Berita

Demonstrasi di Lapangan Tiananmen, China pada 1989/Net

Dunia

Peringatan Tiananmen 1989, Taiwan: China Harus Mereformasi Politik, Kembalikan Kekuasaan Pada Rakyat

KAMIS, 03 JUNI 2021 | 13:39 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Menjelang peringatan berdarah Lapangan Tiananmen 1989, pemerintah Taiwan meminta China untuk memulai reformasi politik dengan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat.

Lewat sebuah pernyataan pada Kamis (3/6), pemerintah Taiwan mengatakan Beijing telah lama menghindari penyesalahan dan merenungkan kesalahannya selama peristiwa Tiananmen.

"Kami menyatakan penyesalan, dan menyerukan kepada pihak lain untuk menerapkan reformasi politik yang berpusat pada rakyat, berhenti menekan tuntutan demokrasi rakyat dan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat sesegera mungkin," kata pemerintah, seperti dimuat Channel News Asia.


Pemerintah mengatakan, Partai Komunis China telah melakukan kediktatoran satu partai. Penindasan yang dilakukannya di dalam negeri maupun Hong Kong telah melanggar nilai-nilai universal dan aturan internasional.

"Mereka tidak hanya memperdalam kontradiksi sosial yang mendalam di masyarakat mereka sendiri, meningkatkan kesulitan reformasi sistemik, tetapi juga menciptakan risiko konflik, yang memengaruhi keamanan dan stabilitas regional," tambah pemerintah.

Peringatan Lapangan Tiananmen 1989 jatuh pada Jumat (4/6). Peristiwa 32 tahun lalu itu diabadikan sebagai kekerasan yang dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya yang melakukan aksi demonstrasi.

Hingga saat ini, pemerintah China belum pernah merilis jumlah korban tewas. Namun perkiraan dari kelompok hak asasi manusia menyebutkan ada ribuan orang yang tewas.

Beijing juga melarang adanya acara peringatan Lapangan Tiananmen 1989 di daratan.

China sendiri menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Namun Taiwan menyatakan diri sebagai negara yang merdeka dan demokratis.

Hubungan keduanya semakin buruk dengan adanya pandemi Covid-19. Taiwan mengatakan bahwa China telah berusaha untuk memblokir aksesnya ke vaksin, sementara China mengatakan bahwa Taiwan sedang bermain politik.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Polda Metro Geledah Sembilan Lokasi Terkait Dugaan Korupsi Proyek Alat Konstruksi

Jumat, 18 September 2026 | 18:26

APBN Defisit Rp240 Triliun, IHSG-Rupiah Kompak Anjlok

Jumat, 18 September 2026 | 18:06

Sinopsis The Ordinary Jackpot, Drama Korea Terbaru Lee Jun-hyuk

Jumat, 18 September 2026 | 18:04

Usai Summarecon Agung, Rumah Anak Buah Nusron Wahid Digeledah KPK

Jumat, 18 September 2026 | 18:02

BNI Perkuat Peran Bank Sahabat Mahasiswa melalui Jatinangor Music Fest

Jumat, 18 September 2026 | 17:57

Geledah Kantor Summarecon Agung, Dokumen SHGB dan Bukti Elektronik Disita KPK

Jumat, 18 September 2026 | 17:48

Fahd A Rafiq Jadi Tersangka KPK 3 Kali, Ini Daftar Kasus yang Menjeratnya

Jumat, 18 September 2026 | 17:48

Kasus Summarecon Alarm Pembenahan Sistem Blokir Pertanahan

Jumat, 18 September 2026 | 17:42

Beda Influenza A dan Flu Biasa, Kenali Gejala dan Cara Membedakannya

Jumat, 18 September 2026 | 17:41

Paulus Tannos Tegaskan Tak Hindari Hukum, Minta Bukti Diuji Secara Adil

Jumat, 18 September 2026 | 17:28

Selengkapnya