Berita

Personel militer berjaga di luar USAMRIID di Fort Detrick/Net

Dunia

Ilmuwan Tutup Akun Saat Serangan Datang, China Kepada AS: Berhenti Ulurkan 'Tangan Hitam' Untuk Politisasi Covid

SELASA, 29 JUNI 2021 | 12:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kementerian Luar Negeri China buka suara terkait munculnya ancaman dan serangan dunia maya terhadap sejumlah ilmuwan internasional, termasuk anggota Komisi Lancet terkait studi mereka tentang asal-usul Covid-19.

Menurut China, serangan-serangan itu datang dari para politisi AS yang memaksa para ilmuwan untuk melepaskan hipotesis asal-usul alam yang terbukti secara luas dan berbalik dengan teori kebocoran laboratorium. Beberapa bahkan dipaksa harus mengundurkan diri untuk menjaga posisi ilmiah mereka.

"Beberapa orang di AS kini mengulurkan 'tangan hitam' mereka kepada komunitas sains internasional dalam upaya memaksa para ilmuwan untuk tunduk pada hegemoni AS. Ini  merupakan pelanggaran semangat ilmiah, penghancuran kerja sama global dalam melacak asal-usul Covid-19, dan tantangan dan penistaan terhadap keadilan umat manusia," kata Kemenlu dalam pernyataannya, seperti dikutip dari Global Times, Senin (28/6).


Juru bicara Kemenlu China, Wang Wenbin mengatakan, politisasi AS atas penelusuran asal-usul Covid-19 tidak etis dan akan berakhir dengan kegagalan.

Wang kembali mendesak AS untuk segera menghentikan manipulasi politiknya, menarik 'tangan hitamnya' dari komunitas sains, dan mengundang pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan penelitian asal Covid-19 di AS secara transparan.

Amerika pun harus memberikan penjelasan yang bertanggung jawab tentang situasi nyata di Fort Detrick dan lebih dari 200 laboratorium biologi yang telah didirikan AS di seluruh dunia.

Sebuah sumber yang dekat dengan tim gabungan WHO-China dalam studi asal virus mengatakan, dia menerima ancaman dari ekstremis sayap kanan di AS melalui email dan panggilan telepon setelah secara terbuka membantah konspirasi kebocoran laboratorium.

Orang-orang itu kebanyakan sayap kanan dan bahkan cenderung nasionalis kulit putih, yang memberitahunya tentang serangan yang akan datang dari 'patriot', kata sumber itu.

"AS memiliki lebih banyak ekstremis bersenjata daripada di mana pun, dan anggota Kongres GOP sedang mencambuk mereka sekarang," katanya.

Sumber lain dari tim gabungan WHO-China tentang studi asal virus juga mengakui bahwa ini adalah masa yang sulit bagi para ilmuwan karena penelusuran asal virus telah sangat dipolitisasi.

Beberapa ilmuwan juga terpaksa menghapus akun media sosial mereka setelah diserbu.

Kristian Andersen, seorang ahli virus di Scripps Research di La Jolla, California, menulis email kepada Anthony Fauci pada bulan Januari yang menunjukkan bahwa virus itu buatan manusia. Tetapi kemudian setelah mempelajari dengan cermat, Anderson berubah pikiran.

Dia lalu menerbitkan sebuah makalah pada bulan Maret yang mengatakan bahwa "dengan membandingkan data urutan genom yang tersedia untuk jenis virus corona yang diketahui, kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal melalui proses alami."  

Namun ilmuwan itu menghadapi klaim eksplosif di media sosial setelah dia mengubah kesimpulannya. Ilmuwan itu kemudian menghapus halamannya di Twitter.

Ada juga posting Twitter tentang anggota Komisi Covid-19 Lancet yang akan mengundurkan diri untuk mempertahankan pendirian ilmiah mereka daripada tunduk pada tekanan.

Tangkapan layar yang diposting oleh seorang netizen bernama Norman di Twitter mengatakan bahwa beberapa anggota tim AS dari gugus tugas Covid-19 Lancet sedang 'diancam', dan tekanan diberikan kepada ketua untuk membuat anggota setuju dengan teorikebocoran lab atas bukti berbasis sains yang kemungkinan besar berasal dari kelelawar.

"Dan beberapa anggota mungkin harus mengundurkan diri untuk mempertahankan pendirian mereka untuk sains, bukan politik," kata postingan tersebut.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya