Berita

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyoroti isu tersebut secara khusus dalam pidatonya di Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI)/Net

Dunia

Joe Biden: Apa yang Terjadi di Indonesia jika Benar 10 Tahun ke Depan Jakarta Tenggelam?

SABTU, 31 JULI 2021 | 15:37 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Perubahan iklim yang merupakan ancaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh banyak negara di dunia. Oleh karena itu, tidak heran jika Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyoroti isu tersebut secara khusus dalam pidatonya di Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) pada Selasa lalu (27/7). Ini adalah pernyataan resmi perdana Biden sebagai presiden di hadapan ODNI.

Untuk diketahui, ODNI merupakan lembaga tingkat senior yang memberikan pengawasan kepada Komunitas Intelijen. ODNI mengawasi 17 organisasi intelijen Amerika Serikat.

Dalam pidatonya, Biden menegaskan bahwa meski terlibat konflik atau ketegangan di isu lain dengan China dan Rusia, namun Amerika Serikat siap bekerjasama dengan mereka dan negara-negara lain di dunia untuk memerangi perubahan iklim yang nyata.


"Bahaya bersama ini berdampak pada semua negara. Tantangan iklim telah mempercepat ketidakstabilan di negara kita sendiri dan di seluruh dunia, peristiwa cuaca ekstrem yang lebih umum dan lebih mematikan, kerawanan pangan dan air, naiknya permukaan laut, mengakibatkan perubahan iklim dan mendorong migrasi yang lebih besar dan menimbulkan risiko mendasar bagi komunitas yang paling rentan," papar Biden, sebagaimana transkrip pidato tertulisnya yang dipublikasikan di situs resmi Gedung Putih.

Dia menggaungkan kembali ancaman perubahan iklim yang menanti di depan mata.

"Saya tidak akan pernah melupakan pertama kali saya terjun sebagai Wakil Presiden, setelah saya terpilih. Departemen Pertahanan mengatakan apa ancaman terbesar yang dihadapi Amerika (adalah) perubahan iklim," tegasnya.

Biden lebih lanjut menjelaskan bahwa ketika permukaan air laut naik 2,5 kaki saja, akan ada jutaan orang yang bermigrasi di bumi ini untuk memperebutkan tanah yang subur.

"Anda melihat apa yang terjadi di Afrika Utara. Apa yang membuat kita berpikir ini tidak penting? Itu bukan tanggung jawab Anda, tetapi itu adalah sesuatu yang Anda tonton karena Anda tahu apa yang akan terjadi," kata Biden.

"Orang-orang yang adalah Muslim, dan satu-satunya perbedaan adalah kulit hitam dan/atau Arab, saling membunuh ribuan demi lahan subur, sebidang tanah subur, di Afrika Tengah Utara," sambungnya.

Bahkan secara eksplisit dia menyinggung soal dampak perubahan iklim yang akan mungkin menanti Indonesia.

"Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?" ujar Biiden.

"Ini penting. Ini adalah pertanyaan strategis sekaligus pertanyaan lingkungan," sambungnya.

Lebih lanjut Biden menjelaskan bahwa wilayah Arktik yang memanas secara dramatis membuka persaingan untuk sumber daya yang dulunya sulit diakses.

"Itulah yang saya maksud tentang perubahan dunia. Apa yang akan terjadi pada doktrin strategis kita dalam 2, 5, 10, 12 tahun ke depan, ketika Anda dapat menghindari Kutub Utara tanpa pemecah es?" ujar Biden.

"Jadi, sama seperti Anda yang selalu penting saat kami berusaha melawan ancaman tradisional, Komunitas Intelijen akan menjadi sangat penting bagi kekuatan Amerika saat kami menghadapi tantangan baru dan ancaman hibrida ini," tegasnya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Misteri Listrik Kejagung Padam di Tengah Pemeriksaan Febrie Adriansyah, Mobil Tahanan Bersiaga

Jumat, 24 Juli 2026 | 22:06

Prabowo Perlu Tiru Trik Cerdas Mahathir Hadapi Krisis

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:52

Indonesia Putar Haluan dari AS dan Bidik Pasar Ekspor Baru

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:38

Mentan Ngamuk, Minta Polisi Sikat Tujuh Perusahaan Culas Penolak Tebu Petani

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:29

100 Tahun Rarud Batur: Ketika Lava Tak Mampu Menghapus Peradaban

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:19

DPR Desak Operator Seluler Patuhi Putusan MK soal Kuota Internet Hangus

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:16

KUII VIII Jadi Momentum Bersejarah, Wantim MUI Ajak Umat Perkuat Peran Menuju Indonesia Emas 2045

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:13

Pemprov DKI Gelontorkan Rp249 Miliar untuk Rehabilitasi Empat Sekolah Rusak

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:01

PIKI Gelar Seminar Nasional di Tentena, Dorong Reformulasi Tata Kelola Dana Bagi Hasil Pertambangan

Jumat, 24 Juli 2026 | 20:52

PPP Banten Bergejolak, dari Gugatan ke Pengadilan hingga Saling Somasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 20:51

Selengkapnya