Berita

Ilustrasi

Dahlan Iskan

Paranjoy Kerikil

SENIN, 20 FEBRUARI 2023 | 05:15 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INILAH satu-satunya wartawan yang dihukum "tidak boleh bicara dan menulis tentang konglomerat Grup Adani".

Umur wartawan itu sudah 67 tahun.

Konglomerat terbesar kedua India itu memperkarakan wartawan tersebut di dua arah: pidana dan perdata. Total 10 perkara.


Nama wartawan itu: Paranjoy Guha Thakurta.

Paranjoy ternyata sudah menulis soal Adani jauh sebelum Hinderburg Research New York membongkar sisi negatif Adani.

Bedanya Hinderburg kini lagi "menang". Saham grup Adani runtuh tinggal separo harga. Sampai Jumat lalu pun masih terus turun. Adani kehilangan kekayaan USD 130 miliar. Atau hampir Rp 2.000 triliun. Dalam sekejap.

Tapi Adani masih konglomerat besar. Setidaknya masih 30 besar di India.

Sedang Paranjoy masih dalam status "kalah". Awalnya. Belum tahu akhirnya nanti.

Paranjoy adalah wartawan ekonomi-politik. Tulisan pertama yang menyerang Adani terbit di EPW (Economic and Political  Weekly). Tahun 2017. Soal dugaan penggelapan pajak. Lalu soal Adani mendapat keuntungan dari kebijakan pemerintah.

Mingguan EPW pun disomasi Adani. Artikel itu harus dicabut dari EPW. Kalau tidak, Paranjoy dan penerbitnya akan diperkarakan.

Rapat pimpinan EPW pun diadakan. Paranjoy adalah pemimpin redaksi di mingguan itu. Di rapat itu diputuskan: artikel tersebut dicabut. Paranjoy menolak.

Tapi pimpinan perusahaan lebih berkuasa. Paranjoy belum boleh keluar ruang rapat kalau belum mau mencabut tulisannya.

Akhirnya Paranjoy setuju tulisan tersebut dicabut. Lalu ia minta selembar kertas. Ia menulis pengunduran dirinya.

Paranjoy belum kalah. Tulisan yang sudah dicabut itu pun ia kirim ke penerbit online: The Wire. Grup Adani pun menggugat penerbit The Wire dan Paranjoy. Bahkan mengadukan Paranjoy secara pidana.

Grup Adani tidak hanya menggugat di satu pengadilan. Konglomerat itu menggunakan lima pengadilan. Tiga di Gujarat (di tiga kota yang berbeda), satu di New Delhi dan satu di Mumbay.

Proses perkara ini panjang. Sampai datangnya Covid-19 belum semua selesai. Paranjoy punya alasan pandemi untuk tidak memenuhi panggilan pengadilan.

Akhirnya Paranjoy diancam akan ditahan. Tanpa bisa menggunakan uang jaminan.

Salah satu perkara yang sudah selesai adalah: keinginan Adani agar tulisan itu dicabut. Pengadilan memutuskan: tidak harus dicabut. Tapi beberapa kalimat harus diperbaiki.

Dalam perjalanannya yang panjang dan melelahkan Adani akhirnya mencabut semua gugatannya: kecuali untuk Paranjoy. Adani merasa tulisan itu mengandung unsur pidana. Paranjoy dianggap kunci semua itu.

Ketika perkara Paranjoy masih berproses, meledaklah "bom" di Adani. Bom bikinan Hinderburg. Yang ditulis dalam laporan Hinderburg pun jauh lebih dalam dari yang ditulis Paranjoy.

Setelah bom Adani itu meledak. Harian The Telegraph India mewawancarai Paranjoy.

Apakah yang dipublikasikan Hinderburg itu ada kesamaan dengan tulisan Anda?

“Ada. Tapi mereka menulis sampai 32.000 kata. Kalau dibuat buku sampai 150 halaman".

Apakah Anda dihubungi Hinderburg sebelum laporan itu terbit?

“Tidak. Tapi mereka kan mengambil juga bahan dari publikasi yang sudah menjadi milik umum".

Apakah Anda pernah benar-benar ditahan?

“Sampai detik ini, belum pernah".

Apakah Anda pernah bertemu Gautam Adani?

"Pernah. Dua kali. Lalu telepon satu kali. Di pertemuan itu saya ditemani istri dan penulis lain. Selama dua jam dan 1 jam 55 menit. Yang lewat telepon 15 menit".

Siapa yang berinisiatif mengadakan pertemuan itu?

“Pengacara saya. Tujuannya untuk bisa terjadi perdamaian. Yang lewat telepon dari saya sendiri".

Apakah perkara ini mempengaruhi hidup Anda?

“Sangat. Menghabiskan waktu. Dan biaya".

Apakah Anda akan berubah?

“Tidak".

Melihat gelagatnya perkara ini pun akan berakhir di luar pengadilan. Tapi ketika pertemuan demi pertemuan belum menghasilkan kesimpulan, suasana di Adani berubah total. Grup Adani tiba-tiba punya musuh yang jauh lebih besar. Selama itu Adani hanya menghadapi satu kucing. Kini ia menghadapi singa raksasa.

Paranjoy lahir di Kalkuta. Lulus universitas di sana. Ia sudah menulis lebih dari 20 buku. Juga membuat video berita banyak sekali.

Ternyata masih ada wartawan seperti Paranjoy. Intelektual terkemuka India seperti Profesor Amartya Sen dan Noam Chomsky pun berada di belakangnya. Mungkin Paranjoy hanya dianggap kerikil di sepatu Adani. Kini ada batu besar di depan matanya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya