Berita

Presiden Joko Widodo dalam acara Pelepasan PMI ke negara tujuan Korea Selatan, di Hotel El Royale, Jakarta Pusat, Senin (17/10)/Net

Politik

Jokowi Klaim Permintaan PMI Tinggi, tapi Tata Kelola Penempatan Masih Karut Marut

SELASA, 18 OKTOBER 2022 | 13:33 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Permintaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang diklaim Presiden Joko Widodo kini mengalami peningkatan, dikritisi Komisi Nasional (Komnas) Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK).

Wakil Sekjen 1 Komnas LP-KPK Amri Piliang mengatakan, Presiden Jokowi sepertinya kurang mendapat banyak informasi soal tata kelola PMI di luar negeri, khususnya dalam skema private to private (P to P) dan business to business (B to B).

Amri ingin Jokowi mengetahui bahwa penempatan dengan skema P to P dan B to B hingga saat ini masih terjadi stagnasi dan diskriminasi terhadap 10 jenis Jabatan tertentu. Padahal, seharusnya semua jabatan dibebaskan dari biaya penempatan PMI.


"Kasihan para pekerja migran ini. Mereka masih mendapat pembebanan biaya penempatan senilai Rp 17 jutaan belum termasuk biaya Pelatihan dan Uji kompetensi senilai Rp 7 jutaan melalui pinjaman pihak ketiga," ujar Amri dalam keterangannya, Selasa (18/10).

Amri menegaskan persoalan yang membebani PMI adalah pembebanan biaya penempatan dan penjeratan hutang melalui Kepka BP2MI 328/2022 yang bertentangan dengan UU 18/2017 Pasal 30 dan Perka BP2MI 09/2020.

Menurutnya, saat ini terjadi praktik penjeratan hutang berkedok kredit usaha rakyat (KUR) PMI dan praktik PMI pura-pura bayar lunas di muka sebagaimana tertuang dalam Surat Pernyataan Biaya dan Gaji (SPBG).

"Akibatnya, para pekerja migrain ini harus dipotong gajinya selama 9 sampai 10 bulan. Kira-kira sekitar Rp 63 juta," sambungnya.

Amri memberikan contoh terkait penempatan PMI tujuan Korea Selatan dengan skema G to G yang ditempatkan oleh BP2MI. Yang mana ia mendapati di Korsel tingkat pekerja migran yang melarikan diri sangat tinggi karena beratnya potongan gaji.

"Saat mereka kabur, mereka akan menjadi PMI ilegal. Kenapa mereka kabur? Karena tingginya beban biaya penempatan dan pelatihan yang harus dikeluarkan oleh PMI kepada pembaga pelatihan/LPK untuk penempatan ke Korea Selatan melalui skema G to G oleh BP2MI," urai Amri.

"Setiap PMI harus memeras keringatnya untuk membayar penjeratan hutang berkedok KUR/KTA PMI," tambahnya menegaskan.

Pada akhirnya, lanjut Amri, KUR yang didapatkan para PMI tak terbayar sehingga terjadi kredit macet dan berimbas pada Non Performing Loan (NPL) yang mencapai 10 persen. Selain itu akibatnya, bank penyalur KUR BNI menghentikan sementara fasilitas KUR/KTA PMI.

Dia memandang ini sebagai kesalahan kebijakan dan aturan Kepala BP2MI yang sebenarnya sudah terungkap saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPR dengan BP2MI dan Kementerian Tenaga Kerja pada 8 Juni 2022.

Dalam RDP tersebut, DPR mendesak kepala BP2MI untuk membatalkan seluruh keputusan kepala badan yang memuat struktur biaya sehingga sesuai dengan perundangan.

"Ini yang belarut-larut. Kepala BP2MI malah kembali menerbitkan keputusan 328/2022 yang membebankan biaya penempatan 100 persen kepada PMI dan penjeratan hutang," demikian Amri.

Presiden Jokowi menyampaikan terkait peningkatan permintaan PMI saat memberikan sambutan dalam acara Pelepasan PMI ke negara tujuan Korea Selatan, di Hotel El Royale, Jakarta Pusat, Senin (17/10).

"Saya senang ini akan banyak lagi private-to-private, B to B yang permintaannya juga banyak. Ini juga kalau tidak disiapkan. Ini sebuah keterampilan yang tidak mudah,” ujarnya.

Menurut Jokowi ini tugas besar bagi Menteri Tenaga Kerja dan Kepala BP2MI untuk menyiapkan pekerja-pekerja terampil dengan skill tinggi.

Presiden Jokowi menjelaskan, saat ini total PMI yang bekerja di luar negeri mencapai sembilan juta orang. Sayangnya baru setengah dari jumlah tersebut merupakan pekerja legal secara hukum. 

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Sinergi Polri-TNI-BIN Pilar Utama Jaga HUT RI Tetap Kondusif

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:04

Prabowo Diminta Alihkan Belanja Kurang Produktif ke Program Padat Karya

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:00

Puncak El Nino dan Ancaman Kekeringan di Indonesia

Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:42

UMKM Binaan Pertamina Raih Omzet Rp8,57 Miliar di Semester I-2026

Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:30

Mengenal Sejarah Dan Makna Hari Pramuka Nasional 14 Agustus

Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:21

Menimbang Pilkada Asimetris

Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:03

Prabowo Targetkan Mobil Listrik Nasional Produksi Massal 2028

Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:45

Mendes Yandri Tagih Tindak Lanjut Bareskrim soal Isu Hoaks Warung Tutup

Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:40

Motor Listrik Pangkas Biaya Operasional Kurir Pos Indonesia hingga 67 Persen

Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Janji Siapkan Motor Listrik dengan DP Nol dan Bunga Cicilan Rendah

Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:21

Selengkapnya