Berita

Ekonom senior Fuad Bawazier saat jadi narasumber di Gelora Talks/Repro

Politik

Fuad Bawazier: Daripada Tambah Rugi, Lebih Baik Cut Loss Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung

RABU, 20 OKTOBER 2021 | 17:28 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pemerintah terkesan memaksakan diri untuk melanjutkan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Pasalnya, Presiden Joko Widodo mengumumkan proyek tersebut boleh menggunakan APBN.

Padahal sebelumnya tidak ada skema menggunakan APBN. Skema yang dijalankan sejak proyek ini mulai adalah sebatas bussiness to bussiness.

Ahli ekonomi Fuad Bawazier menyampaikan, pemerintah harus mampu mengambil risiko untuk menghentikan kereta api cepat tersebut dengan menggunakan sistem cut loss antara kedua belah pihak.


"Saya sih cenderung udahlah cut loss saja. Pihak masing-masing sesuai share yang 60 persen pihak China, 40 persen pihak kita masing-masing mikul cut loss yang ada sekarang,” tegas Fuad dalam acara diskusi virtual Partai Gelora dengan tema APBN di Tengah Himpitan Pajak dan Utang Negara, Rabu (20/10).

Menurutnya, para ekonom di Indonesia sudah menimbang-nimbang untung rugi dalam megaproyek tersebut. Namun, Fuad meminta agar pemerintah legowo jika ingin mengamankan uang negara.

“Ini kan sudah jadi bahan kritikan lama. Rugi dong? Iya betul rugi, namanya juga cut loss. Tetapi kalau anda teruskan, satu anda akan menambah jumlah yang lebih signifikan lagi tambahan untuk kereta api cepat. Itu juga akan menjadi kerugian tadi,” ujarnya.

Kata Fuad, jika pemerintah melakukan cut loss, maka kerugian negara tidak terlalu besar ke depan.

Analisa mantan Menteri Keuangan itu, jika diteruskan maka beban keuangan negara akan besar untuk membayar utang pokok dan bunganya.

"Tetapi kan kerugiannya kan tidak berkepanjangan. (Kalau proyek lanjut) Nanti anda harus membayar bunga pokok, itu tidak akan pernah terbayar,” tegasnya.

"Jadi daripada nambah kerugian, nambah beban APBN, mungkin APBD dan seterusnya akan banyak. Sudahlah tutup saja dari sekarang,” tutupnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya