Berita

Warga Luhansk/Net

Dunia

Luhansk Serukan Referendum, Ingin Bergabung Dengan Federasi Rusia

SENIN, 28 MARET 2022 | 21:31 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Pemerintahan Wilayah Luhansk pada Donbass yang didukung Rusia, menyerukan akan mengadakan referendum untuk bergabung dengan Federasi Rusia secara resmi.

Hal ini mereka lalukan setelah memasuki bulan kedua perang dan setelah Kremlin mengakui wilayah Ukraina itu sebagai negara merdeka, meskipun seluruh dunia menganggap Luhansk adalah bagian dari Ukraina.

"Dalam waktu dekat, referendum akan diadakan di wilayah republik kami," ujar Leonid Pasechnik, pemimpin Republik Rakyat Luhansk, dikutip dari Reuters, Minggu (27/3).


"Rakyat kami akan menggunakan hak konstitusional utama mereka dan mengungkapkan pendapat mereka tentang bergabung dengan Federasi Rusia," tambahnya.

Ukraina langsung merespons pernyataan itu dan mengatakan 'referendum semacam itu', tidak akan memiliki dasar hukum dan akan menghadapi tanggapan keras dari komunitas internasional.

"Semua referendum palsu di wilayah yang diduduki sementara adalah null and void dan tidak akan memiliki validitas hukum," kata juru bicara Kemenlu Ukraina, Oleg Nikolenko.

"Ini akan membuat Rusia menghadapi respons yang lebih kuat dari komunitas internasional, dan membuat mereka semakin terisolir," tambahnya.

Ukraina, yang mengatakan sedang berjuang demi kedaulatan mereka, kini melawan apa yang dianggapnya sebagai perampasan tanah bergaya kekaisaran oleh Rusia.

Mereka telah berulang kali mengatakan tidak akan pernah menyetujui pencaplokan wilayahnya oleh Rusia, yang juga merupakan bagian tersulit dari pembicaraan damai dengan Rusia.

Di sisi Presiden Rusia Vladimir Putin, dia mengatakan operasi militer khusus diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan Rusia untuk melawan Amerika Serikat yang dianggap Rusia telah mempersenjatai Ukraina dan mendidik mereka menjadi anti-Rusia. Atau kata lainnya memasukkan Ukraina ke dalam aliansi militer NATO.

Rusia juga mengatakan operasi itu diperlukan untuk membela etnis Rusia terhadap penganiayaan dari pemerintah Ukraina.

Dulunya, setelah pasukan Rusia pada tahun 2014 menguasai Krimea, sebuah referendum untuk bergabung dengan Rusia juga pernah diadakan. Mayoritas warga Krimea memilih untuk bergabung dengan Rusia di saat itu.

Kala itu, Ukraina mengatakan referendum itu ilegal dan mengklaim bahwa Krimea adalah bagian dari Ukraina.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya