Berita

Ilustrasi gedung KPK/RMOL

Hukum

Jawab Novel Baswedan, Siaga 98: KPK Sudah On The Track Lakukan Tangkap Tangan

KAMIS, 22 DESEMBER 2022 | 22:23 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini dianggap sudah on the track dengan melakukan kegiatan tangkap tangan, bukan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) seperti Novel Baswedan. OTT era Novel Baswedan saat menjadi penyidik KPK dianggap berpotensi disalahgunakan dengan merencanakan penindakan pihak-pihak tertentu semata.

Begitu yang disampaikan oleh Koordinator Simpul Aktvis Angkatan 98 (Siaga 98), Hasanuddin menanggapi pernyataan Novel Baswedan yang menyatakan "KPK sekarang sudah sangat jarang OTT, disuruh jangan sering-sering. Apa Artinya dilarang sama sekali OTT?".

Hasanuddin mengatakan, OTT sering terjadi di era KPK masa lalu. Sebab, OTT menjadi bagian dari strategi pemberantasan korupsi. Sebagai suatu strategi, maka tangkap tangan adalah penindakan yang direncanakan secara terstruktur, sistematis, dan massif (TSM). Model penindakan seperti itu dianggap berpotensi melanggar hukum atau KUHAP.
 

 
Karena kata Hasanuddin, tangan dalam dalam pengertian KUHAP yakni dalam Pasal 1 butir 19, dilakukan secara spontanitas tanpa adanya rencana. Sementara operasi dilakukan secara terencana atau TSM.
 
"Dalam OTT dapat dilakukan penyadapan bahkan jauh sebelum peristiwa pidananya terjadi, cukup dengan dugaan atau indikasi semata, yang tentu saja sudah bukan lagi dalam pengertian Tangkap Tangan sebagaimana dimaksud KUHAP Pasal 1 butir 19 yang sifatnya spontanitas," ujar Hasanuddin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (22/12).

Dalam Pasal 1 butir 19 itu jelas Hasanuddin, berbunyi "Tertangkap tangan adalah tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana, atau dengan segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya atau apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau membantu melakukan tindak pidana itu".

Oleh sebab itu kata Hasanuddin, OTT berpotensi disalahgunakan dengan merencanakan penindakan pihak-pihak tertentu semata. Secara ekstrim, OTT dapat berpotensi menjadi korupsi penyidikan atau penindakan yang dilakukan internal KPK sendiri.

"Oleh sebab itu, kami memahami evaluasi kembali terkait OTT, yang kemudian istilah dan operasi ini tidak digunakan lagi, melainkan menjadi Kegiatan Tangkap Tangan (KTT) demi memastikan pemberantasan korupsi dilakukan secara sah dan benar mengikuti ketentuan hukum," jelas Hasanuddin.

Terkait perdebatan OTT beberapa hari ini kata Hasanuddin, apa yang dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, dan Novel Baswedan dianggap aneh dan janggal.
 
"Sebab LBP dan Mahfud MD sebagai Menko representasi pemerintah sudah mengetahui adanya koreksi OTT ini, tapi tetap menggunakan istilah ini. Berbeda dengan Novel Baswedan yang memang menjadi bagian dari OTT masa lalu, tentu akan membela pengertian OTT sebagai strategi dan operasi yang direncanakan yang efektif, sebab itulah kritik LBP dan Mahfud MD terkait OTT dimaksud ditujukan pada dirinya," kata Hasanuddin.

Siaga 98 kata Hasanuddin, berpendapat bahwa, Tangkap Tangan yang dilakukan secara terus menerus akan menempatkan korupsi bukan lagi sebagai extra ordinary crime dan white colour crime, sebab Tangkap Tangan adalah peristiwa pidana umum atau biasa.
 
"KPK saat ini sudah on the track dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dalam melakukan integrasi pencegahan dan penindakan korupsi. Khususnya dalam menjalankan tangkap tangan sebagaimana ketentuan perundang-undangan," pungkasnya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

SGU Gandeng Poltek SSN Perkuat Pendidikan Siber Keamanan

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:09

Jokowi Bohong soal 54 Kali Ajak Makan Siang PKL Solo

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:02

Sentralisasi Hambat Otonomi Daerah

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:49

Kejagung Periksa Tujuh Saksi Kasus TPPU Febrie, Empat Penyidik Polri

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:05

Terungkap Jokowi Ikut Dirikan Gerindra di Solo Jelang Pemilu 2009

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:00

Satgas Jaga Jakarta dan FKDM Jangan Loyo Antisipasi Tawuran Warga

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:28

Polda Metro Jaya Bongkar Sindikat Pengedar Etomidate

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:24

Beredar Hasil Survei 32 Capres 2029

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:02

DKPP Putus Perkara Helikopter KPU pada 29 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:23

GOR Ciracas Diserbu 3.190 Pelamar Kerja

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:05

Selengkapnya