Berita

Salamuddin Daeng/Net

Publika

Kalau Trauma dan Apriori, Pemerintahan Jokowi Bisa Amblas oleh Perubahan Iklim

SENIN, 13 SEPTEMBER 2021 | 06:35 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

SRI MULYANI belum lama ini pernah  mengemukan bahwa agenda  perubahan iklim atau climate change akan lebih ganas dari Covid-19 terhadap perekonomian.  Tampaknya Sri Mulyani telah mengetahui dan sudah mendengar banyak bisikan terkait masalah ini.

Padahal.akibat Covid-19 ini saja Indonesia sesak napas alias sekarat, bagaimana dengan perubahan iklim yang agendanya harus dilaksanakan secara cepat?

Sri Mulyani memang benar dalam melihat masalah ini. Namun banyak tindakannya selaku Menteri Keuangan kurang benar. Sebagai contoh Indonesia masih bergantung pada fosil. Juga tidak ada dukungan anggaran APBN dalam pengembangan Energi Baru Terbaharukan (EBT).


Contoh paling telanjang adalah sampai saat ini  Menteri Keuangan masih memajaki dan menerapkan pungutan yang berat kepada PLTA atau pembangkit listrik tenaga air di Indonesia. Padahal PLTA itu modal indonesia, bukan impor EBT seperti wacana yang ada sekarang.

Tidak adanya  dukungan keuangan dalam pengembangan EBT sejak Presiden Jokowi menandatangani perjanjian iklim tahun 2016 lalu di Prancis (COP 21), memang merupakan hal yang aneh. Akibatnya EBT tidak berkembang dan bauran energi pun tidak berkembang sama sekali.

Sebaliknya kebijakan energi Indonesia disandera oleh bandar fosil, khususnya batubara. Mereka mengendalikan kementerian terkait. Kebijakan Menteri Keuangan pun tak berubah karena masih menyandarkan keuangan negara kepada pajak fosil minyak dan batubara.

Maka terjadillah simbiosis mutualisme  antara para perusak hutan, sawit, batubara, dan tambang energi fosil lainnya dengan pemerintah. Sudah menjadi rahasia umum para konglomerat pelahap hutan dan tambang inilah yang menopang oligarki yang berkuasa. Pantas saja EBT tidak maju-maju.

Sementara banyak  pihak pengusaha  seperti trauma dengan EBT. Selama ini proyek EBT hanya sebatas proyek menghabis-habiskan waktu secara sia sia. Tidak ada pencapaian. Tidak ada dukungan pemerintah pada masalah ini. Pemerintah sendiri hanya beroerientasi pada proyek-proyek EBT yang didanai asing.

Akhirnya tidak banyak pengusaha yang paham keadaan ini menaruh minat dalam penelitian dan pengembangan EBT. Sikap trauma juga menghinggapi para peneliti dan akademisi yang peduli masalah ini.

trau·ma  menurut KBBU keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani; atau luka berat;

Sementara kementerian dan lembaga menunjukkan sikap apriori. Mereka beranggapan bahwa tidak akan ada yang memberi sanksi kepada Indonesia jika tidak menjalankan agenda transisi energi melalui EBT.

Kalau tidak dilaksanakan memang kenapa? Mungkin karena kebiasaan sering janji palsu, jadi sikap ini terbawa  ke janji-janji pada pihak Internasional.

Padahal Presiden Jokowi sudah jelas menandatangi perjanjian iklim dan perjanjian ini sudah diratifikasi oleh DPR menjadi UU. Jadi apakah mereka mau mempermalukan presiden di COP 26 di Glasgow sebentar lagi ya?

apriori menurut KBBI artinya berpraanggapan sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dan sebagainya) keadaan yang sebenarnya.

Sementara Menkeu Sri Mulyani tahu bahwa tahun-tahun mendatang tidak akan ada utang luar negeri jika kebijakan keuangan negara masih bersandar pada konglomerasi fosil.

Ke depan bank dan lembaga keuangan internasional telah dilarang membiayai energi fosil. Pajak dalam rangka perdagangan internasional akan dipungut samgat besar.

Tahun 2030 jika berdagang dengan Uni Eropa maka pengguna energi fosil akan dikenakan pajak sampai 250 dolar per ton karbon yang dikonsumsi. Ini yang disebut oleh Sri Mulyani bahwa climate change lebih berat dari Covid. Mungkin tahu.

Tapi lain pikiran lain tindakan.  Jika negara lain memberi insentif pajak dan keuangan serta Insentif moneter dalam rangka meningkatkan penggunaan EBT. Menteri Keuangan Indonesia malah menghajar PLN dengan kebijakan memajaki PLTA, memalaki EBT, dan berbagai  kebijakan yang berorientasi menyerang ke dalam, bukan mempersiapkan diri menghadapi pihak luar.

Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus  memanjakan bandar-bandar batubara, bandar sawit, dan pelahap hutan lainnya serta pembangkit listrik berbahan bakar fosil batubara. Padahal Menteri Keuangan adalah Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan  (KSSK) yang bisa memanggil BI dan OJK. Namun tidak dilakukan. Juga menurut UU 2 tahun 2020 Menkeu sangat berkuasa.

Seluruh kebijakan moneter, keuangan dan kebijakan sektoral di bidang energi Indonesia, akan membuat pemerintahan ini diisolasi pascapenyelenggaraan  Conference of the Parties (COP) ke-26 di Glasgow, Skotlandia, 31 Oktober hingga 12 November 2021.

Mengapa? Indonesia lain di mulut lain di hati. Lain perkataan lain perbuatan. Tandatangan perjanjian tapi tak dikerjakan. Apa namanya yang begitu itu ya?

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya