Berita

Ilustrasi Gedung MK/Net

Hukum

MK Bentuk Mahkamah Kehormatan Usut Pergantian Hakim Konstitusi

SENIN, 30 JANUARI 2023 | 18:03 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Dugaan perubahan frasa dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas perkara uji materiil norma pergantian Hakim Konstitusi dalam UU 7/2020 tentang MK akhirnya ditindaklanjuti dengan pembentukan Mahkamah Kehormatan MK (MKMK)

Hal tersebut disampaikan Hakim Konstitusi, Enny Nurbaningsih bersama Ketua MK, Anwar Usman, dan Wakil Ketua MK, Arief Hidayat, dalam jumpa pers usai menggelar Rapat Permusyaratan Hakim (RPH) di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (30/1).

"Kami telah menyepakati bahwa penyelesaian mengenai bagaimana kronologisnya atau kebenaran atas isu yang berkembang itu tidak dilakukan oeh kami sendiri, oleh hakim. Tapi akan diselesaikan melalui Mahkamah Kehormatan Mahkamah Konstitusi, yaitu MKMK," ujar Enny.


Ia menjelaskan, saat ini tengah dibuat Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) terkait dengan pembentukan MKMK dalam mengusut kasus dugaan perubahan Putusan Perkara Nomor 103/PUU-XX/2022.

"Ini akan segera ditandatangani, PMK tentang MKMK. Karena ini, MKMK, adalah lembaga yang baru yang sebelumnya adalah Dewan Etik MK. Dimana dengan adanya UU 7 (Tahun 2020 tentang MK) itu kemudian berubah menjadi MKMK," sambungnya menjelaskan.

Diurai Enny, MKMK nantinya akan beranggotakan 3 orang yang diisi oleh satu orang dari kalangan masyarakat yang mengerti hukum dan konstitusi negara, satu orang akademisi, dan satu orang Hakim Konstitusi yang masih aktif bekerja di MK.

"(Anggota MKMK dari kalangan) Hakim (Konstitusi) aktif, berdasarkan kesepakatan hasil RPH, menunjuk saya sebagai salah satu anggota," kata Enny.

Sedangkan dua anggota MKMK dari unsur tokoh masyarakat dan akademisi yaitu Profesor Sudjito yang merupakan Anggota Dewan Etik MK, dan mantan Hakim Konstitusi I Dewa Gede Palguna.

"Jadi pada prinsipnya kami akan segera nanti pada MKMK, ini pasti akan ada SK penunjukan mengenai hal itu, untuk segera bekerja secepat mungkin, supaya segala sesuatunya bisa terang benderang," demikian Enny menambahkan.

Terkait dugaan perubahan Putusan MK atas perkara uji materiil norma pergantian Hakim Konstitusi ada pada substansi gugatan.

Substansi gugatan yang dimaksud adalah terkait masa pemberlakuan Putusan MK yang pada intinya berbicara mengenai pemberhentian Hakim Konstitusi, dan disebut-sebut terkait dengan pemberhentian Hakim Konstitusi Aswanto oleh DPR RI.

Dugaan perubahan putusan diketahui oleh anggota tim hukum penggugat perkara, Zico Leonard Diagardo, yang mengetahui ada satu frasa yang berbeda dari yang dibacakan Hakim Konstitusi Saldi Isra dalam sidang putusan pada November 2022 lalu, dengan risalah sidang yang diupload ke website MK.

Adapun putusan perkara yang dibacakan Saldi Isra dalam sidang adalah sebagai berikut: Dengan demikian pemberhentian hakim konstitusi sebelum habis masa jabatannya hanya dapat dilakukan karena alasan: mengundurkan diri atas permintaan sendiri yang diajukan ke Ketua Mahkamah Konstitusi, sakit jasmani atau rohani secara terus menerus selama 3 bulan sehingga tidak menjalankan tugasnya yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter, serta diberhentikan tidak hormat karena alasan sebagaimana termaktub dalam Pasal 23 ayat (2) UU MK...

Sementara frasa yang diduga terjadi perubahan ada di bagian awal risalah putusan yang diupload ke website MK, yaitu: Ke depan, pemberhentian Hakim Konstitusi sebelum habis masa jabatannya hanya dapat dilakukan dengan alasan: mengundurkan diri atas permintaan sendiri yang diajukan kepada Ketua Mahkamah Konstitusi, sakit jasmani atau rohani secara terus menerus selama 3 bulan sehingga tidak menjalankan tugasnya yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter, serta diberhentikan tidak hormat karena alasan sebagaimana termaktub dalam Pasal 23 ayat (2) UU MK...

Jika putusan MK yang termaktub dalam risalah putusan yang dipload ke website MK yang  diberlakukan, Zico memandang itu akan berimplikasi pada pergantian Hakim Konsitusi Aswanto dengan Guntur Hamzah yang dilakukan sepihak oleh DPR RI.

Pasalnya, jika itu terjadi maka dapat diduga terjadi kerancuan dalam proses pergantian Hakim Konstitusi Aswanto, karena jika putusan yang berlaku adalah sesuai dengan pengucapan Saldi Isra dalam sidang, maka pergantian Hakim Konstitusi Aswanto harus sesuai ketentuan Pasal 23 ayat(2) UU MK.

Bunyi Pasal 23 ayat (2) menyatakan, Hakim Konstitusi diberhentikan tidak dengan hormat apabila:

1. Dijatuhi pidana penjara bersadarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap karena melakukan perbuatan pidana yang diancam hukuman penjara;

2. Melakukan perbuatan tercela;

3. Tidak menghadiri persidangan yang menjadi tugas dna kewajibannya selama 5 kali berturut-turut tanpa alasan yang sah;

4. Melanggar sumpah atau janji jabatan;

5. Dengan sengaja menghambat Mahkamah Konstitsi memeri putusan dalam waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7B ayat (4) UUD 1945

6. Melanggar larangan rangkap jabatan sebagaimana dimaksud Pasal 17 UU MK;

7. Tidak lagi memenuhi syarat sebagai hakim konstitusi;

8. Melanggar kode etik dan pedoman perilaku Hakim Konstitusi.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya