Berita

Jaringan pipa gas Rusia/Net

Dunia

Kremlin: Sanksi Rusia Hanya Sakiti Eropa, AS Tak Kena Dampaknya

SELASA, 22 MARET 2022 | 04:55 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Sanksi Barat terhadap Rusia mengenai Ukraina hanya akan menambah buruk situasi keseimbangan pasokan energi di Eropa, tetapi tidak akan mempengaruhi Amerika Serikat.

Pernyataan itu datang dari konferensi harian Kremlin pada Senin (21/3). Jurubicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan, semakin hari Rusia terkena dampak sanksi, maka nasib Eropa juga akan menjadi lebih sengsara.

"Embargo seperti itu akan sangat berdampak serius pada pasar minyak global, sangat berdampak buruk pada keseimbangan energi di benua Eropa," ujar Peskov kepada wartawan, seperti dikutip oleh Reuters.


Kemudian Kremlin memperingatkan bahwa sanksi Uni Eropa (U) terhadap minyak Rusia dapat mendorongnya untuk menutup pipa gas ke Eropa.

Menurut beberapa analis politik Eropa, untuk saat ini, UE yang terdiri dari 27 negara, sangat bergantung pada Rusia untuk 40% gasnya, mereka terpecah tentang cara mengatasi masalah energi.

Ini terutama nyata bagi Jerman, negara UE yang paling bergantung dari ekonomi besar blok itu.

"Orang Amerika akan tetap seperti apa adanya dan akan merasa jauh lebih baik daripada orang Eropa (dalam hal embargo minyak). Ini akan sulit bagi orang Eropa keputusan seperti itu akan menyakiti semua orang," jelas Peskov.

Tetapi apakah akan menargetkan minyak Rusia, seperti yang telah dilakukan Amerika Serikat dan Inggris? Jadi pilihan yang sulit dan memecah belah bagi 27 negara Uni Eropa, yang bergantung pada Rusia untuk 40% gasnya.

Hanya beberapa jam sebelum pernyataan Kremlin itu datang, beberapa menteri luar negeri Uni Eropa membahas embargo minyak sebagai bagian dari sanksi putaran kelima terhadap Rusia, dalam upaya untuk menghukum Moskow atas peristiwa di Ukraina.

Para diplomat mengatakan, serangan senjata kimia Rusia di Ukraina, atau pemboman besar-besaran di ibukotanya Kyiv, bisa dikatakan sebagai pemicu embargo energi itu. Di mana Rusia mengatakan pihaknya hanya menargetkan infrastruktur militer, bukan sipil.

Seperti dilaporkan Reuters, negara-negara Baltik termasuk Lithuania mendorong embargo sebagai langkah berikutnya. Sementara Jerman, yang sangat bergantung pada gas Rusia, memperingatkan agar tidak bertindak terlalu cepat karena harga energi yang sudah tinggi di Eropa.

"Tidak dapat dihindari kita mulai berbicara tentang sektor energi, dan kita pasti dapat berbicara tentang minyak karena itu adalah pendapatan terbesar untuk anggaran Rusia," ujar Menteri Luar Negeri Lithuania, Gabrielius Landsbergis.

“Melihat sejauh mana kehancuran di Ukraina saat ini, sangat sulit untuk menyatakan bahwa kita seharusnya tidak bergerak di sektor energi, khususnya minyak dan batu bara,” ujar Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Coveney sebelum pertemuan itu terjadi.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock mengatakan, “gambar-gambar (hasil perang) yang sampai ke kita dari Ukraina sangat memilukan”. Namun Annalena menolak menjawab pertanyaan tentang apa yang bisa memicu sanksi terhadap sektor energi Rusia itu.

Selain Jerman, ada juga Belanda yang cenderung tidak ingin menjatuhkan sanksi kepada Rusia dengan secepat mungkin.

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte mengatakan, negara-negara Uni Eropa masih sangat bergantung pada minyak dan gas Rusia untuk pasokan energi mereka dan tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan mereka dalam waktu singkat.

"Terlalu banyak kilang di bagian timur dan barat Eropa masih sepenuhnya bergantung pada minyak Rusia dan bahkan lebih buruk dengan gas," ujar Rutte.

"Kita harus menghilangkan ketergantungan itu. Kita harus melakukannya secepat mungkin, tapi kita tidak bisa melakukannya besok," pungkasnya.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya