Berita

Begawan ekonomi Rizal Ramli/Net

Publika

Rizal Ramli Ungkap Ciri Negara yang Mampu Bertahan

JUMAT, 04 MARET 2022 | 10:35 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

PADA Maret 1933 Bung Hatta bersama sang paman, Ayub Rais, yang dikenal sebagai presiden direktur perusahaan Djohan Djohor berkunjung ke Jepang.

Dalam lawatan yang disebutnya tidak bersifat politis itu, Hatta meninjau salah satu sekolah kejuruan industri di sana. Ia melihat workshop para mahasiswa Jepang membongkar sebuah mobil Ford buatan Amerika, lalu memasangnya kembali dengan baik dan tepat.

Melihat ini Hatta berkata: “Ditiru lebih dahulu dan kemudian dibuat sendiri dalam bentuk yang diperbaiki. Justru cara seperti itulah yang merupakan rahasia Jepang yang dapat menyusul Barat.”


Sebagai ekonom muda yang kelak memimpin bangsa waktu itu, Hatta sangat menaruh perhatian terhadap modernisasi dan industri negara-negara yang sedang dalam proses kemajuan.

Di majalah Daulat Rakjat pada awal tahun 1930-an, Hatta banyak mengemukakan pandangan-pandangannya yang bersifat outward looking, baik terhadap Barat maupun Asianisme.

Ia menekankan pentingnya strategi untuk kemajuan industri dan modernisasi di Indonesia, dengan basis ketahanan dan kedaulatan nasional.

Di akhir lawatannya selama sekitar satu bulan itu, Hatta kemudian menuliskan pengalamannya mengenai potensi Jepang untuk menguasai Asia dengan modal ketahanan, kedaulatan, dan kemampuan dalam melakukan inovasi.

Tokoh-tokoh intelektual di lapangan pergerakan kemerdekaan bangsa pada masa itu umumnya memang berpikiran outward looking.

Djamaludin Adinegoro yang mengenyam pendidikan jurnalistik dan kartografi di Barat, pada 1950, menuliskan satu buku berjudul Bayangan Pergolakan Dunia.

Esensinya berisi tinjauan yang bersifat inward looking dan outward looking, perdamaian dunia, perlunya ketahanan dan kedaulatan di dalam negeri, serta tinjauan mengenai “hak azasi manusia di zaman atom”.

Sjam Ratu Langie ahli fisika dan matematika menyumbangkan pemikirannya mengenai posisi Indonesia di Asia-Pasifik, melalui sebuah buku berjudul Indonesia di Pasifik: Analisa Masalah-masalah Pokok Asia-Pasifik.

Buku yang ditulis pada tahun 1930-an itu menekankan pentingnya ketahanan dan kedaulatan negara, potensi perang dunia karena perebutan sumber-sumber ekonomi, hingga posisi Indonesia di Asia-Pasifik.

Salah satu chapter buku itu berjudul “Indonesia Sebagai Negeri Konsumen”.

Pandangan para tokoh ini dan mereka yang seangkatan dalam memperjuangkan kemerdekaan dalam bahasa Belanda disebut voorbij de tijd atau melampaui zaman.

Karena umumnya mereka mampu melakukan forecasting, analisis, mendefinisikan persoalan, dan menentukan aspek-aspek penting yang dibutuhkan oleh sebuah negara dalam menghadapi suatu masalah untuk mempertahankan eksistensinya.
 
Itulah sebabnya dalam konteks hari ini di tengah kebangkrutan perekonomian nasional yang berdampak pada kesengsaraan rakyat, pudarnya kedaulatan negara di semua sektor, keterpurukan bidang teknologi, ambruknya indeks demokrasi, hingga ketidakmampuan pemimpin boneka dalam mengelola negara dan bangsa, tokoh nasional Dr Rizal Ramli merasa perlu menekankan kembali pentingnya ketahanan dan kedaulatan nasional dalam mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rizal Ramli di dalam akun Twitter-nya baru-baru ini menulis:

“Perkembangan dunia kini cepat berubah. Pemimpin negara dituntut harus responsif dalam menyikapi keadaan yang terjadi dewasa ini.

Negara yang mampu bertahan dan berjaya, ialah negara yang memiliki ketahanan pangan, kedaulatan energi, teknologi, dan cadangan devisa yang kuat. Jika tidak, akan menjadi korban dan terkena dampaknya ... ”.

Nyatanya inilah yang terjadi dan sedang dialami oleh bangsa ini sekarang.

Yang dengan lancung dijawab oleh segelintir petualang politik kakitangan oligarki dengan meminta perpanjangan masa jabatan presiden boneka, melalui pengunduran waktu pelaksanaan Pilpres 2024.

Penulis adalah wartawan senior dan pemerhati sejarah

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Bandit Keuangan Terorganisir

Minggu, 20 September 2026 | 00:02

Perjuangkan Hak Retaker, Willy Aditya: Republik Berdiri dari Tangan Dokter

Sabtu, 19 September 2026 | 23:58

Kemenkeu Tahan SAL Rp200 Triliun di Bank Hingga Juli 2027

Sabtu, 19 September 2026 | 23:32

KSAD Siapkan Helikopter Mi-35M Buatan Rusia untuk Misi Kemanusiaan di Papua

Sabtu, 19 September 2026 | 23:21

Disorot Publik, Nusron Wahid Ternyata Sudah Mundur dari Pengurus Golkar

Sabtu, 19 September 2026 | 22:47

Sektor Pariwisata RI Stagnan, Indonesia Kalah Cepat dari Vietnam

Sabtu, 19 September 2026 | 22:34

Kopasgat dan Satgas Habema Tangkap Pentolan OPM Abdon Kisamdu

Sabtu, 19 September 2026 | 21:56

PP IPA Dukung Prabowo Gratiskan Biaya Pendidikan SD hingga Universitas Negeri

Sabtu, 19 September 2026 | 21:37

Selebgram Jule Tak Jadi Tersangka Meski Konsumsi Etomidate, Ini Penjelasan Polisi

Sabtu, 19 September 2026 | 21:31

Bongkar Praktik Shadow Economy WNA di Bali, Hotel Lokal Terancam Kalah Saing

Sabtu, 19 September 2026 | 20:31

Selengkapnya