Berita

Webinar yang diselenggarakan oleh Jakarta Economic Sustainability International Conference Agenda (JESICA)/Ist

Politik

Hadapi Pandemi, Indonesia Disarankan Segera Adaptasi Sistem Ekonomi Sirkular

JUMAT, 03 DESEMBER 2021 | 22:13 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Adanya pandemi virus corona baru (Covid-19) di dunia dewasa ini, setidaknya telah memberikan efek jangka panjang pada pembangunan manusia dan memungkinkan terjadinya transformasi besar.

Termasuk diantaranya mengenai isu ekonomi yang sedang dialami Indonesia saat ini yaitu ekonomi sirkular dan keberlanjutan bisnis di era antroposen.

Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Dianwicaksih Arieftiara dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh Jakarta Economic Sustainability International Conference Agenda (JESICA) pada Jumat (3/12).  


"Pembangunan manusia penting untuk mencapai ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Penjelasan Dianwicaksih, sistem sirkular ekonomi adalah lawan linier ekonomi. Di Indonesia kebanyakan masih berlaku sistem linier ekonomi.

Artinya, korporasi memperoleh low material dari alam.

"Industri kertas tebang pohon misalnya, industri plastik menggali minyak bumi dan lainnya. Lalu begitu saja masyarakat membuang bisa limbahnya. Sirkular ekonomi ini mengganti low material dari alam memproduksi kembali limbahnya," sambungnya.

Atas dasar itu, Indonesia harus segera beradaptasi di era baru pandemi Covid-19 ini dengan menerapkan ekonomi sirkular.

Menurut Dianwicaksih, Indonesia harus bisa beradaptasi dengan ekonomi sirkular di tengah adanya Covid-19.

Dalam pandangan Dianwicaksih, semua pihak dipaksa untuk sama-sama bertransformasi bergerak memberdayakan masyarakat. Salah satu cara efektifnya adalah dengan sirkular ekonomi.

"Sirkular ekonomi kan proses produksi itu memperpanjang siklus hidup produk. Jadi masyarakat setelah dia mengkonsumsi produknya dia bisa simpan bisa dijadikan memiliki ekonomis yang lebih tinggi," tuturnya.

Dianwicaksih mengurai, pada masa pandemi Covid-19 ini setidaknya ada tiga isu utama yakni pandemi Covid-19 itu sendiri, isu tingkat pertumbuhan yang persisten lambat termasuk di dalamnya kemiskinan, pengangguran dan deindustrialisasi.

Lalu, daya tarik ekonomi baru yang telah banyak dipraktikkan dalam kerja ekonomi termasuk big data, perdagangan manusia, migrasi, dan perang.

"Mengapa semua isu itu penting? Jawabannya karena isu-isu tersebut berkaitan langsung dengan kita manusia makhluk alam dengan masa depannya," tuturnya.

Dengan kata lain, lanjutnya, isu tersebut sudah mempengaruhi keberlanjutan (sustainability).

Selain itu, dikatakan Dianwicaskih, isu-isu tersebut juga penting karena memiliki dampak perubahan yang bersifat masif dan global. Sekaligus dapat menjadi titik balik berbagai praktik yang diadopsi dalam beberapa dekade ini.

Singkatnya, ini penting lantaran mengarah pada transformasi besar yang harus diantisipasi oleh berbagai disiplin ilmu termasuk akuntansi, manajemen, ilmu ekonomi, ilmu sosial dan lainnya.

Menurut Dianwicaksih, evolusi pada masa pandemi ini tentunya perlu dipahami untuk memastikan perubahan dan menjadi pegangan bagi pengambilan kebijakan.

Maksud Dianwicaksih, kebijakan yang berorientasi kepada humanisme, alam, lingkungan.

Kegiatan konferensi internasional JESICA (Jakarta Economic Sustainability International Conference Agenda) ini pertama kali diselenggarakan oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta.

Konferensi sejalan dengan tren ekonomi dan bisnis saat ini yaitu pentingnya pembangunan manusia oleh manusia dalam rangka tercapainya pembangunan yang berkelanjutan.

"Hal tersebut tentunya tidak dapat dijalankan sendiri melainkan harus bekerjasama dengan pemerintah, industri, masyarakat, dan internasional," kata dia.

Meski demikian, masih kata Dianwicaksih, UPN Veteran Jakarta memberikan fokus utama terhadap penyiapan keterampilan, inovasi, dan teknologi yang tepat. Tujuannya, untuk menghadapi kompleksitas dunia modern.

Selain Dianwicaksih, narasumber dalam webinar internasional yang digagas UPN Veteran Jakarta ini antara lain Prof Jayati Gosh dari Universitas Massachusetts Amherst United Stated dan Prof Oliver FAVEREAU dari Economix Paris-Nanterre University France.

Selain itu, para akademisi yang konsen di bidangnya dari lintas negara dan benua turut meramaikan webinar internasional ini.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya