Berita

Presiden Joe Biden dan Presiden Xi Jinping/Net

Dunia

Pengamat: Mustahil Tercapai Konsensus, Pertemuan Xi-Biden Digunakan Gedung Putih untuk Menghibur Elit Bisnis dan Keuangan

SENIN, 15 NOVEMBER 2021 | 07:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pekan ini mungkin akan menjadi yang paling dinantikan oleh banyak pihak, sebab pemimpin utama dari dua ekonomi terbesar dunia, Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Joe Biden dipastikan akan bertemu secara virtual.

Sejumlah pengamat menduga bahwa isu seputar Taiwan akan menjadi salah satu fokus utama dalam pertemuan keduanya  yang menurut jadwal akan berlangsung Senin (15/11).

“Saya percaya pembahasan tentang Taiwan akan menjadi prioritas utama pertemuan mendatang, dan kami akan menegaskan kembali posisi dasar kami pada pertanyaan itu sambil membunyikan peringatan kepada AS, dan mendesaknya untuk bertindak dengan cara yang terkendali,” kata Xin Qiang, wakil direktur dari Pusat Studi Amerika di Universitas Fudan, seperti dikutip dari Global Times, Minggu (14/11).


Namun, menurutnya, kedua belah pihak tidak mungkin mencapai konsensus mengenai masalah ini karena masih ada motivasi kuat di dalam pemerintah AS untuk terus memainkan kartu Taiwan, yang dipandang sebagai salah satu pengaruh paling berguna Washington terhadap Beijing.

Pernyataan Xin muncul setelah baru-baru ini sebuah delegasi  yang terdiri dari anggota parlemen Republik AS ‘menyelinap’ ke pulau itu melalui pesawat militer AS pada Selasa (9/11) untuk kedua kalinya sejak Presiden AS Joe Biden menjabat.

Dekan Institut Studi Internasional di Universitas Fudan, Wu Xinbo, mengatakan, mengingat pemerintahan Biden belum mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki kata-kata dan tindakannya yang salah mengenai masalah Taiwan, China akan terus menekan pemerintah AS. Pembicaraan terakhir antara Menlu Wang Wenbin dan Menlu Antony Blinken menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih berusaha menyelesaikan masalah tersebut.

“Sulit untuk mengatakan apakah China dan AS akan mencapai konsensus tentang permasalahan ini, tetapi AS harus membuat beberapa janji konkret sesuai dengan prinsip satu-China dan sebagai tanggapan atas kekhawatiran China, jika tidak maka akan mempengaruhi hasil pertemuan antara para pemimpin puncak serta hubungan China-AS di masa depan," kata Wu.

Pendapat serupa disampaikan Jin Canrong, rekan dekan School of International Studies di Renmin University of China. Dia mengatakan pertemuan Xi-Biden tidak akan dapat sepenuhnya meredakan hubungan China-AS.

“Ada dua kelompok elit di AS yang memiliki pendapat berbeda tentang kebijakan China, termasuk faksi garis keras yang menganjurkan bermain kartu Taiwan, dan faksi lainnya, diwakili oleh elit Wall Street, yang berharap untuk memulihkan hubungan ekonomi antara China dan AS,” kata Jin.

“Faktanya, pertemuan tingkat tinggi ini diadakan untuk mengirim pesan dari Gedung Putih untuk menghibur para elit bisnis dan keuangan,” katanya.

Isu dan topik bilateral utama lainnya yang akan memandu hubungan di masa depan diharapkan akan dibahas dalam pertemuan Xi-Biden, termasuk kerja sama tentang perubahan iklim, penentangan terhadap perang dingin baru, bagaimana mengelola tarif dan menjaga stabilitas regional di tempat-tempat seperti Laut China Selatan, menurut para ahli.

“Saya pikir Presiden Xi akan menekankan kembali jenis hubungan baru antara negara-negara besar, bersikeras pada non-konfrontasi dan non-konflik atas dasar timbal balik dan saling menghormati, untuk memastikan hubungan China-AS berada di jalur yang stabil,” kata Lu Xiang, seorang peneliti di Akademi Ilmu Sosial China.

Lu mengatakan, selain topic tentang Taiwan, pertemuan tersebut akan fokus pada bagaimana mendefinisikan kerja sama dan persaingan China-AS.

“Jika AS secara sepihak membentuk beberapa lingkaran kecil untuk menahan China, itu tidak akan berhasil,” katanya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya