Berita

Konsolidasi Nasional Rakyat Indonesia berlangsung di Pelataran Gedung Pandansari, Jakarta Timur/Repro

Politik

Meski Dihalangi, Konsolidasi Nasional Rakyat Indonesia Tetap Berlangsung di Pelataran Gedung Pandansari

RABU, 11 MEI 2022 | 11:30 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Konsolidasi Nasional Rakyat Indonesia (KNRI) tetap berlangsung di pelataran Gedung Pandansari, Cibubur, Jakarta Timur sejak Selasa (10/5) hingga Kamis (12/5). Meskipun ada upaya menghentikan acara yang diselenggarakan oleh Komite Rakyat Lawan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KRL-KKN) itu.

Ketua Panitia Pelaksana KNRI, Adit menjelaskan, sekitar 300 peserta yang mewakili 34 provinsi dan berbagai elemen dari berbagai daerah di Indonesia secara mendadak tidak diperbolehkan menggunakan Gedung Pandansari meskipun sudah membayar sewa.

"Kami sudah mengikuti prosedur untuk menyampaikan pemberitahuan ke aparat baik polsek, polres, bahkan sampai ke polda, sudah oke semua. Tetapi di hari pelaksanaan saat peserta dari berbagai daerah sudah datang dan mau menggunakan gedung tiba-tiba dilarang," ujar Adit kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (11/5).


Konsolidasi yang diselenggarakan oleh KRL-KKN ini akhirnya dilaksanakan di luar gedung, menggunakan lapangan dan lorong-lorong penginapan peserta dengan suasana heroik.

Konsolidasi ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia, pelajar, akademisi, buruh, petani, nelayan, pedagang kaki lima, guru honorer, masyarakat korban tambang, alumni berbagai kampus, para dokter, emak-emak, para aktivis lingkungan, hingga para pentolan aktivis '98.

Sejumlah akademisi yang hadir di lokasi konsolidasi di antaranya Ubedilah Badrun, Anthony Budiawan, Bivitri Susanti, Eka V Putra, dan Herdiansyah Hamzah yang hadir melalui online.

Ahli hukum tata negara Bivitri Susanti dalam penyampaian pandangannya mengemukakan, terdapat persoalan serius dalam tata kelola negara ini, di antaranya terkait cara ugal-ugalan menyusun undang-undang yang mengabaikan aspirasi.

"Saya melihat cara mengelola negara ini sangat buruk, diliputi KKN, menyusun undang-undang saja terlihat sangat ugal-ugalan mengabaikan suara rakyat," kata Bivitri Susanti.

Sementara itu, akademisi dan ekonom, Anthony Budiawan, dalam sambutannya mengatakan, ekonomi Indonesia dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

"APBN kita defisit Rp 1.000 triliun, APBN naik menjadi sekitar Rp 2.700 triliun pada tahun 2021 tetapi jumlah daerah miskin bertambah. Kenaikan APBN itu hanya dinikmati oligarki melalui insentif pajak, bisnis PCR, dan lain-lain," jelas Anthony Budiawan.

Selain itu, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menyampaikan bahwa reformasi telah dikhianati, bahkan rakyat betul-betul telah dikhianati.

"Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang merajalela, vulgar dilakukan di tengah rakyat sedang sengsara, dan penguasa yang dikendalikan oligarki adalah fakta yang tidak bisa dibantah bahwa negara ini telah dikhianati, rakyat telah dikhianati, reformasi telah dikhianati," kata Ubedilah.

Ubedilah yang merupakan melaporkan dua anak Presiden Joko Widodo ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan KKN dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) kemudian mengemukakan data untuk memperkuat kritik kerasnya tersebut.

"Korupsi miliaran rupiah telah terjadi di tengah rakyat sedang sengsara, misalnya korupsi bansos. Kerjasama antara anak penguasa dengan anak petinggi perusahaan besar di tengah perusahaan tersebut penuh masalah hukum juga telah terjadi," jelas Ubedilah.

"Ada juga sejumlah jabatan strategis yang diberikan kepada mereka yang menjadi bagian utama oligarki. Misalnya duta besar dan pejabat penting di proyek IKN. Kebijakan strategis pemerintah berubah hanya dalam hitungan hari karena tekanan oligarki. Itu semua adalah diantara fakta yang tidak bisa dibantah bahwa KKN merasuki Istana dan oligarki mengendalikan pemerintah," ucap Ubedilah menutup.

Acara konsolidasi nasional tersebut akan berlangsung selama 3 hari hingga Kamis (12/5).

Pada hari ini, Rabu (11/5), diagendakan sidang komisi dan sidang pleno konsolidasi. Sementara esok hari, adalah pembacaan dan penyampaian hasil konsolidasi nasional tersebut di hadapan media dan publik secara luas.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya