Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Sejuta Pasukan Tempur Ukraina Siap Merebut Kembali Wilayah Selatan, Koalisi Anti-Kremlin Siap Tempur

SENIN, 11 JULI 2022 | 07:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dengan kemampuan yang dimilikinya, Ukraina meyakinkan diri dapat merebut kembali wilayah selatan yang sudah diambil alih pasukan Rusia.

Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Alexey Reznikov dalam wawancaranya dengan The Times yang diterbitkan Minggu (10/7). Ia mengatakan bahwa sesuai perintah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pihaknya telah menyiapkan satu juta pasukan tempur untuk merebut kembali wilayah selatan.

“Kami memahami bahwa secara politik itu sangat diperlukan untuk negara kami. Presiden telah memberikan perintah kepada panglima tertinggi militer untuk menyusun rencana,” katanya.


“Kami adalah orang-orang dari dunia bebas dan dengan rasa keadilan dan kebebasan yang nyata. Kami memiliki sekitar 700.000 angkatan bersenjata dan ketika Anda menambahkan penjaga nasional, polisi, penjaga perbatasan, kami memiliki sekitar satu juta orang,” tambah menteri.

Dalam wawancara Minggu Reznikov memuji upaya Inggris untuk membantu Ukraina, terutama Ben Wallace, menteri pertahanan Inggris, yang, menurut dia, adalah kunci untuk membantu mengubah pendekatan dari menyediakan peralatan Soviet ke artileri 155mm standar NATO, sistem roket peluncuran ganda serta drone berteknologi tinggi.

Ini, kata Reznikov, akan menebus kerugian besar di wilayah Donbass dalam menghadapi penembakan artileri massal Rusia. Presiden Zelensky sebelumnya mengatakan Ukraina kehilangan sekitar 200 orang per hari di daerah itu.

Reznikov juga menyebutkan sekutu lain, mengklaim “koalisi anti-Kremlin telah lahir.”

“Mitra kami di London dan Washington DC dan ibu kota lainnya, mereka berinvestasi pada kami, tidak hanya dengan uang tetapi juga harapan orang-orang mereka bahwa kami harus membuat Kremlin kalah. Kita harus memenangkan perang ini bersama-sama,” katanya.

"Aliansi lama presiden Rusia Vladimir Putin juga telah hancur," kata Reznik, menunjuk ke Kazakhstan yang Presidennya, Kassym-Jomart Tokayev secara terbuka menolak untuk mengakui Republik Rakyat Lugansk dan Donetsk sebagai negara berdaulat.

“Saya yakin dalam beberapa tahun ke depan kita akan melihat prosesi seruan kedaulatan di wilayah Rusia. Federasi Rusia akan mengakhiri hidupnya sebagai negara yang berbeda,” kata Reznikov.

Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, dengan alasan kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang untuk memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Luhansk di dalam negara Ukraina.

Pada Februari 2022, Kremlin kemudian mengakui republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun. Sementara itu Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Tanpa Rompi dan Borgol Saat Ditahan, DPP IMM Minta Kejagung Tak Istimewakan Febrie

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:43

Belum Sebulan IPO, Direktur RANS Tiba-tiba Mundur

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:30

Revitalisasi Pengurus AMPI Perkuat Konsolidasi Organisasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:26

Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong, KPK Geledah Kediaman Kadis PUPR Bengkulu

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:09

Zulhas: Swasembada Pangan Bukan Sekadar Ekonomi, tapi Kehormatan Bangsa

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:07

PDIP Jatim Hadirkan RedTalks, Wadah Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:54

Sekolah Nasional Terintegrasi: Resep Medis Kuratif Pendidikan dan Kesehatan Anak

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:39

Tak Pakai Borgol dan Rompi, PB PMII: Febrie Adriansyah Cetak Sejarah

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:35

TB Hasanuddin: Jangan Akali Putusan MK dengan Bebani Pelanggan

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:59

Lodewijk: Ancaman Indonesia Kini Bukan Hanya Perang, tapi Ekonomi hingga Iklim

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:49

Selengkapnya