Berita

Peneliti Formappi, Lucius Karus/Net

Politik

Formappi Curiga Ada Agenda di Balik Revisi UU BPK Jelang Akhir Masa Jabatan

SENIN, 15 NOVEMBER 2021 | 10:26 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menduga ada agenda terselubung di balik proses revisi UU 15/2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Peneliti Formappi, Lucius Karus menduga revisi dilakukan untuk mengubah ketentuan soal masa jabatan Ketua BPK, Agung Firman Sampurna yang masa jabatannya akan berakhir tahun 2022 dan telah menjabat dua kali.

Selain Agung Firman Sampurna, kata Lucius, ada anggota BPK yakni Isma Yatun yang akan mengakhiri masa jabatan pada tahun yang sama.


Surat pemberitahuan akan berakhirnya masa jabatan Ketua BPK dan anggota BPK sudah masuk di DPR RI pada 18 Oktober 2021 dengan No: 159A/S/I/10/2021. Tetapi, sampai muncul rencana proses revisi UU BPK, surat tersebut belum jelas tindak lanjutnya

"Ini benar-benar sebuah mimpi buruk jika revisi UU BPK dilakukan cepat sementara tindak lanjut surat pemberhentian Agung Firman Sampurna dan Isma Yatun tidak diproses cepat," ujar Lucius Karus kepada wartawan, Senin (15/11).

Selain perpanjangan masa jabatan Agung Firman Sampurno sampai 2024, dibeberkan Lucius, revisi UU BPK juga menambah kewenangan BPK melakukan penyidikan.

Menurutnya, DPR RI sebaiknya segera menindaklanjuti surat pemberhentian dengan hormat dua anggota BPK yang berkahir masa jabatannya. Hal ini, lebih substansial dibandingkan membahas revisi UU BPK.

"Jika tindak lanjut surat itu tidak segera dipastikan dan di saat yang bersamaan ada upaya untuk melakukan revisi UU BPK secara cepat, maka itu akan mengonfirmasi bahwa revisi UU BPK yang direncanakan mendadak memang dibuat untuk kepentingan perubahan ketentuan soal lamanya masa jabatan anggota BPK," katanya.

"Suratnya itu kan sudah masuk di DPR RI maka harus prioritaskan tahapan pemilihan anggota BPK terlebih dahulu, agar tidak ada kecurigaan publik jika ngotot revisi UU BPK. Selain itu menurut aturan surat dari BPK harus ditindak lanjuti dulu," katanya.

Jika kecurigaan di atas benar adanya, masih kata Lucius, maka revisi UU BPK yang akan dilakukan dapat merusak kredibilitas BPK dan menjadi bukti bahwa aturan bisa dibuat untuk mengakomodir hasrat tertentu.

"Sulit membayangkan bagaimana sebuah UU diutak-atik hanya untuk menyalurkan nafsu dan kepentingan kelompok dan orang-orang tertentu saja," tegasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya