Berita

Vaksin merupakan hal yang diperlukan untuk mengendalikan penularna virus corona di tengah pandemi yang belum juga usai/Net

Dunia

Negara-negara Miskin Tolak Jutaan Dosis Vaksin Covid-19 Kadaluarsa

JUMAT, 14 JANUARI 2022 | 21:49 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Vaksin merupakan salah satu elemen penting yang diperlukan untuk mengendalikan penularan virus corona di dunia. Karena itu, banyak negara berlomba-lomba menggalakan kampanye vaksinasi serta berbagi vaksin dengan negara-negara lain yang memerlukan.

Namun bagaimana jika vaksin yang dikirimkan sebagai bantuan adalah vaksin Covid-19 yang sudah kadaluarsa?

Situasi itu diungkap oleh kepala Divisi Pasokan UNICEF Etleva Kadilli di hadapan Parlemen Eropa pada Kamis (13/1).


Ia menjelaskan bahwa fakta yang ada di lapangan menunjukkan bahwa ada masalah dalam pelaksanaan program untuk membantu negara-negara miskin untuk memvaksinasi populasi mereka terhadap Covid-19. Pasalnya, banyak donasi memiliki masa simpan yang terlalu pendek untuk didistribusikan dengan benar.

Ia menjelaskan, pada bulan Desember 2021 lalu saja, lebih dari 100 juta dosis yang ditawarkan untuk program COVAX PBB harus ditolak oleh penerima bantuan, karena kebanyakan dari mereka melewati atau mendekati tanggal kedaluarsa.

Sekitar 15,5 juta dosis yang ditolak bulan lalu itu pun dilaporkan telah dihancurkan. Selain itu, beberapa pengiriman juga ditolak oleh beberapa negara.

Negara-negara miskin memang memiliki sejumlah masalah dengan menerima vaksin yang disumbangkan kepada mereka. Banyak yang kekurangan kapasitas penyimpanan untuk menerima kiriman dan memiliki masalah dengan meluncurkan kampanye vaksinasi karena faktor-faktor seperti ketidakstabilan domestik dan infrastruktur perawatan kesehatan yang tegang.

Namun tanggal kadaluarsa yang singkat dari vaksin yang disumbangkan ke program berbagi juga merupakan masalah besar.

“Sampai kita memiliki umur simpan yang lebih baik, ini akan menjadi titik tekanan bagi negara-negara, khususnya ketika negara-negara ingin menjangkau populasi di daerah yang sulit dijangkau,” jelasnya seperti dimuat Russia Today.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Ambang Batas Parlemen Moderat Cukup 2,5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 20:04

Eks Kepala PPATK: Demutualisasi BEI Kebutuhan Mendesak, Faktor Pertemanan Permudah Penyimpangan

Senin, 02 Februari 2026 | 19:50

Ribuan Warga Kawanua Rayakan Natal dan Tahun Baru dengan Nuansa Budaya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Catat! Ini 9 Sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 dan Besaran Dendanya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Prabowo Terima Dirut Garuda dan Petinggi Embraer di Istana, Bahas Apa?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:41

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:29

Alur Setoran Kades dan Camat ke Sudewo Ditelisik KPK

Senin, 02 Februari 2026 | 19:23

Horor Sejarah Era Jim Crow

Senin, 02 Februari 2026 | 19:14

10 Surat Tanah yang Tidak Berlaku Lagi mulai Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 19:12

5 Takjil Khas Daerah Indonesia Paling Legendaris

Senin, 02 Februari 2026 | 18:53

Selengkapnya