Berita

Foto Disway

Dahlan Iskan

Setengah Lebaran

JUMAT, 21 APRIL 2023 | 05:23 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

DI HARI setengah Lebaran ini saya ingin mengungkapkan gejolak perasaan saya: sebenarnya saya sering ingin menanggapi langsung komentar di disway.id. Terutama yang menyangkut diri saya.

Saya pernah coba ingin masuk ke panggung komentar itu. Gagal. Tidak semudah yang saya bayangkan. Dari situ saya ingin memuji pembaca yang sering posting komentar: kok tabah ya menghadapi kesulitan meng-upload komentar seperti itu.

Tapi saya syukuri kegagalan itu. Lalu saya putuskan untuk tidak usah menanggapi komentar. Nanti justru terasa nyinyir. Suka bela diri. Juga terasa menjadi dominan: seolah sayalah pemilik Disway. Biarlah disway.id ini didominasi komentator. Terutama perusuh. Bahkan perusuh yang nakal.


Saya juga rela –ada lagu dangdut ''aku rela''–ketika ada komentar yang mengatakan Disway ini menariknya justru di komentar. Bukan di artikel saya. Kian banyak saja yang membaca Disway dimulai dari membaca komentar. Maka nama-nama komentator tertentu lebih populer dari nama saya.

Salah satu yang ingin saya komentari adalah: komentar soal batuk yang tidak berhenti-berhenti itu. Apalagi disertai pengalaman pribadinya: batuknya tidak kunjung berhenti pun setelah diberi obat dokter. Lalu ia –hayo mengaku siapa nama Anda sebenarnya– menemukan sendiri cara menghentikan batuknya. Yakni tidak usah makan obat. Cukup mengubah cara makan.

Menurut komentar tersebut, sejak itu ia selalu makan dengan tidak terburu-buru. Ia sabar mengunyah makanan sampai 50 kali. Baru ditelan. Batuk pun berhenti. Intinya: penyebab sakit adalah pencernaan yang kurang baik. Makanan perlu dikunyah 50 kali agar tercampur sempurna dengan air liur.

Saya memang pernah membaca: gigi adalah alat pencernaan. Salah satunya. Dulu saya kira gigi itu hanya alat kunyah saja. Saya lupa: tanpa dikunyah dengan baik maka beban pencernaan kita yang di dalam perut sangat berat. Kadang melebihi kemampuannya.

Apalagi di hari setengah Lebaran seperti hari ini.

Setelah membaca komentar itu saya mencoba melakukan apa yang disarankan. Ada yang lucu: kalau kita mengunyah makanan sampai 50 kali, ternyata kita tidak perlu menelan makanan itu. Dalam kunyahan ke 45 sudah banyak makanan yang mengalir sendiri ke tenggorokan.

Tentu itu tergantung pada apa yang dikunyah. Saat itu saya lagi di Wuhan. Setelah dari Tianjin dan Beijing. Saya makan malam dengan temannya teman di Wuhan. Makan tahu. Kebetulan teman-teman saya pada asyik ngobrol. Saya bisa mengunyah lama tanpa diperhatikan. Di kunyahan ke-35 sudah separo potongan tahu masuk ke kerongkongan. Mengalir sendiri begitu saja. Mungkin saking lembutnya.

Lalu saya makan daging lada hitam. Potongan dagingnya saya pilih yang paling besar. Sampai kunyahan ke-40 masih terasa. Di kunyahan ke 45 sebagian sudah tertelan sendiri. Maka sampai di kunyahan ke-50 tinggal sisa-sisanya.

Tapi itu juga berarti dagingnya memang empuk. Maknyus. Bayangkan kalau itu kikil yang masih banyak terikut tulang mudanya. Pasti beda.

Rasanya, doktrin komentator ''harus 50 kali'' itu tidak harus. Tergantung apa yang dimakan. Juga seberapa banyak volume makanan yang masuk mulut. Mungkin doktrin 50 kali itu khusus untuk makanan yang sulit dicerna.

Saya mencoba lagi ketika buka puasa di Changsha, ibu kota provinsi Hunan. Tempat kelahiran Mao Zedong, pendiri partai komunis Tiongkok. Saya makan nasi. Pakai sumpit. Dalam kunyahan ke-30 semua nasi sudah hilang dari mulut. Secara otomatis.

Itu karena nasinya tidak banyak. Saya belum ahli makan nasi pakai sumpit. Beda dengan makan nasi pakai tangan sendiri. Apalagi waktu muda dulu. Satu pulukan saja bisa sampai membuat pipi tembem. Waktu itu semangat memuluknya disertai rasa takut: nasinya keburu dihabiskan kakak-adik.

Intinya: kalau makan jangan terburu-buru. Terutama di hari setengah Lebaran seperti ini. Kunyahlah sampai sempurna.

Suatu saat istri saya kabungkalanan. Dia menuding-nuding air di sebelah saya tanpa bisa berkata-kata. Saya tahu maksudnyi: ambilkan air itu. Dia pun meneguk air itu. Kabungkalanan-nyi pun teratasi.

Minum air sering dianggap sebagai cara ampuh mengatasi kabungkalanan. Itu betul. Tapi tidak pernah dipikirkan mengapa sampai terjadi kabungkalanan. "Mungkin lagi dibicarakan orang," ujar istri.

Saya berharap istri saya sudah membaca komentar soal 50 kali kunyah itu. Cara terbaik mencegah kabungkalanan adalah: patuhi doktrin kunyah 50 kali. Setidaknya 70 persennya. Setidaknya lagi punya daftar: makanan jenis apa harus dikunyah berapa kali.

Saya mencoba mengunyah lebih banyak untuk jenis makanan yang keras, berminyak, berlemak, dan yang sulit ditelan seperti kuning telur.

Saya juga ingin mengunyah lebih banyak untuk jenis makanan seperti durian. Agar sebagian bahayanya diambil alih oleh liur. Tapi untuk durian saya selalu gagal mengunyahnya, pun hanya 25 kali. Sebagian karena durian itu lembut. Sebagian lagi karena ingin melahap durian berikutnya.

Untung tidak ada sajian durian di meja-meja setengah Lebaran hari ini.

Mohon maaf Lahir Batin.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya