Berita

Ilustrasi bantuan sosial (Bansos)/Net

Politik

66,7 persen Publik Khawatir Program Jaring Pengaman Sosial Dikorupsi

SABTU, 14 AGUSTUS 2021 | 19:20 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Program jaring pengaman sosial yang digelontorkan pemerintah untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19 dikhawatirkan menjadi objek korupsi oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Hal tersbeut terekam dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) bertajuk "Refleksi Penanganan Pandemi dan Dampak Konstelasi Politik 2024"

Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah menjelaskan, mayoritas responden dari 1.200 orang yang terlibat dalam surveinya menyatakan program jaring pengaman sosial rawan dikorupsi,


"Terdapat 66,7 persen responden menyatakan program jaring pengaman sosial rawan dikorupsi," ujar Dedi dalam diskusi daring Polemik Trijaya FM, Sabtu (14/8).

Di samping itu, Dedi dalam surveinya juga merekam anggapan masyarakat terhadap efektivitas program jaring pengaman sosial, dan juga soal penentuan penerima berbagai bentuk bantuan yang dibuat pemerintah.

"Ada 52,7 persen yang menyatakan jaring pengaman sosial tidak signifikan membantu, dan 56,3 persen beranggapan pemilihan penerima bantuan tidak transparan dan terbuka," tuturnya.

Meski begitu, IPO juga menangkap lebih rinci penilaian responden terkait efektivitas dan ketepatan sasaran sejumlah bentuk program jaring pengaman sosial.

Di mana, untuk program bantuan tunai, sebanyak 26,9 persen responden menyatakan tepat sasaran. Kemudian 54,8 persen tidak tepat sasaran dan 18,3 persen tidak menjawab atau tidak tahu.

Kemudian, dari 1.200 responden ada 51 persen yang menyatakan program bantuan tunai efektif. Sedangkan sebanyak 32 persen menyatakan tidak efektif dan sisanya sebanyak 17 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Untuk program bantuan sembako, ada 62,1 persen responden menyatakan tepat sasaran, 34,8 persen tidak tepat sasaran, dan 3,2 persen menjawab abstain.

Di samping itu, ada sebanyak 62 persen responden menyebut bahwa bantuan sembako tidak efektif, 21 persen efektif, dan 17 persen abstain.

Adapun untuk program Prakerja, 26,4 persen responden menyatakan tepat sasaran, 66,1 persen tidak tepat sasaran, sedangkan 7,5 persen menjawab abstain.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya