Berita

Deputy Permanent Representative of Indonesia untuk PBB Mohammad K. Koba/Repro

Dunia

Tegas, Indonesia Dukung Resolusi PBB Untuk Cabut Embargo Kuba

JUMAT, 25 JUNI 2021 | 15:31 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Indonesia bergabung dengan 183 negara yang memilih untuk mendukung draft resolusi Majelis Umum PBB yang menyerukan soal pencabutan embargo ekonomi, komersial dan keuangan terhadap Kuba.

Melalui pernyataan yang dibagikan di akun Twitter resmi misi Indonesia di PBB, yakni @indonesiaunny pada Jumat (25/6), ditegaskan kembali sikap Indonesia yang memandang bahwa embargo melanggar norma dan prinsip hukum internasional, dan kesetaraan kedaulatan negara.

"(Embargo) menghambat pencapaian Agenda 2030 dan pemulihan dari pandemi Covid-19," tegas pernyataan yang sama.


Sebagai informasi, pada awal bulan ini Kuba merilis laporan yang menyebutkan bahwa embargo perdagangan dari Amerika Serikat yang telah berlangsung selama puluhan tahun, menelan biaya tidak kurang dari 9 miliar dolar AS selama tahun keuangan terakhir.

Bagi Kuba, situasi ini merusak kemampuan negara tersebut untuk mengatasi pandemi Covid-19. Di hadapan Majelis Umum PBB pekan ini, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez menjelaskan bahwa sanksi tersebut telah mempersulit Kuba untuk memperoleh peralatan medis untuk mengembangkan vaksin Covid-19 sendiri.

Bukan hanya itu, pembatasan ekonomi juga telah membuat Kuba mengalami masalah yang cukup serius dalam penyediaan peralatan untuk produksi pangan.

"Seperti virus, blokade itu membuat sesak napas dan membunuh, itu harus dihentikan," kata Rodriguez, seperti dikabarkan Reuters.

Sayangnya, Amerika Serikat di bawah komando Presiden Joe Biden menentang resolusi PBB tersebut. Sikap ini konsisten dilakukan oleh negeri Paman Sam sejak 24 tahun terakhir, kecuali pada tahun 2016 di masa pemerintahan Barack Obama yang memilih untuk abstain. Pada saat itu diketahui bahwa hubungan Washington dan Havana cukup baik.

Namun di era pemerintahan selanjutnya, yakni Donald Trump, Amerika Serikat kembali menentang resolusi semacam itu. Trump bahkan juga membatalkan hampir semua langkah yang diambil Obama untuk meredakan embargo Kuba.

Sikap tersebut ternyata berlanjut di masa pemerintah Joe Biden saat ini. Padahal, semasa kampanye dia kerap berjanji akan merombak kebijakan Trump terkait Kuba yang dinilai telah merugikan rakyat dan tidak berdampak baik pada kemajuan demokrasi dan hak asasi.

Namun sayangnya, hingga saat ini janji Biden tersebut belum juga terlihat dalam langkah atau kebijakan yang nyata.

Senada dengan situasi tersebut, wartawan senior dari Indonesia, Teguh Santosa pada awal Mei lalu sebenarnya juga pernah buka suara soal isu tersebut. Dalam Forum internasional bertema “Solidaritas untuk Mengakhiri Blokade Kuba” yang diselenggarakan Instituto Cubano de Amistad con los Pueblos (ICAP) dan Central de Trabajadores de Cuba (CTC), dia memberikan pandangannya soal masalah embargo dan blokade ekonomi yang dihadapi oleh Kuba.

Pada saat itu, Teguh menekankan bahwa pemerintah Amerika Serikat di bawah pemerintah Biden disarankan untuk mengubah mentalitas dan perspektif dalam berhubungan dengan negara-negara lain di dunia, termasuk Kuba.

“Dari Indonesia saya mengirimkan pesan kepada rakyat Kuba yang percaya bahwa kelas pekerja adalah elemen penting dalam peradaban dan perdamaian dunia,” ujar Teguh yang juga merupakan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) ini mengawali pesan May Day-nya.

Mantan Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu selanjutnya mengatakan, sudah lebih dari setahun masyarakat dunia menghadapi pandemi Covid-19 sebagai situasi yang unprecedented atau tidak pernah dialami sebelumnya.

"Namun di sisi lain, situasi ini membuka kesempatan pada manusia untuk meningkatkan kapasitas dan solidaritas,” ujar mantan anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat itu.

Teguh yang juga pernah menjadi Ketua Bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah menambahkan itu juga menekankan bahwa di era pandemi ini, pemerintah Kuba dan rakyat Kuba bekerja keras menghadapi pandemi Covid-19 dan memperkuat pondasi politik. Sejauh ini kerja keras itu cukup berhasil.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Konflik Memanas di Yaman Selatan, RI Dukung Saudi Gelar Konferensi Damai

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:16

Kuasai 51,57 Persen Hak Suara, Danantara Tetap Jadi Pemegang Saham Mayoritas Telkom

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:03

Bank Raya Perkenalkan Kartu Digital Debit Visa di Momentum Tahun Baru 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:50

Investor di Asia Hati-hati Sikapi Gejolak Politik Global

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:36

Rencana Prabowo Bangun 1.100 Kampung Nelayan Tahun 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:28

Kebijakan Chromebook Era Nadiem Rawan Dikriminalisasi

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Bukan Sejahtera, Rakyat Indonesia Bahagia karena Beriman!

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Menlu AS akan Bertemu Pejabat Denmark Soal Akuisisi Greenland

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:21

Pertama di Indonesia, BRI Raih Sertifikasi TMMi Level 3

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:13

Swasembada Harus Berdampak pada Stabilitas Harga Pangan

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:11

Selengkapnya