Berita

Foto: Teguh Santosa

Publika

Relief Misterius di Sarinah

SELASA, 19 JULI 2022 | 09:17 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

AKHIRNYA kemarin saya berkesempatan singgah di Sarinah yang telah direnovasi. Banyak hal baru di Sarinah Baru. Layout lantai berubah luar biasa.

Pelataran parkir disulap jadi taman yang indah. Daya tampung mobil di bagian ini berkurang. Hanya untuk VVIP dan undangan khusus. Sebagai kompensasi, di sisi timur, di depan kafe Demang, dibangun gedung parkir.

Bagian yang juga bikin degdegan adalah relief misterius ini. Terbentang, memanjang, gagah, di bagian utama lantai satu.


Tiang pancang pusat perbelanjaan Sarinah dibenamkan Bung Karno di tahun 1963. Nama Sarinah dipilihnya sebagai bentuk penghormatan terhadap pengasuhnya di masa kecil, seorang wanita dari kalangan rakyat jelata.

Department store Sarinah, selain untuk menghormati Sarinah yang dimuliakannya juga dimaksudkan sebagai alat distribusi yang efektif di tengah masyarakat sosialis. Toserba pertama pasca kemerdekaan ini diharapkan Bung Karno menjadi alat perjuangan untuk mewujudkan amanat penderitaan rakyat.

Dalam bayangan Bung Karno, department store Sarinah ini juga berperan sebagai stabilisator harga. Kalau satu barang dijual di Sarinah seharga Rp 10, maka di luar dia tidak akan dijual dengan harga yang lebih tinggi. Kalau di Sarinah satu barang dijual dengan harga Rp 100, maka barang dengan jenis yang sama tidak akan dijual Rp 500 atau Rp 1.000 di luaran sana.

Toserba yang ketika diresmikan di tahun 1966 ini pastilah merupakan bangunan paling menonjol di Jln MH Thamrin, selain Hotel Indonesia, diharapkan dan dibayangkan Bung Karno menjadi alat untuk mewujudkan sosialisme Indonesia.

Tahun 1963 itu Bung Karno sedang berada di puncak kekuasaannya setelah berhasil menaklukkan berbagai kelompok kepentingan lewat Dekrit 5 Juli 1959. Tapi tahun itu juga sudah memperlihatkan tanda-tanda ke arah vivere pericoloso. Tahun 1962 Bung Karno memboikot Israel ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Komite Olimpiade Internasional geram. Indonesia diberikan kartu merah untuk tampil di Olimpiade Tokyo 1964.

Si Bung Besar tak peduli. Dia ajak negara-negara yang baru merdeka pasca Perang Dunia Kedua dan dekade dekolonisasi, New Emerging Forces atau Nefos, untuk menghadiri Ganefo, olimpiade tandingan.

Di bulan April 1965 Bung Karno menggelar peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) secara besar-besaran.

Dari film dokumenter yang masih dimiliki Korea Utara, kita bisa menyaksikan skala peringatan satu dasawarsa KAA yang megah itu. Rasanya jauh lebih megah dari pelaksanaan KAA 1955.

Sebulan setelah itu Jakarta merah. Peringatan ulang tahun ke-45 Partai Komunis Indonesia (PKI) digelar spektakular untuk masanya.

Yang rasanya Bung Karno tidak tahu, di balik semua itu, PKC yang berkuasa di China mulai mengirimkan senjata untuk dipergunakan kelompok pemuda dan petani pro PKI.

Maka, seperti kita sudah sama-sama baca, dalam berbagai kisah, Bung Karno terhenyak kaget saat kepadanya diperlihatkan senjata laras panjang Chung yang disembunyikan di lokasi latihan Pemuda Rakyat di kawasan Halim Perdanakusuma. Tak lama setelah enam jenderal dan seorang perwira muda TNI AD diculik oleh anasir pro PKI di tubuh militer.

Begitulah. Panggung ditataulang. Lakon baru dimainkan.

Tahun 1966 ketika Sarinah diresmikan, relief misterius yang menggambarkan kehidupan petani, kaum Marhaen, kaum jelata, ini ada di sana. Tapi di tahun 1980, ia menghilang atau dihilangkan.

Siapapun yang ingin menghapuskan bagian ini rasanya pun ragu-ragu dan setengah hati. Hanya tega menutupinya dengan tembok pemisah di bagian dalam Sarinah.

Tapi, cerita tentangnya sungguh tak pernah lagi terdengar sejak itu, bahkan tidak ada bisik-bisik tetangga.

Sampai ketika Sarinah direnovasi dua tahun lalu.

Relief ini disebut misterius karena sampai sekarang masih belum diketahui siapa pembuatnya.

Mungkinkah pematung dari Uni Soviet, Rusia kini? Mungkin. Mungkin juga dari negara lain di blok sosialis pada era itu.

Seorang teman beberapa waktu lalu meminta bantuan saya untuk menanyakan hal ini ke Kedubes Federasi Rusia.

Menjawab pertanyaan saya, Dubes Lyudmila Vorobieva menjawab, "I have no idea, but I will try to find out."

Pekan lalu saya bertemu dengannya di TMP Kalibata. Kami menghadiri peringatan ulang tahun Republik Bolivarian Venezuela.

Saya lupa menanyakan soal relief Sarinah ini.

Saya juga tak sempat bertanya "pesan" dari  Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy
untuk Presiden Rusia Vladimir Putin yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pertemuan dengan Putin di Moskow beberapa waktu lalu. Apakah pesan dengan “p” kecil, atau “P” besar.

Yang saya tanyakan antara lain adalah soal kemungkinan kehadiran Presiden Putin dalam KTT G20 bulan November nanti.

Untuk pertanyaan ini, Dubes Lyudmila Vorobieva menjawab dengan mengangkat kedua bahu diikuti mimik wajah yang khas. Artinya: tidak tahu. Atau: tergantung banyak hal. Atau: kita lihat saja nanti.

Dubes Lyudmila Vorobieva juga mengatakan, dua hari lagi dia dan suami akan terbang ke Moskow untuk liburan selama satu bulan.

Nah, nanti, selagi ia berada di Moskow, akan saya kirim pesan susulan. Siapa tahu Dubes Lyudmila Vorobieva bisa membantu memecahkan misteri relief Sarinah.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Pernyataan Eggi Sebut Akhlak Jokowi Baik jadi Bulan-bulanan Warganet

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:40

Senyum Walikota Madiun

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:19

Rapim Kemhan-TNI 2026 Tekankan Sishankamrata sebagai Kekuatan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:55

Legislator PKS Dorong Penyaluran KUR Pekerja Migran Tepat Waktu

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:35

Digiring ke Gedung KPK, Walikota Madiun Malah Minta Didoakan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:20

Bencana Menerjang, BUMN Datang

Senin, 19 Januari 2026 | 23:55

Polisi Bongkar Clandestine Lab Tembakau Sintetis Senilai Rp2 Miliar

Senin, 19 Januari 2026 | 23:37

Mantan Jubir KPK Ali Fikri Raih Gelar Doktor Hukum Unair

Senin, 19 Januari 2026 | 23:11

Napi Bebas Pakai Gawai di Lapas Bukan Kelalaian Biasa

Senin, 19 Januari 2026 | 23:02

Walikota Madiun Maidi Dkk Tiba di Gedung KPK, Sebagian Lewat Belakang

Senin, 19 Januari 2026 | 22:46

Selengkapnya