Berita

Orang-orang membersihkan sisa-sisa kekacauan Kristallnacht 1938/Net

Histoire

Kristallnacht 1938, Sejarah Kelam Pembantaian Orang-orang Yahudi di Jerman

SELASA, 09 NOVEMBER 2021 | 05:58 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tanah Jerman di malam kelam 83 tahun yang lalu, tentu tidak akan pernah bisa dilupakan terutama oleh keluarga Yahudi yang ayah, ibu, dan anaknya mengalami penyiksaan brutal. Sejarah menakutkan itu menorehkan trauma paling hebat. Rumah, toko, sinagog, gedung sekolah, dan tempat-tempat keluarga Yahudi menjadi target amukan Nazi.  

Malam itu, 9 November 1938, Kepala Gestapo (Polisi Rahasia) Heinrich Müller mengirim telegram ke semua unit polisi di Seluruh Jerman dan Austria, memberi isyarat bahwa “dalam waktu singkat, tindakan terhadap orang Yahudi dan tmepat tinggal serta rumah ibadah mereka akan terjadi."  Tidak ada yang boleh mengganggu rencana yang tersusun itu. Sebaliknya, polisi harus menangkap para korban.

Perusahaan pemadam kebakaran berdiri di dekat sinagoga yang terbakar dengan instruksi eksplisit untuk membiarkan bangunan terbakar. Mereka harus turun tangan hanya jika kebakaran mengancam properti yang berdekatan.


'Perintah' itu pun berjalan. Kerusuhan hebat melanda penjuru negeri. Orang-orang yahudi menjerit histeris, berlarian menyelamatkan diri dari amukan Nazi. Mereka  dipermalukan di jalan, dipukuli, juga dibunuh.

Ratusan rumah ibadah dijarah, dirusak dan dibakar. Para perusuh mengobrak-abrik dan menjarah sekitar 7.500 bisnis Yahudi, membunuh sedikitnya 100 orang Yahudi, dan merusak kuburan Yahudi.

Besoknya, 10 November, sekitar 30 ribu warga Yahudi yang ditangkap dibawa ke kamp konsentrasi Dachau, Buchenwald dan Sachsenhausen.

Malam mengerikan itu kemudian disebut sebagai Kristallnacht atau Malam Pecahan Kristal. Banyak sumber yang mengatakan, disebut Kristallnacht karena ada banyak pecahan kaca bertaburan di sepanjang jalan akibat kerusuhan mengerikan itu.

Kristallnacht kemudian dikenang sebagai pengingat 'kehancuran terakhir dari keberadaan Yahudi di Jerman'.

Setelah peristiwa Kristallnacht, rezim Nazi membuat kelangsungan hidup orang Yahudi di Jerman menjadi tidak mungkin.
Nazi kemudian memaksa orang-orang Yahudi untuk membersihkan bekas-bekas kekacauan dan kerusakan serta membayar ganti rugi.

Sebulan setelah peristiwa malam mengenaskan itu, Pemerintah Nazi melarang orang Yahudi bersekolah, dan memberi wewenang kepada otoritas lokal untuk memberlakukan jam malam.

Pada Desember 1938, orang-orang Yahudi yang ditahan di kamp konsentrasi dibebaskan tetapi mereka dilarang berada di Jerman.
Kristallnacht mewakili eskalasi dramatis dari kampanye yang dimulai oleh Adolf Hitler pada tahun 1933 ketika ia menjadi kanselir untuk membersihkan Jerman dari populasi Yahudi.

Sumber lain mengatakan, Kristallnacht disebut-sebut sebagai 'aksi balas dendam Nazi' terhadap peristiwa pembunuhan seorang diplomat Jerman tingkat rendah di Paris oleh seorang Yahudi Polandia berusia 17 tahun.

Kerusuhan dengan motif anti-Yahudi menyebar di beberapa kota di Jerman. Dari München, di mana pemimpin Nazi berkumpul untuk perayaan peringatan kudeta Hitler, Menteri Propaganda Joseph Goebbels menyampaikan pidato, ia memerintahkan penghancuran toko-toko milik warga Yahudi dan pembakaran sinagog.

Banyak diplomat asing yang ditempatkan di Jerman melaporkan kejadian itu ke negara asal mereka, dengan mengatakan "budaya barbarisme terjadi di negeri ini."

Kedutaan Besar Italia menulis pada tanggal 16 November 1938: "Tidak terbayangkan, bahwa 500.000 orang per hari ditembak, dipaksa bunuh diri atau terkunci dalam kamp konsentrasi raksasa."

Namun, tidak ada reaksi dari negara-negara itu untuk menyelamatkan orang Yahudi atau menindak perlakuan Nazi.

Setelah peristiwa Kristallnacht, ratusan ribu orang Yahudi melarikan diri dari Jerman ke negara lain.

Komunitas internasional mengecam keras tindakan Nazi. Beberapa negara memutuskan hubungan diplomatik sebagai protes. Namun hanya sebatas itu. Nazi tidak mendapatkan konsekuensi serius dari perbuatan mereka, membuat mereka percaya bahwa mereka dapat lolos dari pembunuhan massal yang merupakan Holocaust, di mana jutaan orang Yahudi di Eropa tewas dengan cara mengenaskan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya