Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Juru Wabah: Presiden Akui Kesalahan dan Kelemahan Penanganan Covid-19

SENIN, 01 NOVEMBER 2021 | 00:17 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Setelah sekian lama pandemi Covid-19 memakan banyak korban jiwa hingga akhirnya bisa melandai pada Oktober 2021, Presiden Joko Widodo baru mengakui ada masalah dalam penanganan yang dilakukan pemerintah.

Pengakuan Jokowi disampaikan secara terbuka melalui sebuah wawancara dengan Asia Presenter BBCNews, Kharisma Vaswani, yang ternyata juga dikomentari Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono.

Pemilik akun Twitter bernama Juru Wabah ini mengomentari pernyataan Jokowi dalam wawancara tersebut.


"Presiden Jokowi mengakui secara terbuka, bahwa ada kesalahan atau kelemahan dalam penanganan Pandemi di Indonesia," ujar Pandu dalam akun Twitternya, Minggu (31/10).

Dalam wawancaranya, Kharisma Vaswani meminta respon Jokowi terhadap jumlah kematian Covid-19 di Indonesia yang sudah hampir mencapai 150 ribu kasus, bahkan diperkirakan melebihi angka tersebut, mengingat pemerintah meremehkan Covid-19 sejak awal masuk, meskipun pada akhirnya kini sudah melandai jumlahnya.

Lantas, dirinya menanyakan, "Bagaimana pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas kematian ini".

Jokowi menyatakan, "Dulu 56 ribu kasus memang rumah sakit kita, fasilitas kesehatan kita penuh dan tidak mampu menampung. Saat itulah memang terjadi kematian yang sangat banyak hampir 2.000 per hari. Tapi saat ini sudah bisa kita tekan," kata Jokowi.

Kemudian, Jokowi juga ditanyakan apa kesalahan terbesar pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19. Mantan Wali Kota Solo ini hanya menjawab, "ya menurut saya fasilitas kesehatan kita yang belum baik. Ini yang kita perbaiki dengan reformasi di bidang kesehatan," ucap Jokowi.

"Utamanya fasislitas kesehatan, kemudian pembangunan SDM yang lebih merata di seluruh Indonesia. Karena ingat, fasilitas kesehatan di Jawa dan luar Jawa perbedaannya sangat jauh sekali," sambungnya.

Menanggapi pernyataan ini, Pandu Riono melihat Jokowi dan jajarannya mesti bekerja keras untuk tidak hanya sekadar membuat landai kasus Covid-19. Tapi jauh dari itu, bisa merencanakan dan melakukan hal-hal yang memiliki jangka lebih panjang.

"Tantangan terbesar untuk transformasi kesehatan publik di Indonesia. Tidak saja bisa mengakhiri pandemi, tetapi juga bisa membawa kesehatan rakyat lebih baik," demikian Pandu Riono.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Rakornas BEM KSI Bawa Misi Besar

Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:08

BNPB Catat 8 Provinsi Terjadi Karhutla Selama 2 Hari, Wilayah IKN Jadi Prioritas

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:52

Menkop Dorong Anak Muda Malang Bentuk Koperasi untuk Perkuat Usaha

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:51

Gus Yaqut Seret Pemerintah Arab Saudi demi Bantah Dakwaan KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:48

Kinerja Menhut Atasi Karhutla Dipertanyakan, Hukum Cuma Tajam ke Bawah?

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:34

BRI Group Kelola Ekosistem Emas 153 Ton melalui Ekosistem Ultra Mikro

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:23

Belajar dari Kehancuran Harappa

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:09

Pertarungan Para King Maker dan Super-Konektor Belakang Layar Pilpres 2029

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:29

Petinggi PT Pakuwon Jati Diperiksa KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:28

Semua Elemen Masyarakat Harus Jaga Jakarta Tetap Kondusif

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:05

Selengkapnya