Berita

Pada masa awal kampanye vaksinasi global, vaksin buatan China menjadi salah satu pimadona bagi banyak negara di dunia/Net

Dunia

SMH: Mereka Yang Mengandalkan Vaksin China, Kini Hadapi Lonjakan Infeksi

RABU, 23 JUNI 2021 | 18:08 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

China merupakan salah satu negara yang terdepan dalam hal penemuan vaksin Covid-19 di tengah pandemi yang masih menghantui dunia hingga saat ini.

Pada masa awal kampanye vaksinasi global, vaksin buatan China menjadi salah satu "pimadona" bagi banyak negara di dunia. Terlebih, pada waktu yang bersamaan, negeri tirai bambu juga gencar mendorong diplomasi vaksin mereka.

Ada sederet negara yang menaruh harapan besar akan vaksin yang dibuat oleh produsen di China. Tiga di antaranya adalah Mongolia, Bahrain dan sebuah negara pulau kecil di Afrika bagian timur, yakni Seychelles.


Begitu yakinnya mereka dengan vaksin buatan China, sampai-sampai pemerintah Mongolia menjanjikan kepada warganya bahwa musim panas tahun ini negara itu akan bebas dari Covid-19.

Sedangkan pemerintah Bahrain menjanjikan bahwa mereka akan segera kebali ke kehidupan normal dan pemerintah Seychelles menekankan bahwa mereka akan memulai ekonominya segera.

Namun bak pepatah, "mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak" , alih-alih terbebas dari ancaman virus corona, ketiga negara tersebut justru kini justru harus menghadapi lonjakan infeksi Covid-19.

Padahal, merujuk pada sebuah proyek pelacakan data Our World In Data, di Mongolia, Bahrain, Seychelles dan Chili, sekitar 50 hingga 68 persen populasinya telah sepenuhnya diinokulasi. Jumlah ini cukup tinggi bahkan melampaui Amerika Serikat.

Keempat negara tersebut diketahui kebanyakan menggunakan vaksin yang dibuat oleh dua pembuat vaksin asal China, yakni Sinopharm dan Sinovac Biotech.

Sayangnya, menurut data dari The New York Times , keempat negara itu berada di antara 10 negara teratas dengan lonjakan kasus Covid-19 terburuk baru-baru ini.

Sebagai contoh, Mongolia yang telah memvaksinasi 52 persen dari populasinya, justru mencatat 2.400 infeksi baru pada akhir pekan kemarin. Jumlah ini melonjak empat kali lipat dari sebulan sebelumnya.

Situasi ini mengundang sorotan tersendiri, terutama dari para pakar.

"Jika vaksinnya cukup bagus, kita seharusnya tidak melihat pola ini,” kata pakar virus di Universitas Hong Kong Jin Dongyan.

“China memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki ini," sambungnya, seperti dikabarkan The Sydney Morning Herald (Rabu, 23/6).

Lantas, mengapa lonjakan kasus infeksi bisa terjadi meski tingkat vaksinasi tinggi?

Sejauh ini, para ilmuwan tidak tahu pasti mengapa beberapa negara dengan tingkat inokulasi yang relatif tinggi justru menghadapi lonjakan baru infeksi. Sejumlah kemungkinan yang muncul, penyebabnya adalah munculnya varian-varian baru, pelonggaran kontrol sosial serta perilaku individu yang ceroboh atau mengabaikan protokol kesehatan.

Namun, yang mengundang tanda tanya tersendiri adalah, mengapa negara-negara lain yang juga menggenjot program vaksinasi mereka namun dengan menggunakan vaksin yang berbeda, justu melihat penurunan signifikan dari kasus infeksi.

Sebut saja Amerika Serikat. Sekitar 45 persen populasinya sudah divaksinasi dengan penuh. Sebagian besar di antara mereka menggunakan vaksin buatan Pfizer-BioNTech dan Moderna. Hasilnya, selama enam bulan kasus infeksi di negeri Paman Sam turun hingga 94 persen.

Sementara itu, sebagai perbandingan, Israel yang memiliki tingkat vaksinasi tertinggi kedua di dunia, setelah Seychelles, kini melihat dampaknya dengan jumlah kasus Covid-19 harian baru yang dikonfirmasi di Israel sekarang sekitar 4,95 kasus per satu juta. Israel diketahui menggunakan vaksin Covid-19 dari Pfizer.

Sedangkan kondisi sebaliknya di alami Seychelles, yang sebagian besar mengandalkan Sinopharm. Negara kecil itu justru kini harus menghadapi jumlah kasus Covid-19 harian baru yang dikonfirmasi mencapai lebih dari 716 kasus per satu juta.

Memang, tidak ada vaksin yang sepenuhnya mampu mencegah penularan virus corona. Mereka yang sudah divaksin masih sangat mungkin bisa jatuh sakit. Namun tingkat kemanjuran dari setiap vaksin tentu perlu jadi sorotan tersendiri.

Terlepas dari situasi tersebut, para pejabat di Seychelles dan Mongolia membela penggunaan vaksin Sinopharm. Bagi mereka, penggunaan vaksin tersebut efektif dalam mencegah kasus penyakit yang parah.

Kepala peneliti dari Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat di Kementerian Kesehatan Mongolia Batbayar Ochirbat mengatakan bahwa negaranya membuat keputusan yang tepat untuk menggunakan vaksin buatan China. Pasalnya, vaksin tersebut membantu menjaga rendahnya tingkat kematian di negara tersebut.

Menurut Kementerian Kesehatan Mongolia, vaksin Sinopharm sebenarnya lebih protektif daripada vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Sputnik dari Rusia.

Lantas, mengapa lonjakan kasus infeksi terjadi di Mongolia?

Batbayar menjelaskan, hal itu bisa terjadi lantaran Mongolia terlalu dini membuka perbatasan. Selain itu, masih banyak warga yang percaya bahwa mereka terlindungi dari Covid-19 hanya dengan satu dosis vaksin.

“Saya pikir Anda bisa mengatakan orang Mongolia merayakannya terlalu dini,” katanya.

“Saran saya adalah perayaan harus dimulai setelah vaksinasi penuh, jadi ini adalah pelajaran yang dipetik. Ada terlalu banyak kepercayaan diri," demikian Batbayar.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya