Berita

Dahlan Iskan saat berada di pabrik Porang PT Ambico di Sidoarjo/Disway

Dahlan Iskan

Porang Ishii

JUMAT, 02 APRIL 2021 | 04:46 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BELUM lama porang menjadi idola petani kita. Tapi pabrik porang sendiri, pun di Indonesia, sudah berdiri sejak 50 tahun yang lalu.

Pendirinya, jangan kaget: pahlawan pejuang Indonesia. Namanya: Masaharu Ishii. Kewarganegaraan Indonesianya pun istimewa: diberikan sendiri oleh Bung Karno, proklamator dan presiden pertama Indonesia.

Pabrik itu ia dirikan di daerah Porong, sekitar 5 Km arah barat lumpur Lapindo, Sidoarjo.


Ishii pernah punya nama panggilan Mohamad Amin. Itu di tahun 1945. Untuk menghindari balas dendam dari tentara Sekutu –yang berusaha kembali menguasai Indonesia, sepeninggal Jepang.

Sejak sebelum kemerdekaan Ishii sudah bergabung dengan para pejuang Indonesia. Ia desersi dari kesatuan tentara Dai Nippon. Kalau tetap pakai nama Masaharu Ishii bisa bahaya. Tentara Sekutu bisa mengira ia masih tentara Jepang.

Di masa itu Ishii bertugas di Aceh. Tepatnya di Lhokseumawe. Ia baru pindah ke Medan setelah Indonesia merdeka. Lalu ia kawin dengan seorang wanita Tionghoa di sana.

Saya tentu ingin sekali bertemu Ishii. Tapi ia sudah almarhum, tahun 2002 lalu. Makamnya di pemakaman khusus orang Jepang di Kembang Kuning, Surabaya.

"Sebenarnya ayah saya berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tapi keluarga pilih di pemakaman umum saja. Agar lebih mudah untuk mengunjunginya," ujar putra Ishii.

Anak Ishii itu bernama Yanto Soedjatmiko. Begitulah yang tertulis di KTP. Yanto baru menyertakan nama Jepang di dalam paspornya: Yanto Soedjatmiko Hideki Ishii.

Yanto kini seumur dengan saya: 70 tahun. Badannya langsing. Tinggi.

"Ayah Anda juga tinggi seperti Anda ini?" tanya saya.

"Dibanding umumnya orang Jepang saat itu, ayah tergolong tinggi," ujarnya. "Mungkin karena ayah lahir di Hokkaido. Banyak makan ikan," tambahnya.

Di Hokkaido –Jepang paling utara– masih banyak keluarga Ishii. Khususnya di kampung halamannya: Kushiro –lebih ke utara lagi. Ishii lahir 10 bersaudara. Hanya ia yang dikirim perang ke Indonesia.

Saya tahu di mana itu Kushiro. Saya pernah ke sana. Bukan main dinginnya. Dan saljunya. Waktu itu ada pabrik kertas di Kushiro yang sedang dijual. Saya melihatnya, apakah bisa dibeli.

Makanan mereka memang serba ikan. Tentu, selama di sana, saya pun banyak makan ikan. Pun tidak boleh melewatkan makanan khas yang satu ini: kepiting Hokkaido –yang berwarna merah-cerah dan kaki-kakinya sebesar lengan bayi.

Kemarin Yanto mengajak saya keliling pabrik porang yang didirikan ayahnya itu. Anak Yanto, Johan, juga ikut menemani. Badannya lebih tinggi lagi dari bapaknya.

Seperti juga bapaknya, Johan dan 3 saudaranya sekolah di Jepang: di Washeda University, Tokyo. Johan mengambil jurusan teknik industri. Johanlah yang kelihatannya akan meneruskan pabrik itu dari kakek dan ayahnya.

Nama pabriknya: PT Ambico. Johan senang kini tanaman porang begitu semarak. Itu berarti bahan baku untuk pabriknya tercukupi.

PT Ambico memang pernah kesulitan bahan baku. "Saya hampir menyerah. Pabrik ini pernah hampir kami tutup," ujar Yanto. "Tapi ayah saya selalu tidak setuju," ujar Yanto.

Waktu itu tidak ada orang Indonesia yang makan beras atau mie shirataki. Hanya orang Jepang yang suka shirataki. Maka PT Ambico hanya punya satu pasar: Jepang.

"Baru tiga tahun terakhir ini  orang Indonesia mulai makan shirataki," ujar Johan. "Dan kecenderungannya terus meningkat. Kian banyak orang Indonesia yang makan shirataki," tambahnya.

Saya termasuk yang dimaksud Johan itu. Saya tidak menyangka kalau shirataki itu produk Indonesia. Waktu pertama minta untuk dibelikan shirataki, saya bilang kepada istri: belikan shirateke, beras Jepang itu.

Karena itu saya juga tidak mengeluh ketika harga beras shirataki itu mahal sekali: Rp 100.000/kg. Kan harus didatangkan dari Jepang.

Ternyata itu produk PT Ambico di Indonesia. Yang lokasi pabriknya dekat Sidoarjo tapi wilayahnya masuk Kabupaten Pasuruan.

Johan sendiri tidak menyangka shirataki akhirnya laku di Indonesia. Apalagi pasar domestik shirateke itu terus meningkat. "Sekarang ini, jumlah permintaan dalam negeri sudah sama dengan ekspor," ujar Johan.

Karena itu Johan –sebagai generasi ketiga keluarga Ishii– ingin mengembangkan brand sendiri. Ia sudah memilih nama merek yang akan ia kembangkan: Mr Ishii. Yang diambil dari nama marganya. Dengan nama itu pasar pun akan tetap mengira bahwa shirataki Mr Ishii impor dari Jepang.

Selama ini shirataki yang ada di pasaran belum menggunakan merek itu. "Kami baru bisa melayani permintaan pembeli besar. Mereka yang membungkus menjadi kecil-kecil dengan merek masing-masing," kata Johan.

Tentu saya memerlukan pendapat Johan dan ayahnya. Apa pandangan tentang perkembangan porang yang luar biasa belakangan ini. Apa yang harus dilakukan petani –agar tidak mereka tidak terpuruk.

Lalu bagaimana kakeknya yang asli Jepang itu menemukan porang di Indonesia 70 tahun yang silam. (Bersambung)

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya