Berita

Ketua PP GP Ansor Luqman Hakim/Net

Politik

Ketua GP Ansor: Cuitan Ferdinand Harus Jadi Pelajaran, Jangan Ada Lagi yang Main-main dengan Agama

JUMAT, 07 JANUARI 2022 | 08:57 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Aparat kepolisian diminta untuk menindak tegas dan memproses hingga tuntas laporan kasus kicauan “Allahmu lemah” Ferdinand Hutahaean dari masyarakat.

Ketua PP GP Ansor Luqman Hakim menegaskan bahwa semua warga negara berkedudukan yang sama di depan hukum, tidak peduli dia berasal dari kelompok mayoritas atau minoritas.

“Jadi tidak boleh ada diktator mayoritas dan juga tidak boleh ada tirani minoritas,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/1).


Luqman Hakim mengurai bahwa dalam sistem demokrasi, jika hukum dijalankan dengan diskriminatif, maka akan menjadi sumber perpecahan dan konflik sosial.

Semua harus memiliki kesadaran bahwa kita masih dalam proses membangun karakter bangsa yang bersatu dalam keberbedaan. Karena itu, siapapun yang terbukti melanggar norma-norma hukum, maka aparat penegak hukum harus memprosesnya dengan seadil-adilnya.

Luqman Hakim menekankan bahwa masalah keyakinan agama, apalagi menyangkut masalah ketuhanan merupakan urusan personal setiap warga negara Indonesia yang dijamin dan dilindungi konstitusi.

“Bahkan dijadikan sila pertama dasar negara Indonesia, Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, negara Indonesia mengakui dan melindungi hak setiap warga negara untuk memiliki keyakinan keagamaan dan ketuhanan,” urai Wakil Sekjen DPP PKB itu

Dengan begitu, siapapun tidak boleh membawa-bawa masalah keyakinan asasi ke ranah diskursus publik. Sebab, hal tersebut pasti akan menyebabkan ketersinggungan sesama warga negara yang berbeda keyakinan.

“Saya berharap, kasus cuitan Ferdinand ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua sebagai warga negara. Jangan ada lagi yang bermain-main dengan agama (apalagi menyangkut Allah) untuk kepentingan dan tujuan apapun,” tegasnya.

“Ingat, ketersinggungan dalam keyakinan agama (dan apalagi menyangkut eksistensi Allah) terbukti telah memicu banyak permusuhan dan peperangan panjang dalam sejarah peradaban manusia,” tutup Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi PKB tersebut.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

UPDATE

Prabowonomics dalam Desain APBN 2027

Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:17

BRI KKB National Expo 2026 Hadir di 131 Lokasi dan Torehkan Rekor MURI

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:48

Sikap Amien Rais Makin Plinplan dan Mirip Sengkuni

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:14

PBB Dorong PT Timah Serap Hasil Timah Masyarakat Bangka Belitung

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:45

Truk Karnaval Kementerian PU Hadirkan Pesan Gotong Royong dan Kerja Nyata

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:16

Pernyataan Agus Burate soal 5 WN China di Tambang Emas Dibantah Keluarga

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:42

Jalan Harmoni, Potret Toleransi di Jantung George Town

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:37

Sindikat Meterai Palsu yang Bikin Negara Boncos Rp1 Triliun Dibongkar Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:21

Komisi V DPR Usul Kapal Penumpang dan Pengangkut Barang Dipisah

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:59

Jampidsus Diminta Terbitkan Sprindik Baru Kasus Jiwasraya dan Asabri

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:35

Selengkapnya