Berita

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan mantan Presiden AS Donald Trump/Net

Dunia

Trump Sesumbar Akui Masih Jalin Komunikasi dengan Kim Jong Un

JUMAT, 11 FEBRUARI 2022 | 10:07 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku masih berkomunikasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, meski telah meninggalkan Gedung Putih.

Pengakuan itu disampaikan Trump secara sesumbar kepada rekan-rekannya, dan diungkap dalam buku berjudul "The Confidence Man" yang akan dirilis oleh reporter New York Times, Maggie Haberman.

"Seperti yang kita ketahui, dia memiliki fiksasi pada hubungan ini," ujar Haberman kepada CNN, Kamis (10/2).


Kendati begitu, Haberman mengatakan klaim Trump tidak dapat diverifikasi dan kemungkinan tidak benar.

"Apa yang dia katakan dan apa yang sebenarnya terjadi tidak selalu sejalan, tetapi dia telah memberi tahu orang-orang bahwa dia menjalin semacam korespondensi atau diskusi dengan Kim Jong Un," kata Haberman.

Trump, lanjut Haberman, juga menyebut Kim Jong Un adalah satu-satunya pemimpin asing yang terus menjalin komunikasi dengannya.

Setelah melakukan tiga kali pertemuan dengan Kim Jong Un, Trump mengatakan hubungan keduanya dekat dan kerap bertukar surat.

Terlepas dari kedekatan tersebut, tiga pertemuan Trump dengan Kim tetap gagal mencapai kesepakatan denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Berdasarkan UU Logan 1799, warga negara AS dilarang untuk bernegosiasi dengan pemerintah asing tanpa izin.

Direktur 38 North, proyek Korea Utara yang berbasis di Washington, Jenny Town, mengatakan Trump kerap melebih-lebihkan. Setiap pesan yang dia kirim mungkin hanya salam dan mungkin tidak dibalas.

"Tetapi jika itu benar, dan ada komunikasi yang terjadi pada substansi apa pun tanpa koordinasi atau konsultasi dengan Gedung Putih, itu bisa sangat bermasalah dan berpotensi kontraproduktif dengan kepentingan AS," tambahnya.

Pemerintahan Presiden Joe Biden telah berulang kali mendesak kembalinya dialog dengan Korea Utara, namun enggan melakukan pertemuan tingkat tinggi.

Selama kampanye pilpres pada 2020, Biden menyebut Kim sebagai penjahat. Biden mengatakan dia akan bersedia bertemu dengannya di bawah kondisi yang tepat.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya