sowan Eggi–Damai ke Jokowi

Jumat, 09 Januari 2026 | 20:51

UPDATE

VFive Group Salurkan Zakat Usaha Lebih dari Rp10 Miliar

Minggu, 18 Januari 2026 | 19:48

Parpol Ditantang Buat Komitmen Nasional Anti-Politik Uang

Minggu, 18 Januari 2026 | 19:32

Black Box Pesawat ATR 42-500 Ditemukan!

Minggu, 18 Januari 2026 | 18:55

KPK Masih Kuliti Dugaan Rasuah BPKH

Minggu, 18 Januari 2026 | 18:24

Denny JA Ungkap Akar Etika Kerja dan Kejujuran Swiss dari Reformasi Zurich

Minggu, 18 Januari 2026 | 18:20

Potongan Bangkai Pesawat ATR 400

Minggu, 18 Januari 2026 | 17:53

Haji Suryo Bangun Masjid di Tanah Kelahiran

Minggu, 18 Januari 2026 | 17:32

Lawatan LN Perdana 2026, Prabowo Sambangi Inggris dan Swiss

Minggu, 18 Januari 2026 | 17:15

Kebijakan Paket Ekonomi Lanjut Prioritaskan UMKM dan Lapangan Kerja

Minggu, 18 Januari 2026 | 16:56

Prabowo Jadi Saksi Nikah Sespri Agung Surahman, Jokowi Ikut Hadir

Minggu, 18 Januari 2026 | 16:55

Selengkapnya