Berita

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian/Net

Dunia

Zhao Lijian: Sanksi Uni Eropa Pada China Justru Menunjukkan Mereka Terlibat Manipulasi Politik

SABTU, 20 MARET 2021 | 06:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian angkat bicara terkait pemberlakuan sanksi terbaru Uni Eropa terhadap sejumlah pejabat dan entitas China terkait tudingan masalah hak asasi manusia di Xinjiang.

Dalam konferensi pers harian, Zhao mengatakan bahwa ada fakta yang tidak dapat disangkal bahwa Xinjiang menikmati stabilitas sosial. Rakyatnya hidup dan bekerja dalam damai dan kepuasan, terselenggaranya persatuan dan kerukunan etnis, hak untuk hidup layak, mendapat fasilitas kesehatan, pembangunan, dan hak-hak dasar masyarakat dari semua kelompok etnis dilindungi secara efektif.

"Adanya kerja paksa, sterilisasi paksa dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya di Xinjiang adalah kebohongan terang-terangan yang sengaja dibuat-buat dan disebarkan oleh beberapa yang disebut sarjana dan institusi dengan motif tersembunyi," kata Zhao, seperti dikutip dari Global Times, Jumat (19/3).


Tekad China untuk melindungi kedaulatan nasional dan kepentingan keamanan dan pembangunannya tidak tergoyahkan, ujar Zhao.

Jika UE memberi sanksi hanya berdasarkan kebohongan yang dibuat oleh beberapa kekuatan anti-China, itu hanya akan menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam manipulasi politik. China akan membuat tanggapan yang tegas terkait hal ini.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa sanksi yang dijatuhkan UE terhadap China menandakan garis yang mengeras dan lebih kompleks ke arah China.

Feng Zhongping, direktur Institut Studi Eropa di Institut Hubungan Internasional Kontemporer China, mengatakan bahwa China tidak akan tinggal diam dan akan mengeluarkan tindakan balasan terhadap para pejabat yang mendorong sanksi tersebut.  

"Beberapa politisi Uni Eropa, yang tidak mengetahui Xinjiang yang sebenarnya, menggunakan hak asasi manusia sebagai alasan untuk ikut campur dalam urusan dalam negeri China," kata Feng.

Direktur institut hubungan internasional di Universitas Renmin China, Wang Yiwei, menyebut bahwa sanksi itu menunjukkan bahwa Uni Eropa ingin menggarisbawahi pengaruh globalnya dengan menggunakan mekanisme sanksi hukum.

"Sikap yang lebih keras terhadap China dapat dilihat dengan memenangkan politisi anti-China di dalam UE," kata Wang Yiwei.

"AS ingin membatalkan perjanjian investasi UE-China, tetapi China dan Eropa yang menekankan otonomi strategis akan tertarik untuk mendorong agenda mereka sendiri yang pada dasarnya sesuai dengan kepentingan mereka," lanjutnya.

Pada Rabu (17/3), duta besar UE menyetujui larangan perjalanan dan pembekuan aset pada empat pejabat Tiongkok dan satu entitas atas masalah Xinjiang. Ini adalah sanksi pertama blok tersebut terhadap Tiongkok dalam tiga dekade.

Mereka juga akan segera mempublikasikan daftar nama yang disanksi setelah mendapat persetujuan resmi oleh menteri luar negeri UE pada 22 Maret mendatang.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Rakornas BEM KSI Bawa Misi Besar

Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:08

BNPB Catat 8 Provinsi Terjadi Karhutla Selama 2 Hari, Wilayah IKN Jadi Prioritas

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:52

Menkop Dorong Anak Muda Malang Bentuk Koperasi untuk Perkuat Usaha

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:51

Gus Yaqut Seret Pemerintah Arab Saudi demi Bantah Dakwaan KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:48

Kinerja Menhut Atasi Karhutla Dipertanyakan, Hukum Cuma Tajam ke Bawah?

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:34

BRI Group Kelola Ekosistem Emas 153 Ton melalui Ekosistem Ultra Mikro

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:23

Belajar dari Kehancuran Harappa

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:09

Pertarungan Para King Maker dan Super-Konektor Belakang Layar Pilpres 2029

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:29

Petinggi PT Pakuwon Jati Diperiksa KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:28

Semua Elemen Masyarakat Harus Jaga Jakarta Tetap Kondusif

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:05

Selengkapnya