Aksi protes terhadap kematian Mahsa Amini yang telah memakan ratusan korban jiwa di Iran ini, mendorong Menteri Luar Negeri Jerman untuk menyerukan pemberlakuan sanksi segera kepada mereka yang dianggap bertanggung jawab atas insiden mematikan tersebut.
Seperti dimuat BBC pada Senin (10/10), Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan, negaranya akan memastikan memberlakukan larangan masuk serta membekukan aset kepada mereka yang dianggap bertanggung jawab.
“Kami akan memastikan agar Uni Eropa memberlakukan larangan masuk terhadap mereka yang bertanggungjawab atas penindasan brutal ini, dan membekukan aset-aset mereka di Uni Eropa. Kami mengatakan kepada orang-orang di Iran, bahwa kami berdiri bersama Anda dan tetap bersama Anda,†ujar Baerbock dengan tidak menyebut nama individu atau organisasi yang dimaksud.
Berbicara kepada sebuah surat kabar Jerman, Baerbock juga mengkritik tindakan yang dilakukan Iran yang memukuli perempuan dan anak perempuan di jalan-jalan ketika aksi demonstrasi berlangsung, serta menangkap mereka dengan cara yang sewenang-wenang. Baerbock lebih lanjut telah menyebut Iran saat ini sedang berdiri di sisi sejarah yang salah.
Menurut laporan Reuters, sanksi yang sedang direncanakan akan diputuskan pada 17 Oktober mendatang. Beberapa anggota UE lainnya seperti Prancis, Denmark, Spanyol, Italia, dan Republik Ceko telah mengajukan 16 sanksi baru kepada Iran atas penanganan pemerintahannya yang buruk terhadap demonstrasi yang terjadi di negaranya.
Kelompok Hak Asasi Manusia Iran, yang berbasis di Norwegia, mengatakan setidaknya 185 orang termasuk 19 anak-anak, telah tewas sejak kerusuhan dimulai. Media pemerintah Iran mengatakan 20 anggota Korps Pengawal Revolusi Islam, polisi dan pasukan keamanan termasuk ke dalam korban tewas.
Presiden Ebrahim Raisi pada Sabtu (8/10) mengunjungi salah satu universitas di Teheran. Para mahasiswa perempuan di sana meneriakkan "Enyahlah!" yang ditujukan kepada presiden tersebut. Salah satu saluran televisi di hari yang sama telah mengalami peretasan dengan munculnya topeng yang diikuti dengan gambar pemimpin tertinggi, Ayatollah Khamenei, yang dikelilingi oleh api.
Saat ini aksi protes tersebut telah merembet pada banyaknya orang Iran yang menuntut diakhirinya kekuasaan ulama Islam.