Berita

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng/Net

Publika

Ekonomi Memburuk: Berkaca dari Penjualan BBM Pertamina yang Merosot

Penjualan BBM Menurun Rp 250 triliun pada Tahun 2020 Dibandinkan Tahun 2018
MINGGU, 26 SEPTEMBER 2021 | 11:47 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

PELAJARAN paling berharga tentang pengelolaan ekonomi Indonesia datang dari Pertamina, sebuah cara yang menyimpang dari kaidah-kaidah yang lazim dalam hal menimbun utang.

Sementara pada saat yang sama pendapatan dan penjualan perusahaan menurun, belanja perusahaan juga menurun, namun anehnya utang meningkat sangat pesat. Utang komersial dengan biaya sangat mahal, ditumpuk di tengah kelesuan ekonomi.

Padahal Pertamina sendiri tidak melihat adanya kesempatan meningkatkan pendapatan,  utamanya dari penjualan BBM di era pandemi, yang sekaligus era transisi energi akibat perubahan iklim, serta era digitalisasi dalam seluruh lini ekonomi yang mengurangi konsumsi energi migas secara otomatis.


Bayangkan saja, Pertamina perusahaan minyak raksasa, mendapatkan kondisi paling buruk antara tahun 2018 sampai dengan tahun 2020. Pergantian direktur Pertamina 2018 tidak membawa perbaikan pada kinerja keuangan perusahaan. Setelah lebih satu dekade gagal membangun infrastruktur kilang satupun.

Perusahaan ini dihantam pendinginan ekonomi paling parah sekarang akibat Covid-19. Penurunan penjualan BBM dan pendapatan Pertamina menurun sekitar 16,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 250-an triliun pada tahun 2020 dibandingkan keadaan tahun 2018.

Sisi lain pertamina menunjukkan mereka hidup dari utang baru untuk membiayai perusahaan. Boleh jadi juga untuk gaji, tunjangan dan bonus direksi.

Memang tidak diketahui tambahan utang sangat besar dalam rangka membiayai keperluan apa? Karena belanja Pertamina sendiri mengalami penurunan significant. Untuk tahun 2021 belanja Pertamina dipangkas Rp 80 triliun di saat pengumuman rencana global bond baru 20 miliar dolar AS.

Patut dipertanyakkan utang Pertamina bertambah dari global bond saja senilai 7,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 105 triliun dalam periode 2018 hingga 2021. Sembari kita menunggu berapa global bond yang ditambah kembali dalam akhir tahun ini dalam rangka mengatasi keadaan keuangan yang collaps.

Namun yang jelas tambahan global bond di tengah melemahnya bisnis BBM pertamina perlu dipertanyakkan penggunaannya secara jelas.

Berkurangnya pendapatan dan penjualan serta berkuranya belanja pada satu sisi, sementara pada sisi lain ada peningkatan significant dalam global bond dan utang pertamina adalah pertanyaan ekonomi politik yang cukup penting,  mengindikasikan bahwa masa depan perusahaan sedang dalam bahaya.

Sedikit lebih berbahaya dengan keadaan yang sedang dihadapi ekonomi indonesia. Sebagaimana  diketahui bahwa global bond Pertamina dikatakan di bawah jaminan penuh pemerintah.

Perlu dipahami bahwa keadaan Pertamina adalah ukuran real keadaan ekonomi Indonesia saat ini. Penjualan BBM merupakan indikator utama untuk melihat apakah industri dan mobilitas ekonomi sedang berjalan atau tengah lumpuh.

Menjadi masalah ketika dalam keadaan lumpuh namun membiayai badannya dengan timbunan utang, siapa yang akan bayar beban ini di masa depan? Sementara nilai perusahaan di masa depan dikonsumsi oleh pengurus perusahaan di masa sekarang.

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya