Berita

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi saat menyampaikan keterangan pers pengungkapan kasus karyawan bunuh bos di Mapolda Metro Jaya/RMOL

Publika

Bos Warung Dibunuh Karyawan Ngaku Gaji Kecil

SABTU, 18 FEBRUARI 2023 | 19:00 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

PEMILIK warung, Intan (29) dikepruk tabung elpiji 3 kg kena kuping. Tengkorak remuk, tewas. Pelaku pria remaja, HK (21 ) dan MA (14) pelayan warung itu baru sepekan. Ditangkap polisi, mereka ngaku, gegara gaji kecil

Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (17/2) mengatakan, tersangka mengaku, mereka sakit hati gaji kecil, pekerjaan berat. "Masih kami dalami," ujarnya.

Peristiwa di ruko, warung ayam goreng di Kampung Kemejing, Sukakarya, Bekasi, Kamis, 16 Februari 2023 sekitar pukul 12.30 WIB. Para tersangka ditangkap polisi di rumah keluarga mereka di Ciasem, Subang, Jabar, Jumat, 17 Februari 2023 pukul 01.00 WIB.


Mirisnya, para pelaku menggondol anak korban, bayi laki usia 18 bulan bernama Ahza. Bayi itu menangis, ditinggal sendirian di pos ronda, sekitar 150 meter dari tempat penangkapan para tersangka. Jabang bayi diamankan polisi, sebelum membekuk tersangka.

Kronologi diceritakan kakak Intan bernama Rara Sinta (32) kepada wartawan, begini:

Kamis, 16 Februari 2023 pukul 08.00 WIB berangkat dari rumah menuju warung, sambil menggendong Ahza. Warungnya ruko satu lantai, jual nasi ayam goreng bertulisan: "Kriuk"..

Rara: "Dia biasa jaga warung bersama Ahza. Karena di warung sudah ada dua karyawan (HK dan MA). Sedangkan suami Intan kerja." Tahu-tahu, siangnya, Rara dengar kabar kakaknya tewas dibunuh.

Orang pertama mengetahui itu, suami Intan. Ia pulang dari tempat kerja menuju ke warung sekitar pukul 13.00 WIB. Warung tutup, rolling door terkunci. Ia merasa ada yang aneh. Mestinya warung buka. Lalu ia membuka dengan kunci cadangan.

Ternyata di dalam Intan tergeletak berdarah-darah, menggenang. Di sebelahnya ada tabung elpiji penuh darah. Segera, ia membopong isterinya ke klinik terdekat. Dokter menyatakan, Intan sudah meninggal. Tengkorak remuk.

Barulah ia ingat, mencari Ahza. Tidak ketemu, lalu lapor polisi.

Sebelum pembunuhan, ada dua saksi mendengar Intan berteriak-teriak histeris. Para saksi sudah dimintai keterangan polisi. Kombes Hengki mengatakan, dua saksi pria wanita itu berada di TKP, mendengar teriakan korban, saksi mendekati warung. Bertanya ke HK, "Ada apa?"

Hengki: "Kemudian pelaku menjawab: Tidak ada apa-apa. Tadi ada ular masuk warung, jadi ibu (korban) teriak ketakutan. Adek bayi ikut nangis."

Maka, dua saksi meninggalkan TKP. Setelah itu, para saksi tidak berada di sekitar situ lagi. Mereka tidak tahu proses para pelaku meninggalkan warung, menutup mengunci warung, sambil membawa bayi Ahza. Para pelaku kini ditahan di Polda Metro Jaya.

Hengki: "Para pelaku mengaku sudah merencanakan pembunuhan sejak tiga hari lalu. Padahal, mereka baru kerja seminggu lalu. Motifnya itu tadi, gaji kecil."

Alasan tersangka bisa dianggap tidak logis, karena gaji kecil mereka kok mau kerja? Mengapa tidak mengundurkan diri?

Tapi, di kondisi kemiskinan rakyat kelas bawah, memang begitu. Masyarakat miskin kepepet, sulit dapat pekerjaan di kondisi krisis sekarang. Ada kerjaan begitu, gaji kecil. Mau ditinggal, butuh nafkah. Dijalani tapi menggerutu terus. Maka, ketika ada letupan kecil dari majikan, kemarahan meledak. Membunuh.

Martin Daly dalam bukunya bertajuk: "Killing the Competition: Economic Inequality and Homicide" (July 2016) menyebutkan,

Ketimpangan penghasilan masyarakat di suatu negara, adalah masalah ekonomi. Mestinya diselesaikan penyelenggara negara bidang ekonomi. Tapi, dampak ketimpangan melebar ke mana-mana. Jadi problem sosiologi. Merembet pula ke kriminologi. "Paling bahaya, menimbulkan pembunuhan," kata buku itu.

Ketidaksetaraan penghasilan, atau kesenjangan antara masyarakat terkaya dan termiskin, menimbulkan jurang. Kondisi begini rawan kejahatan. Antara lain, pembunuhan.

Prof Daly adalah mantan guru besar kriminilogi McMaster University, Ontario, Kanada. Ia melakukan riset korelasi antara kesenjangan dengan tindak kriminal, selama puluhan tahun.

Daly: “Orang kaya seperti saya, jika seseorang menghina saya, misalnya, di bar, maka saya bisa memutar mata dan pergi. Tapi, jika Anda menganggur, atau setengah menganggur, dan satu-satunya sumber status dan harga diri Anda adalah posisi Anda di lingkungan bar itu, jika terjadi sedikit letupan, kemarahan bisa berapi-api."

Sebab, sudah tersimpan cemburu sosial. Antara si kaya dan miskin. Tinggal tunggu pencetus.

Daly menyebut, teori itu diakui Bank Dunia. Yang mendata negara-negara dengan tingkat kesenjangan tinggi. Dalam ilmu ekonomi disebut "The Gini Coefficient" (Koefisiensi Gini - KG).

Daly: "Bank Dunia menemukan, bahwa negara dengan tingkat KG yang tinggi, lebih banyak pembunuhan dibanding KG yang rendah."

KG adalah statistik perbedaan pendapatan masyarakat dalam suatu negara, dicetuskan pakar statistik Italia, Corrado Gini dalam bukunya bertajuk: "Variability and Mutability" (1912). Dalam bahasa aslinya, bertajuk: "Variabilità e Mutabilità".

KG berskala 0 sampai 1. Tiap negara punya catatan KG. Semakin rendah (0) berarti tidak ada ketimpangan pendapatan warga. Semakin tinggi (1) semakin timpang. Berdasarkan Bank Dunia, negara dengan KG tertinggi sekarang Afrika Selatan dengan data KG 0,63.

Dikutip dari data Badan Pusat Statistik, 15 Juli 2022, KG Indonesia per akhir September 2021 ada dua: Pedesaan 0,38 Perkotaan 0,40.

Artinya, masih lebih bagus Indonesia dibanding negara dengan KG terburuk dunia, Afrika Selatan. Artinya, di Afsel mestinya lebih banyak pembunuhan dibanding di sini.

Tapi, teori Prof Daly tidak seimbang jika tidak dikomparasi dengan etos kerja suatu masyarakat. Karena, etos kerja masyarakat membentuk negara jadi maju, dan kesenjangan (KG) menyempit.

Etos kerja orang Indonesia bagaimana? Belum pernah diukur. Atau ogah mengukur.

Mochtar Lubis dalam bukunya bertajuk: "Manusia Indonesia" (1977) merinci etos kerja orang Indonesia ada enam item, begini:

1) Munafik atau hipokrit. Suka pura-pura, lain di mulut lain di hati. 2) Enggan bertanggung jawab. Suka mencari kambing hitam. 3) Berjiwa feodal. Gemar upacara, suka dihormati daripada menghormati, dan lebih mementingkan status daripada prestasi. 4) Percaya takhyul. Gemar hal keramat, mistis dan gaib. 5) Berwatak lemah. Kurang kuat mempertahankan keyakinan, plinplan, dan gampang terintimidasi.

Cuma nomor enam yang, menurut buku itu, bagus: Artistik dan dekat dengan alam.

Orang Indonesia menyukai, dan ahli, dalam kesenian. Membatik, mengukir, melukis, gamelan, sandiwara, ketoprak, ludruk, hal-hal yang artistik.

Dalam pembunuhan Intan di Bekasi, para pelaku masih muda usia. dikaitkan dengan buku Mochtar Lubis, masuk di nomor dua dan lima. Ogah tanggung jawab (menelantarkan bayi). Cari kambing hitam (gaji). Watak lemah, gampang terintimidasi.

Tapi, kalau dikaitkan dengan teori Prof Daly, bisa lain. Penyelenggara negara tidak mampu membikin rakyat makmur. Tinggal pilih mana? Bisa juga kombinasi keduanya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya