Berita

Seorang bocah tujuh tahun di Taiwan koma hingga meninggal dunia setelah dilempar 27 kali saat kelas judo/Net

Dunia

Dilempar 27 Kali Saat Kelas Judo, Bocah Tujuh Tahun Ini Meninggal Dunia

RABU, 30 JUNI 2021 | 18:50 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Nasib malang dihadapi oleh seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun di Taiwan. Alih-alih semakin lihai dalam bela diri, bocah yang tidak disebutkan namanya ini justru kehilangan nyawanya saat mengikuti kelas judo.

Kejadian ini terjadi pada bulan April lalu. Saat iu bocah tersebut dibanting ke lantai sebanyak 27 kali oleh pelatih dan rekan-rekannya yang lebih dewasa selama latihan judo.

Akibatnya, dia menderita pendarahan otak yang parah dan koma. Dia pun terpaksa menerima perawatan intensif dengan bantuan alat medis untuk bisa bertahan hidup.


Setelah hampir 70 hari kondisinya tidak segera pulih, orangtuanya pun memutuskan untuk menarik alat bantuan medis dari tubuh putra mereka. Namun tidak selang beberapa lama, bocah tersebut pun menghembuskan napas terakhir.

Menurut berita lokal seperti dikabarkan ulang BBC (Rabu, 30/6), sang pelatih yang berusia 60 tahun pun segera didakwa dengan serangan fisik yang mengakibatkan cedera serius dan menggunakan anak di bawah umur untuk melakukan kejahatan.

Namun pada awal bulan ini, pelatih yang diidentifikasi hanya dengan nama keluarganya Ho, dibebaskan dengan jaminan 100 ribu dolar baru Taiwan.

Akan tetapi setelah kematian korban, jaksa akan mengubah dakwaannya menjadi "cedera yang menyebabkan kematian". Jika terbukti bersalah, dia bisa menghadapi ancaman hukuman yang lebih berat, minimal tujuh tahun penjara hingga penjara seumur hidup.

Kronologi kejadian

Bocah tujuh tahun itu diketahui menghadiri kelas judo pada tanggal 21 April lalu di bawah pengawasan pamannya. Sang paman merekamnya selama kelas berlangsung untuk ditunjukkan kepada ibu sang bocah.

Video menunjukkan dia dilempar beberapa kali oleh teman sekelas yang lebih tua selama latihan. Sang bocah juga terdengar berteriak dalam video tetapi pelatihnya memerintahkan dia untuk berdiri dan memberitahu anak laki-laki yang lebih tua untuk terus melemparnya.

Setelah itu sang pelatih pun melanjutkan dengan melempar sang bocah malang ke lantai dengan tangannya sendiri.

Bocah itu pun kemudian pingsan. Namun sang pelatih justru menuduhnya berpura-pura tidak sadar.

Sang paman yang merekam adegan tersebut sempat hendak menghentikan aksi tersbeut namun kemudian urung dilakukan hingga keponakannya tidak sadarkan diri.

Sempat ada pertanyaan publik soal mengapa pamannya tidak menghentikan pelatih sejak awal. Namun para ahli di Taiwan mengatakan ada gagasan lama tentang rasa hormat dan penghormatan terhadap guru, yang terkadang berarti menerima otoritas mereka terlepas dari keadaannya.

Ibu dari bocah itu pun membelanya dengan mengatakan bahwa sang paman merasa bersalah atas apa yang terjadi.

"Saya masih ingat pagi itu ketika saya mengantarnya ke sekolah," kata sang ibu.

"Dia berbalik dan berkata, 'Mama selamat tinggal'. Pada malam hari, dia menjadi seperti ini (koma)," sambungnya.

Setelah penyelidikan lebih lanjut dilakukan baru diketahui bahwa pelatih tersebut tidak mengantongi izin.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya