Berita

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko./Net

Politik

Kubu KLB Melempem, Kapan Moeldoko Ngopi Bareng Bursah dan Jabo?

KAMIS, 08 APRIL 2021 | 18:12 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Moeldoko pantas kecewa. Partai Demokrat (PD) versi Kongres Luar Biasa (KLB) yang dinahkodainya gagal mendapatkan legalitas dari kementerian Hukum dan HAM.

Berbagai laporan yang dilayangkan oleh kubu tersebut terhadap AHY juga ditolak oleh pihak kepolisian. Terakhir, salah satu juru bicara Kubu KLB yang paling sering tampil di televisi, Razman Arif Nasution, mengundurkan diri.

Kegagalan demi kegagalan yang diderita “Kelompok Deli Serdang” itu tak ayal membuat beberapa pengamat meragukan tuah politisi-politisi senior eks PD yang bergabung di dalamnya.


“Dalam kasus KLB, kekurangan kubu Pak Moeldoko sangat elementer yaitu kelengkapan administratif. Ini tentu membuat banyak orang heran, kok bisa begini ya?,” ujar Robby Patria, pengamat politik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Kamis (8/4).

Menurut Robby, untuk keluar dari situasi sulit yang dihadapinya, Moeldoko tak perlu ngotot memperjuangkan keabsahan KLB PD. Sebab, sepanjang apapun upaya hukum yang ditempuhnya, kubu KLB pasti akan terpentok pada persoalan administratif berupa ketiadaan mandat dari DPC-DPC PD kepada peserta KLB.

Lebih lanjut ia menyarankan agar Moeldoko mengikuti jejak Prabowo, Surya Paloh, dan Wiranto yang membentuk partai baru begitu kalah “bertarung” di Partai Golkar. Keputusan membentuk partai baru juga diambil Amien Rais saat kubunya tersisih dalam perebutan Ketua Umum PAN. Pembentukan partai  baru dianggap  langkah paling tepat bagi Moeldoko karena ia dinilai belum pernah menginvestasikan sumber daya politik maupun finansial untuk PD sebelum terjadinya KLB.

“Masih ada waktu untuk mempersiapkan segala keperluan menjelang pendaftaran dan memasuki tahapan Pemilu pada tahun depan,” kata Robby.

Jika Moeldoko membuat partai baru, Robby menyarankan agar mantan Panglima TNI itu membuat tim yang benar-benar tangguh agar upaya politik yang dilakukannya ke depan tidak gampang “melempem”. Tawaran simpatik dari mantan Ketua Partai Bintang Reformasi (PBR) Bursah Zarnubi agar Moeldoko menjajaki penggabungan dengan kelompok Bursah, kata Robby, patut disambut baik.

“Bang Bursah merupakan aktivis politik yang jelas rekam jejak keberhasilannya. Dia sukses mengantarkan PBR, walaupun kecil, punya fraksi sendiri di DPR,” kata Robby.

Bursah sendiri, dalam ajakannya kepada Moeldoko menyatakan bahwa embrio partai yang dipimpinannya berisi aktivis-aktivis muda dan mengusung platform baru yang berpihak pada pemberdayaan sektor pertanian, UMKM, serta perburuhan.

Selain dengan Bursah, Moeldoko juga dinilai perlu menjajaki aliansi dengan Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) yang dipimpin Agus Jabo, dedengkot Partai Rakyat Demokratik (PRD). PRIMA sendiri diinisiasi oleh PRD dan beberapa organisasi kemasyarakatan dan saat ini sangat aktif melakukan konsolidasi di berbagai provinsi.

“Kader-kader PRIMA memiliki kualifikasi mentor politik yang baik. Jika kubu KLB bergabung dengan PRIMA, akan jadi keuntungan politik tersendiri buat Pak Moel. Setidaknya, ia akan mendapatkan asupan strategi yang jauh lebih kaya ketimbang yang didapatkannya sekarang,” kata Samsul Joyobintoro, eks aktivis 1998 Yogyakarta.

Jadi, kapan Moeldoko ngopi bareng Bursah dan Jabo?

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya