Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Media Luar Soroti Kehebohan Ivermectin Di Indonesia Yang Masih Diragukan Keefektifannya

KAMIS, 08 JULI 2021 | 18:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kehebohan penggunaan ivermectin sebagai obat yang digembar-gemborkan bisa meringankan gejala covid-19 di Indonesia, ikut disoroti media asing.

Di tengah keraguan akan kefektifannya, 'obat ajaib' ini telah mencuri perhatian di antara gelombang virus yang semakin di luar kendali di tanah air.

Apotek di seluruh negeri kehabisan ivermectin, pengobatan oral yang biasanya digunakan untuk mengobati kutu dan infeksi parasit lainnya, sebagian berkat posting media sosial viral yang menggembar-gemborkan potensinya sebagai pengobatan virus corona.


“Yang datang membawa tangkapan layar yang menunjukkan bahwa ivermectin dapat menyembuhkan Covid,” kata Yoyon, ketua kelompok penjualan farmasi di sebuah pasar di ibu kota Jakarta, seperti dikutip dari AFP, Kamis (8/7).

Dia mengatakan kekurangan tersebut telah mendorong harga obat tersebut naik dari sekitar 175.000 menjadi 300.000 rupiah per botol.

“Kami kehabisan persediaan saat ini setelah banyak orang datang untuk membelinya,” tambahnya.

Pujian antusias dari tokoh online populer membantu mendorong permintaan.

“Ivermectin adalah salah satu kunci yang aman dan efektif untuk mengakhiri pandemi dari berbagai dokter, dengan banyak bukti ilmiah," tulis Reza Gunawan, seorang ‘profesional kesehatan holistik’, kepada sekitar 350.000 pengikut Twitter-nya.

Sementara Iman Sjafei, salah satu pendiri outlet media populer Indonesia Asumsi, menggunakan platform yang sama untuk mengatakan lima kenalannya telah pulih dari Covid setelah mengonsumsi obat tersebut.

“Mungkin plasebo. Mungkin. Tapi mungkin juga benar,” katanya.

Sylvie Bernadi, yang tinggal di pinggiran Jakarta, mengatakan dia membeli ivermectin untuk kerabat yang terinfeksi setelah melihat pesan WhatsApp dan posting media sosial yang mempromosikan obat tersebut.

“Banyak orang mengatakan bahwa itu dapat menyembuhkan Covid-19, jadi saya membelinya,” kata warga berusia 66 tahun itu, sambil mengakui bahwa beberapa telah menyuarakan kekhawatiran tentang efek samping obat tersebut.

Dipicu oleh teori konspirasi anti-vaksin dan pandemi online, telah terjadi lonjakan permintaan ivermectin dari Brasil ke Afrika Selatan hingga Lebanon.

Tetapi pabrikan Merck mengatakan "tidak ada dasar ilmiah untuk efek terapeutik potensial terhadap Covid-19" dan memperingatkan kemungkinan masalah keamanan jika obat tersebut diberikan secara tidak tepat.

AFP juga menyoroti sikap Menteri BUMN Erick Thohir yang tetap memuji ivermectin dan mendesak produksi dalam negeri untuk obat tersebut, sementara para ilmuwan, Organisasi Kesehatan Dunia, dan beberapa regulator obat - termasuk milik Indonesia sendiri - juga menekankan kurangnya bukti yang kredibel untuk menunjukkan obat itu bekerja melawan Covid-19.

Seperti Erick, mantan menteri perikanan Susi Pudjiastuti turut menggemakan dukungan terhadap obat tersebut.

“Saya bukan dokter, tetapi di tengah keputusasaan dan kesulitan, saya pikir apa pun patut dicoba," kata Susi yang memiliki 2,5 juta pengikut di Twitter, menurut lapoan AFP.

Posting dan artikel Facebook yang menggembar-gemborkan keefektifan obat melawan virus corona telah menjamur di beberapa negara. Upaya untuk mengatasi virus di seluruh dunia telah dirusak oleh teori konspirasi, yang sering disebarkan oleh para pemimpin politik dan tokoh masyarakat lainnya.

Di Filipina, Presiden Rodrigo Duterte telah menekan regulator untuk menyetujui obat tersebut sebagai pengobatan Covid.

“Ada banyak orang yang kredibel ... yang bersumpah demi kuburan ayah mereka bahwa ivermectin bermanfaat bagi tubuh mereka saat mereka menderita Covid,” kata Duterte baru-baru ini kepada kepala regulator obat negara itu.

Setelah permintaan obat melonjak di Amerika Latin, WHO mengatakan pada bulan Maret bahwa setiap penggunaan obat sebagai pengobatan virus corona harus dibatasi pada uji klinis.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS bahkan telah memperingatkan risiko penggunaan ivermectin menyusul laporan orang-orang yang dirawat di rumah sakit setelah menelan versi obat yang dimaksudkan untuk kuda.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

DPR Dorong Pemerataan APBN Demi Daerah 3T Tidak Tertinggal

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:50

Utut Adianto Ngarep PDIP Tidak Ditinggalkan dalam RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:20

Dasco Pastikan Tak Akan Tinggalkan Fraksi PDIP di RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:50

Pidato Prabowo Bukti Pemerintah Berada di Jalur yang Benar

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:23

Purbaya: Pajak Karbon Motor BBM Masih Dikaji, Belum Final

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:57

Prabowo Pilih Guyur Insentif Motor Listrik Ketimbang Perbesar Subsidi BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:45

Perkuat Pasar Muslim Jelang Libur Akhir Tahun, Taiwan Bidik Wisatawan RI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:14

RUU Daerah Kepulauan jadi Kado Puluhan Juta Masyarakat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:59

Pidato Kenegaraan Prabowo Tunjukkan Kejelasan Arah Pemerintah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:31

Status Tim Penyelesaian Sengketa Internal PPP Dinilai Cacat Hukum

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:07

Selengkapnya